<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4254596231959459245</id><updated>2011-08-06T01:19:21.208+07:00</updated><title type='text'>KINAN</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://kerudungkinan.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4254596231959459245/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kerudungkinan.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>kerudung kinan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>32</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4254596231959459245.post-8530743093616314320</id><published>2009-08-24T08:19:00.005+07:00</published><updated>2011-08-05T13:51:16.522+07:00</updated><title type='text'>Situs baru KINAN</title><content type='html'>Assalamualaikum Wr.wb&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;untuk selanjutnya informasi perihal BAJU dan KERUDUNG KINAN bisa di lihat di &lt;a href="http://bajukinan.co.cc/"&gt;http://bajukinan.co.cc&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalam&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4254596231959459245-8530743093616314320?l=kerudungkinan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://bajukinan.co.cc' title='Situs baru KINAN'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4254596231959459245/posts/default/8530743093616314320'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4254596231959459245/posts/default/8530743093616314320'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kerudungkinan.blogspot.com/2009/08/situs-baru-baju-dan-kerudung-kinan.html' title='Situs baru KINAN'/><author><name>kerudung kinan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4254596231959459245.post-648639481041446546</id><published>2009-05-11T07:39:00.000+07:00</published><updated>2009-05-11T07:42:02.039+07:00</updated><title type='text'>Inilah Hikmah Di Balik Cobaan yang Belum Engkau Tahu</title><content type='html'>Saudaraku yang semoga dirahmati oleh Allah …Ketahuilah … Allah Ta’ala akan menguji setiap hamba-Nya dengan berbagai musibah, dengan berbagai hal yang tidak mereka sukai, juga Allah akan menguji mereka dengan musuh mereka dari orang-orang kafir dan orang-orang munafiq. Ini semua membutuhkan kesabaran, tidak putus asa dari rahmat Allah dan tetap konsisten dalam beragama. Hendaknya setiap orang tidak tergoyahkan dengan berbagai cobaan yang ada, tidak pasrah begitu saja terhadap cobaan tersebut, bahkan setiap hamba hendaklah tetap komitmen dalam agamanya. Hendaknya setiap hamba bersabar terhadap rasa capek yang mereka emban ketika berjalan dalam agama ini.Sikap seperti di atas sangat berbeda dengan orang-orang yang ketika mendapat ujian merasa tidak sabar, marah, dan putus asa dari rahmat Allah. Sikap seperti ini malah akan membuat mereka mendapat musibah demi musibah.Renungkanlah …Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ“Sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum maka Dia akan menguji mereka. Barang siapa yang ridho (terhadap ujian tersebut) maka baginya ridho Allah dan barang siapa yang marah (terhadap ujian tersebut) maka baginya murka-Nya.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah At Tirmidzi berkata bahwa hadits ini Hasan Ghorib)Dari Mush’ab bin Sa’id (seorang tabi’in) dari ayahnya berkata,يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً“Wahai Rasulullah, siapakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,« الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ »“Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka dia akan mendapat ujian begitu kuat. Apabila agamanya lemah, maka dia akan diuji sesuai dengan agamanya. Senantiasa seorang hamba akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di bumi dalam keadaan bersih dari dosa.” (HR. Tirmidzi. At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shohih)Semoga kita yang sedang mendapat ujian atau musibah merenungkan hadits-hadits di atas. Sungguh ada sesuatu yang tidak kita ketahui di balik musibah tersebut. Maka bersabarlah dan berusahalah ridho dengan taqdir ilahi. Sesungguhnya para Nabi dan orang sholeh dahulu juga telah mendapatkan musibah sebagaimana yang kita peroleh. Lalu kenapa kita harus bersedih, mengeluh dan marah? Bahkan orang sholeh dahulu -sesuai dengan tingkatan keimanan mereka-, mereka malah memperoleh ujian lebih berat. Cobalah kita perhatikan perkataan ulama berikut.Al Munawi mengatakan,“Barangsiapa yang menyangka bahwa apabila seorang hamba ditimpa ujian yang berat, itu adalah suatu kehinaan; maka sungguh akalnya telah hilang dan hatinya telah buta (tertutupi). Betapa banyak orang sholih (ulama besar) yang mendapatkan berbagai ujian yang menyulitkan. Tidakkah kita melihat mengenai kisah disembelihnya Nabi Allah Yahya bin Zakariya, terbunuhnya tiga Khulafa’ur Rosyidin, terbunuhnya Al Husain, Ibnu Zubair dan Ibnu Jabir. Begitu juga tidakkah kita perhatikan kisah Abu Hanifah yang dipenjara sehingga mati di dalam buih, Imam Malik yang dibuat telanjang kemudian dicambuk dan tangannya ditarik sehingga lepaslah bahunya, begitu juga kisah Imam Ahmad yang disiksa hingga pingsan dan kulitnya disayat dalam keadaan hidup. … Dan masih banyak kisah lainnya.” (Faidhul Qodhir Syarh Al Jami’ Ash Shogir, 1/518, Asy Syamilah)Semoga kita termasuk orang-orang yang bersabar ketika menghadapi musibah, baik dengan hati lisan atau pun anggota badan. Ya Allah, jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang selalu ridho dengan taqdir-Mu.Sumber Rujukan Utama : Syarh Qowa’idil Arba‘, Syaikh Sholih bin ‘Abdillah Al Fauzan***oleh : Muhammad Abduh Tuasikal&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4254596231959459245-648639481041446546?l=kerudungkinan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4254596231959459245/posts/default/648639481041446546'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4254596231959459245/posts/default/648639481041446546'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kerudungkinan.blogspot.com/2009/05/inilah-hikmah-di-balik-cobaan-yang.html' title='Inilah Hikmah Di Balik Cobaan yang Belum Engkau Tahu'/><author><name>kerudung kinan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4254596231959459245.post-3907594212309146729</id><published>2009-04-07T09:22:00.001+07:00</published><updated>2009-04-07T09:26:53.254+07:00</updated><title type='text'>10 Pintu Setan dalam Menyesatkan Manusia</title><content type='html'>&lt;a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1373521513"&gt;Muhammad Abduh Tuasikal&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku, ketahuilah bahwa hati adalah ibarat sebuah benteng. Setan sebagai musuh kita selalu ingin memasuki benteng tersebut. Setan senantiasa ingin memiliki dan menguasai benteng itu. Tidak mungkin benteng tersebut bisa terjaga selain adanya penjagaan yang ketat pada pintu-pintunya. Pintu-pintu tersebut tidak bisa terjaga kecuali jika seseorang mengetahui pintu-pintu tadi. Setan tidak bisa terusir dari pintu tersebut kecuali jika seseorang mengetahui cara setan memasukinya. Cara setan untuk masuk dan apa saja pintu-pintu tadi adalah sifat seorang hamba dan jumlahnya amatlah banyak. Pada saat ini kami akan menunjukkan pintu-pintu tersebut yang merupakan pintu terbesar yang setan biasa memasukinya. Semoga Allah memberikan kita pemahaman dalam permasalah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pintu pertama:&lt;br /&gt;Ini adalah pintu terbesar yang akan dimasuki setan yaitu hasad (dengki) dan tamak. Jika seseorang begitu tamak pada sesuatu, ketamakan tersebut akan membutakan, membuat tuli dan menggelapkan cahaya kebenaran, sehingga orang seperti ini tidak lagi mengenal jalan masuknya setan. Begitu pula jika seseorang memiliki sifat hasad, setan akan menghias-hiasi sesuatu seolah-olah menjadi baik sehingga disukai oleh syahwat padahal hal tersebut adalah sesuatu yang mungkar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pintu kedua:&lt;br /&gt;Ini juga adalah pintu terbesar yaitu marah. Ketahuilah, marah dapat merusak akal. Jika akal lemah, pada saat ini tentara setan akan melakukan serangan dan mereka akan menertawakan manusia. Jika kondisi kita seperti ini, minta perlindunganlah pada Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إذا غضب الرجل فقال : أعوذ بالله سكن غضبه“Jika seseorang marah, lalu dia mengatakan: a’udzu billah (aku berlindung pada Allah), maka akan redamlah marahnya.” (As Silsilah Ash Shohihah no. 1376. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pintu ketiga:&lt;br /&gt;Yaitu sangat suka menghias-hiasi tempat tinggal, pakaian dan segala perabot yang ada. Orang seperti ini sungguh akan sangat merugi karena umurnya hanya dihabiskan untuk tujuan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pintu keempat:&lt;br /&gt;Yaitu kenyang karena telah menyantap banyak makanan. Keadaan seperti ini akan menguatkan syahwat dan melemahkan untuk melakukan ketaatan pada Allah. Kerugian lainnya akan dia dapatkan di akhirat sebagaimana dalam hadits:فَإِنَّ أَكْثَرَهُمْ شِبَعًا فِى الدُّنْيَا أَطْوَلُهُمْ جُوعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ“Sesungguhnya orang yang lebih sering kenyang di dunia, dialah yang akan sering lapar di hari kiamat nanti.” (HR. Tirmidzi. Dalam As Silsilah Ash Shohihah, Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pintu kelima:&lt;br /&gt;Yaitu tamak pada orang lain. Jika seseorang memiliki sifat seperti ini, maka dia akan berlebih-lebihan memuji orang tersebut padahal orang itu tidak memiliki sifat seperti yang ada pada pujiannya. Akhirnya, dia akan mencari muka di hadapannya, tidak mau memerintahkan orang yang disanjung tadi pada kebajikan dan tidak mau melarangnya dari kemungkaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pinta keenam:&lt;br /&gt;Yaitu sifat selalu tergesa-gesa dan tidak mau bersabar untuk perlahan-lahan. Padahal terdapat sebuah hadits dari Anas, di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,التَّأَنيِّ مِنَ اللهِ وَ العُجْلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ“Sifat perlahan-lahan (sabar) berasal dari Allah. Sedangkan sifat ingin tergesa-gesa itu berasal dari setan.” (Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Ya’la dalam musnadnya dan Baihaqi dalam Sunanul Qubro. Syaikh Al Albani dalam Al Jami’ Ash Shoghir mengatakan bahwa hadits ini hasan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pintu ketujuh:&lt;br /&gt;Yaitu cinta harta. Sifat seperti ini akan membuat berusaha mencari harta bagaimana pun caranya. Sifat ini akan membuat seseorang menjadi bakhil (kikir), takut miskin dan tidak mau melakukan kewajiban yang berkaitan dengan harta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pintu kedelapan:&lt;br /&gt;Yaitu mengajak orang awam supaya ta’ashub (fanatik) pada madzhab atau golongan tertentu, tidak mau beramal selain dari yang diajarkan dalam madzhab atau golongannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pintu kesembilan:&lt;br /&gt;Yaitu mengajak orang awam untuk memikirkan hakekat (kaifiyah) dzat dan sifat Allah yang sulit digapai oleh akal mereka sehingga membuat mereka menjadi ragu dalam masalah paling urgen dalam agama ini yaitu masalah aqidah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pintu kesepuluh:&lt;br /&gt;Yaitu selalu berburuk sangka terhadap muslim lainnya. Jika seseorang selalu berburuk sangka (bersu’uzhon) pada muslim lainnya, pasti dia akan selalu merendahkannya dan selalu merasa lebih baik darinya. Seharusnya seorang mukmin selalu mencari udzur dari saudaranya. Berbeda dengan orang munafik yang selalu mencari-cari ‘aib orang lain.Semoga kita dapat mengetahui pintu-pintu ini dan semoga kita diberi taufik oleh Allah untuk menjauhinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rujukan: Mukhtashor Minhajul Qoshidin, Ibnu Qudamah Al MaqdisiyPangukan, Sleman, 18 Muharram 1430 H Yang selalu mengharapkan ampunan dan rahmat RabbnyaMuhammad Abduh Tuasikal, ST&lt;br /&gt;Kunjungi: &lt;a onmousedown="'UntrustedLink.bootstrap($(this)," href="http://rumaysho.wordpress.com/" target="_blank" rel="nofollow"&gt;http://rumaysho.wordpress.com&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4254596231959459245-3907594212309146729?l=kerudungkinan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4254596231959459245/posts/default/3907594212309146729'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4254596231959459245/posts/default/3907594212309146729'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kerudungkinan.blogspot.com/2009/04/10-pintu-setan-dalam-menyesatkan.html' title='10 Pintu Setan dalam Menyesatkan Manusia'/><author><name>kerudung kinan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4254596231959459245.post-7108707442734653053</id><published>2009-03-26T12:35:00.000+07:00</published><updated>2009-03-31T16:45:44.137+07:00</updated><title type='text'>Ketika Musibah Datang</title><content type='html'>&lt;table class="contentpaneopen"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top" colspan="2"&gt;Sesungguhnya sudah menjadi sunnatullah dalam kehidupan kita bahwa Allah &lt;i&gt;Subhanahu wa Ta'ala&lt;/i&gt; akan menguji setiap hamba-hamba-Nya dengan berbagai macam cobaan/ujian seperti adanya rasa takut, kekurangan akan harta benda, baik itu sandang maupun pangan, kehilangan orang yang kita cintai dan berpisah dengannya seoerti halnya seorang suami berpisah dengan istrinya, bapak berpisah dengan anaknya, gempa, banjir dan lain sebagainya. Adanya ujian/musibah tersebut sebenarnya bukanlah sesuatu yang asing bagi syari'at kita dan bukanlah suatu hal yang aneh karena semuanya telah dijelaskan oleh Allah &lt;i&gt;Subhanahu wa Ta'ala&lt;/i&gt; dalam al-Qurân yaitu:&lt;br /&gt;"Sungguh akan Kami uji kalian dengan adanya rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan kekurangan buah-buahan dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan; &lt;i&gt;Innaa lillahi wa innaa ilaihi rooji'un&lt;/i&gt;. &lt;b&gt;(QS. al-Baqarah: 155-156)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah &lt;i&gt;Subhanahu wa Ta'ala&lt;/i&gt; timpakan kepada kita ujian ataupun musibah bukan berarti Allah Subhanahu wa Ta'ala benci kepada kita, bahkan menunjukkan Allah &lt;i&gt;'Azza wa Jalla&lt;/i&gt; sayang kepada kita, sebagaimana yang dijelaskan dalam sebuah hadits shahih dari Anas ibnu Malik radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu 'alaihi wa sallam&lt;/i&gt; bersabda;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Besarnya pahala tergantung besarnya ujian dan sesungguhnya apabila Allah menyenangi suatu kaum, Dia mengujinya. Barangsiap ridho maka Allahpun ridho, dan barangsiapa yang marah, maka Dia Marah." &lt;b&gt;(HR. Shahih Ibnu Majah 2/373)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat yang lain,"Apabila Allah menginginkan kebaikan pada diri seorang hamba, maka Allah datangkan ujian kepada hamba tersebut." &lt;b&gt;(HR. Bukhari)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksud dari hadits di atas adalah apabila Allah &lt;b&gt;'Azza wa Jalla&lt;/b&gt; menginginkan kebaikan pada diri seorang hamba maka Allah &lt;i&gt;Subhanahu wa Ta'ala&lt;/i&gt; akan uji mereka terlebih dahulu yaitu dengan menurunkan musibah dengan syarat mereka sabar dan mengharapkan ridho Allah &lt;i&gt;Subhanahu wa Ta'ala&lt;/i&gt;. Adapun jika ia tidak sabar maka tidak ada kebaikan terhadapnya dan Allah &lt;i&gt;Subhanahu wa Ta'ala&lt;/i&gt; juga tidak menginginkan baginya kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga Allah &lt;i&gt;Subhanahu wa Ta'ala&lt;/i&gt; akan menguji para hambanya agar terlihat jelas siapa diantara hamba-hamba-Nya yang beriman dan siapa yang dusta dalam keimanan, siapa diantara mereka yang bersyukur dan siapa yang kufur, juga siapa yang sabar dan yang tidak sabar, sebagaimana Allah &lt;i&gt;Ta'ala&lt;/i&gt; katakan dalam al-Qurân;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan begitu saja ketika mereka mendakwakan diri mereka (kami telah beriman), sedangkan mereka belum diuji. Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar imannya dan siapa yang dusta." &lt;b&gt;(QS. al-Ankabuut: 2-3)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sikap Kita Sebagai Seorang Muslim dalam Menghadapi Musibah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua bentuk sikap seorang muslim yang wajib diperhatikan dalam menghadapi musibah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;A. Sikap Ketika Musibah Itu Belum Terjadi.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan diantaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kapan akan terjadinya suatu musibah adalah suatu perkara yang ghaib, yang mengetahuinya hanyalah Allah 'Azza wa Jalla.&lt;br /&gt;Siapapun tidak akan bisa meramal tentang apa-apa yang akan terjadi besok secara pasti, karena ilmu pengetahuan mengenai hal itu hanya milik Allah &lt;i&gt;'Azza wa Jalla&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;Sebagai contoh yang jelas dan gamblang bagi kita adalah seorang yang mengalami kecelakan kendaraan di hari Senin apakah ia bisa mengetahui sehari sebelumnya terjadi kecelakaan tersebut. &lt;b&gt;Jawabannya tentulah tidak !!&lt;/b&gt; Jangankan untuk perhitungan perhari, hitungan perjam pun manusia tidak akan bisa memprediksi apa yang akan terjadi setelahnya.&lt;br /&gt;Bahkan di dalam al-Qurân Allah &lt;i&gt;Subhanahu wa Ta'ala&lt;/i&gt; telah membantah ramalan-ramalan orang-orang tentang kejadian hari esok, tentang tempat dimana seseorang akan mati, dan apa yang ada dalam rahim manusia yaitu;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya hanya di sisi Allah pengetahuan tentang hari kiamat dan Dialah yang menurunkan hujan dan di sisi-Nyalah ilmunya dan mengetahui apa yang ada di dalam rahim manusia dan tiada seorangpun yang bisa mengetahui apa yang akan ia usahakan besok dan tidak seorangpun bisa mengetahui di bumi mana ia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." &lt;b&gt;(QS. Luqman: 24)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sungguh kita merasa sangat prihatin dengan kondisi kaum muslimin sekarang ini, mereka lebih percaya kepada ramalan-ramalan manusia dan isu-isu yang disebarkan manusia dibandingkan dengan keyakinannya tehadap ajaran agama mereka sendiri yaitu agama Islam.&lt;br /&gt;Sebagian kaum muslimin telah diperbodoh dengan isu yang baru-baru ini tersebar dari salah seorang yang mengaku sebagai Profesor dari Brazil dimana ia mengatakan bahwa akan terjadi gempa besar dengan skala sekitar 9 SR di pantai barat pulau Sumatera (Mentawai) dan ini akan terjadi pada tanggal 23 Desember 2007 dan akan diikuti dengan gelombang tsunami.&lt;br /&gt;Ternyata ramalan itu telah membuat resah sebagian kaum muslimin yang tinggal di kota Padang terutama daerah-daerah pesisir pantai. Sehingga akhirnya mereka terprovokasi dengan isu tersebut dan pergi meninggalkan kota Padang, atau pergi pulang kampung dan ada diantaranya menjual rumahnya hanya gara-gara isu dan sebuah mimpi. Bahkan disebutkan juga bahwa ada salah seorang kepala daerah di Bengkulu yang ikut terprovokasi dengan isu ini sampai berencana mengevakuasi masyarakat sebelum tanggal 23 Desember 2007. &lt;i&gt;Na'udzubillahi min dzalik&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;Dimanakah keimanan kita ? Dimanakah aqidah kita sebagai seorang yang mengaku sebagai seorang muslim ? sehingga mudah terpedaya dengan isu murahan yang hanya bersumber dari mimpi si Profesor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Menyadari tentang hakikat hidup sesungguhnya&lt;br /&gt;Tujuan penciptaan kita di muka bumi hanyalah untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala sebagaimana firman Allah Ta'ala di dalam al-Quran:&lt;br /&gt;"Dan tiadalah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku." &lt;b&gt;(QS. Adz-Dzariyaat: 56)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Memperbaiki aqidah kita yaitu dengan menjauhi setiap perbuatan syirik dengan memurnikan ibadah kita hanya untuk Allah &lt;i&gt;Subhanahu wa Ta'ala&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;Sebagaimana Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; pernah bersabda kepada Mu'adz bin Jabal &lt;i&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/i&gt;, Hai Mu'adz tahukah kamu apa hak Allah yang wajib dipenuhi oleh para hamba-Nya dan apa hak para hamba yang pasti dipenuhi oleh Allah ? Mu'adz menjawab Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui. Nabi pun bersabda; hak Allah yang wajib dipenuhi oleh para hamba-Nya ialah supaya mereka beribadah kepada-Nya saja dan tidak berbuat syirik sedikitpun kepada-Nya, sedangkan hak para hamba yang pasti dipenuhi oleh Allah adalah bahwa Allah tidak akan menyiksa orang yang tidak berbuat syirik sedikitpun kepada-Nya." &lt;b&gt;(HR. Bukhari dan Muslim dalam kitab shahih mereka)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya hidup tidak terlepas dari yang namanya ujian. Setiap jiwa, setiap diri kita pasti akan diuji dengan berbagai macam bentuk ujian dan berbagai bentuk permasalahan. sehingga kita tidak perlu merasa takut akan kehidupan ini karena hidup adalah ujian itu sendiri. Allah &lt;i&gt;Ta'ala&lt;/i&gt; berfirman:&lt;br /&gt;"Sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar diantara kamu, dan agar Kami menyatakan baik-buruknya hal ihwalmu&lt;b&gt;." (QS. Muhammad: 31)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam ayat yang lain Allah &lt;i&gt;Subhanahu wa Ta'ala&lt;/i&gt; berfirman:&lt;br /&gt;"Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran)." &lt;b&gt;(QS. al-A'rof: 168)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Memperbanyak bekal amal ibadah dan keta'atan kepada Allah &lt;i&gt;Subhanahu wa Ta'ala&lt;/i&gt; sebelum ajal menjemput.&lt;br /&gt;Bekal kita sebelum ajal menjemput kita adalah dengan memperbaiki amal perbuatan kita, memperbaiki tata cara/sistem mua'malah kita, memperbaiki ibadah setelah sebelumnya bertaubat dari setiap kesalahan dan dosa yang pernah kita lakukan dengan cara melepaskan diri dari ma'shiyat dan menyesalinya karena telah melakukan perbuatan dosa lalu bertekad untuk tidak mengulanginya kembali. Setelah itu, mari kita memperbanyak amal ibadah dan semakin rajin melaksanakan keta'atan kepada Allah &lt;i&gt;Subhanahu wa Ta'ala&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;Allah &lt;i&gt;Subhanahu wa Ta'ala &lt;/i&gt;berfirman: "Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat." &lt;b&gt;(QS. Hud: 114)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Selain itu kita juga dianjurkan untuk memperbanyak istighfar kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, karena Rasulullah &lt;i&gt;shallahu ‘alaihi wa sallam &lt;/i&gt;bersabda:&lt;br /&gt;"Wahai manusia, bertaubatlah kepada Allah. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Allah dalam sehari seratus kali." &lt;b&gt;(HR. Muslim, no. 6799)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Bertawakal kepada Allah &lt;i&gt;Subhanahu wa Ta'ala&lt;/i&gt; dan berserah diri kepada-Nya.&lt;br /&gt;Allah &lt;i&gt;Ta'ala&lt;/i&gt; berfirman: "Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah cukupkan keperluannya." &lt;b&gt;(QS. at-Thalaq: 3)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Menjauhi perbuatan dosa dan ma'shiyat karena penyebab terbesar datangnya suatu musibah adalah ketika kaum muslimin telah bergelimang dengan dosa dan ma'shiyat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;B. Sikap Ketika Musibah Itu Datang.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping hal yang telah disebutkan di atas maka ada beberapa hal yang perlu kita tambahkan yaitu:&lt;br /&gt;1. Mengimani bahwasanya apapun bentuk musibah yang menimpa seseorang, semuanya telah ditetapkan oleh Allah &lt;i&gt;Subhanahu wa Ta'ala&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Allah &lt;i&gt;Subhanahu wa Ta'ala&lt;/i&gt; berfirman; "Tiada satupun bencana yang menimpa di bumi dan tidak pula pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh al-Mahfuz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah perkara yang mudah bagi Allah." (&lt;b&gt;QS. al-Hadiid: 22)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Bersabar dalam menghadapi musibah tersebut.&lt;br /&gt;Orang yang sabar dalam menghadapi musibah maka dia akan menahan dirinya dari kemurkaan dan kemarahan baik itu dalam bentuk perbuatan maupun perkataan. Ia akan mengharapkan pahala dari sisi Allah &lt;i&gt;'Azza wa Jalla&lt;/i&gt; dan menyadari bahwa nikmat yang telah Allah &lt;i&gt;Subhanahu wa Ta'ala&lt;/i&gt; karuniakan lebih luas dibandingkan dengan musibah yang ia dapatkan. Orang yang sabar baginya bantuan dari Allah &lt;i&gt;Subhanahu wa Ta'ala&lt;/i&gt;, menolongnya dan memberikan pahala baginya tanpa hisab.&lt;br /&gt;Dari Suhaib &lt;i&gt;radhiyallahu'anhu&lt;/i&gt;, Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; bersabda; "Amat menakjubkan keadaan orang yang beriman karena semua urusannya baik, dan tidaklah dapat meraihnya melainkan orang yang beriman. Jika ia mendapatkan kegembiraan dia bersyukur dan hal itu baik bagi. Dan jika ia ditimpa musibah dia bersabar, maka itu baik baginya". &lt;b&gt;(HR. Muslim 5318)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Beriman kepada qadha dan qadhar dari Allah &lt;i&gt;Subhanahu wa Ta'ala.&lt;/i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan dalam &lt;b&gt;Musnad &lt;/b&gt;dan &lt;b&gt;Sunan&lt;/b&gt; dari Ibnu Dailami, ia menuturkan, Aku datang kepada Ubay bin Ka'ab &lt;i&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/i&gt; dan kukatakan kepadanya, ada suatu keraguan dalam diriku tentang masalah qadar, maka tuturkanlah kepadaku suatu hadits dengan harapan semoga Allah menghilangkan keraguan itu di hatiku. Maka ia (Ubay bin Ka'ab) berkata, "Seandainya kamu menginfaqkan emas sebesar gunung uhud, Allah tidak akan menerimanya darimu sebelum engkau beriman kepada qadar, dan kamu meyakini bahwa apa yang telah ditaqdirkan mengenai dirimu pasti tidak akan meleset dan apa yang tidak mengenai dirimu pasti tidak akan menimpamu. Sedangkan kalau kamu mati tidak dalam keyakinan ini pasti kamu akan menjadi penghuni neraka".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Ibnu ad-Dailami selanjutnya, lalu akupun mendatangi Abdullah bin Mas'ud, Hudzaifah bin Yaman dan Zaid bin Tsabit, seluruhnya menuturkan kepadaku hadits tersebut dari Nabi &lt;i&gt;shallallahu' alaihi wa sallam&lt;/i&gt;. &lt;b&gt;(Hadits shahih, diriwayatkan pula oleh al-Hakim dalam Shahihnya&amp;shy;)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Selalu optimis di dalam hidup dan tidak pernah berputus asa dari rahmat Allah &lt;i&gt;Subhanahu wa Ta'ala&lt;/i&gt; sebagaimana firman Allah &lt;i&gt;Ta'ala&lt;/i&gt;;&lt;br /&gt;"tidak ada orang yang berputus asa dari Rahmat Rabbnya kecuali orang yang sesat." &lt;b&gt;(QS. al-Hijr: 56)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Bekali diri dengan ilmu dan amal, karena dengan ilmu dan amal akan mengantarkan seseorang kepada kesabaran dan membawa seorang muslim kepada keta'atan dan mengantarkan seorang Muslim kepada surga milik Allah &lt;i&gt;Subhanahu wa Ta'ala&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Bersegeralah kepada ampunan Allah &lt;i&gt;Subhanahu wa Ta'ala&lt;/i&gt; dan tidak menunda-nundanya.&lt;br /&gt;Allah &lt;i&gt;Subhanahu wa Ta'ala&lt;/i&gt; berfirman;&lt;br /&gt;"Dan bersegeralah kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa." &lt;b&gt;(QS. Ali 'Imran: 133)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Mengambil ibrah dari kisah-kisah orang-orang yang terdahulu seperti para Nabi, para shahabat Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu 'alaihi wa sallam&lt;/i&gt;, taabi'in dan orang-orang yang shaleh yang mengikuti mereka.&lt;br /&gt;Kesabaran mereka dalam menghadapi ujian patut kita jadikan tauladan, seperti kisah Nabi Nuh &lt;i&gt;'alaihissalaam&lt;/i&gt; menghadapi kaumnya dan keluarganya, kisah Nabi Ibrahim &lt;i&gt;'alaihissalaam&lt;/i&gt; dalam mendakwahi bapaknya, kesabaran Nabi Ismail &lt;i&gt;'alaihissalaam&lt;/i&gt; ketika datangnya perintah untuk menyembelihnya, kisah Nabi Yusuf &lt;i&gt;'alaihissalaam&lt;/i&gt;, azab yang Allah &lt;i&gt;Subhanahu wa Ta'ala&lt;/i&gt; timpakan kepada umat Nabi Nuh &lt;i&gt;'alaihissalaam&lt;/i&gt; yang telah mendurhakainya, Kaum 'Ad dan Tsamud, Fir'aun dan bala tentaranya yang ditenggelamkan karena durhaka kepada Allah &lt;i&gt;'Azza wa Jalla&lt;/i&gt;. Semua kisah di atas pantas untuk kita jadikan ibrah dalam kehidupan kita dalam menghadapi musibah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Penyebab terjadinya bencana&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini dijelaskan dalam banyak hadits, diantaranya hadits dari Abdullah bin Umar &lt;i&gt;radhiyallahu ‘anhuma&lt;/i&gt;, bahwa Nabi Muhammad &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; bersabda;&lt;br /&gt;"Hai orang-orang Muhajirin; lima perkara, jika kamu ditimpa lima perkara ini, aku mohon perlindungan kepada Allah agar kamu tidak mendapatkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Tidaklah muncul perbuatan keji (seperti bakhil, zina, minum khamar, judi, merampok, dan lainnya) pada suatu masyarakat, sehingga mereka melakukannya terang-terangan, niscaya akan tersebar penyakit-penyakit lainnya yang tidak ada pada orang-orang sebelum mereka.&lt;br /&gt;- Tidaklah orang-orang yang mengurangi takaran dan timbangan, kecuali mereka akan disiksa dengan paceklik, kehidupan yang susah, dan kezholiman pemerintah.&lt;br /&gt;- Tidaklah orang-orang yang menahan zakat hartanya, kecuali hujan akan ditahan dari mereka. Seandainya bukan karena hewan-hewan, manusia tidak akan diberi hujan.&lt;br /&gt;- Tidaklah orang-orang yang membatalkan janji mereka terhadap Allah dan perjanjian Rasul-Nya kecuali Allah akan jadikan musuh selain mereka (orang-orang kafir) menguasai mereka dan merampas sebagian yang ada di tangan mereka.&lt;br /&gt;- Dan selama pemimpin-pemimpin (negara, masyarakat) tidak berhukum dengan kitab Allah dan memilih-milih sebagian apa yang Allah turunkan, kecuali Allah menjadikan permusuhan yang keras diantara mereka." &lt;b&gt;(HR. Ibnu Majah, no. 4019, al-Bazaar, al-Baihaqi dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam ash-Shahihah no. 106, Shahih at-Targhib wa at-Tarhib no. 764)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya sebab yang telah menjerumuskan umat ini ke dalam belitan bencana dan ujian ini sangat banyak dan beragam. Akan tetapi semuanya bermuara pada dua bahaya besar yang telah menimpa agama umat ini, petunjuk bagi umat dalam menangani urusan mereka yaitu &lt;b&gt;kebodohan&lt;/b&gt; karena tidak mengerti dengan din (agama) dan &lt;b&gt;tidak mengetahui syari'at Rabbul ‘Alamin&lt;/b&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kitab hadits shahihain dari shahabat Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash &lt;i&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/i&gt; dia berkata bahwa Rasulullah &lt;i&gt;shallalllahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; bersabda; "Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu (dari manusia) secara langsung, tetapi Dia mencabut ilmu dengan mematikan ulama. Sehingga ketika Allah tidak menyisakan seorang ‘alimpun, orang-orang mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh, lalu orang-orang bertanya kepada mereka, lalu mereka berfatwa tanpa ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan." &lt;b&gt;(HR. Bukhari, no. 100)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah &lt;i&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/i&gt; ia berkata bahwa Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;&lt;/i&gt; "Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang menipu, orang yang berdusta dibenarkan, orang yang benar didustakan, orang yang berkhianat diberi amanat, orang yang amanah dianggap berkhianat dan &lt;b&gt;Ruwaibidhoh&lt;/b&gt; akan berbicara pada masa itu. Beliau &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa salla&lt;/i&gt;m ditanya: Apakah &lt;b&gt;Ruwaibidhoh&lt;/b&gt; ? Beliau menjawab, &lt;i&gt;seorang yang hina lagi bodoh (berbicara tentang) urusan orang banyak&lt;/i&gt;." &lt;b&gt;(HR. Ibnu Majah, no. 4036. dishahihkan oleh Syaikh al-Albani)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka sudah menjadi kewajiban bagi kita sebagai seorang muslim untuk menuntut ilmu yaitu ilmu tentang syari'at agama Islam agar tidak ikut terombang-ambing oleh gelombang kehidupan dunia ini sebagaimana sabda Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt;; "Menuntut ilmu merupakan kewajiban atas setiap muslim."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oleh : Abu Afifah Faishal Abdurrahman, Lc&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4254596231959459245-7108707442734653053?l=kerudungkinan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4254596231959459245/posts/default/7108707442734653053'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4254596231959459245/posts/default/7108707442734653053'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kerudungkinan.blogspot.com/2008/05/ketika-musibah-datang.html' title='Ketika Musibah Datang'/><author><name>kerudung kinan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4254596231959459245.post-8517112422037368264</id><published>2009-01-23T16:05:00.000+07:00</published><updated>2009-01-23T16:06:48.690+07:00</updated><title type='text'>Tebarkan Salam</title><content type='html'>&lt;p&gt;Syariat Islam yang sempurna mengajarkan kaum muslimin untuk selalu meningkatkan kecintaan terhadap saudara semuslim, merekatkan persaudaraan dan kasih sayang. Dan untuk mewujudkan hubungan persaudaraan dan kasih sayang ini, maka syariat Islam memerintahkan untuk menyebarkan salam.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span id="more-514"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Syiar Islam yang satu ini adalah termasuk syiar Islam yang sangat besar dan penting. Namun begitu, sekarang ini salam sering sekali ditinggalkan dan diganti dengan salam salam yang lain, entah itu dengan &lt;em&gt;good morning&lt;/em&gt;, selamat pagi, selamat siang, salam sejahtera atau sejenisnya. Tentunya seorang muslim tidak akan rela apabila syariat yang penuh berkah lagi manfaat ini kemudian diganti dengan ucapan-ucapan lain. Allah berfirman, &lt;em&gt;“Maukah kamu mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik?”&lt;/em&gt; (Al Baqarah: 61). Dan sungguh apa yang ditetapkan Allah untuk manusia, itulah yang terbaik.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Perintah dari Allah&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah berfirman, &lt;em&gt;“Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah- rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik.”&lt;/em&gt; (Qs. An Nur: 61)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Syaikh Nashir As Sa’di berkata, “Firman-Nya: Salam dari sisi Allah, maksudnya Allah telah mensyari’atkan salam bagi kalian dan menjadikannya sebagai penghormatan dan keberkahan yang terus berkembang dan bertambah. Adapun firman-Nya: yang diberi berkat lagi baik, maka hal tersebut karena salam termasuk kalimat yang baik dan dicintai Allah. Dengan salam maka jiwa akan menjadi baik serta dapat mendatangkan rasa cinta.” (Lihat &lt;em&gt;Taisir Karimir Rohman&lt;/em&gt;)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Perintah dari Nabi &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Baro’ bin Azib berkata, &lt;em&gt;“Rasulullah melarang dan memerintahkan kami dalam tujuh perkara: Kami diperintah untuk mengiringi jenazah, menjenguk orang sakit, memenuhi undangan menolong orang yang dizholimi, memperbagus pembagian, menjawab salam dan mendoakan orang yang bersin…”&lt;/em&gt; (HR. Bukhari dan Muslim). Ibnu Hajar Al Asqolani berkata, &lt;em&gt;“Perintah menjawab salam maksudnya yaitu menyebarkan salam di antara manusia agar mereka menghidupkan syariatnya.”&lt;/em&gt; (Lihat &lt;em&gt;Fathul Bari&lt;/em&gt; 11/23)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dari Abu Huroiroh, Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda, &lt;em&gt;“Tidaklah kalian masuk surga hingga kalian beriman. Dan tidaklah kalian beriman hingga saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan suatu amalan yang jika kalian kerjakan niscaya kalian akan saling mencintai? Tebarkanlah salam di antara kalian.”&lt;/em&gt; (HR. Muslim). Dari Abdulloh bin Salam, Rasulullah bersabda, &lt;em&gt;“Wahai sekalian manusia, tebarkanlah salam di antara kalian, berilah makan sambunglah tali silaturahmi dan shalatlah ketika manusia tidur malam, niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat.”&lt;/em&gt; (Shohih. Riwayat Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Etika Salam&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Imron bin Husain berkata, “Ada seorang laki-laki yang datang kepada Nabi seraya mengucapkan &lt;em&gt;Assalamu ‘alaikum&lt;/em&gt;. Maka nabi menjawabnya dan orang itu kemudian duduk. Nabi berkata, &lt;em&gt;“Dia mendapat sepuluh pahala.”&lt;/em&gt; Kemudian datang orang yang lain mengucapkan &lt;em&gt;Assalamu ‘alaikum warahmatullah&lt;/em&gt;. Maka Nabi menjawabnya dan berkata, “&lt;em&gt;Dua puluh pahala baginya.”&lt;/em&gt; Kemudian ada yang datang lagi seraya mengucapkan &lt;em&gt;Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh&lt;/em&gt;. Nabi pun menjawabnya dan berkata, &lt;em&gt;“Dia mendapat tiga puluh pahala.”&lt;/em&gt; (Shohih. Riwayat Abu dawud, Tirmidzi dan Ahmad)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dari hadits tersebut dapat diambil beberapa kesimpulan, yaitu:&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Memulai &lt;a title="Tebarkan salam" href="http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/tebarkan-salam.html"&gt;salam&lt;/a&gt; hukumnya sunnah bagi setiap individu, berdasar pendapat terkuat.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menjawab salam hukumnya wajib, berdasarkan kesepakatan para ulama.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Salam yang paling utama yaitu dengan mengucapkan &lt;em&gt;Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh&lt;/em&gt;, kemudian &lt;em&gt;Assalamu’alaikum warahmatullah&lt;/em&gt; dan yang terakhir &lt;em&gt;Assalamu’alaikum&lt;/em&gt;.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menjawab salam hendaknya dengan jawaban yang lebih baik, atau minimal serupa dengan yang mengucapkan. Allah berfirman &lt;em&gt;“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.”&lt;/em&gt; (Qs. An Nisa: 86)&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;Dalam hadits lain Rasulullah bersabda, &lt;em&gt;“Hendaknya orang yang berkendaraan memberi salam kepada yang berjalan. Yang berjalan kepada yang dduk yang sedikit kepada yang banyak.”&lt;/em&gt; (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam lafazh Bukhari, &lt;em&gt;“Hendaklah yang muda kepada yag lebih tua.”&lt;/em&gt; Demikianlah pengajaran Rosul tentang salam. Namun orang yang meninggalkan tatacara salam seperti pada hadits ini tidaklah mendapat dosa, hanya saja dia telah meninggalkan sesuatu yang utama.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Salam Kepada Orang yang Dikenal dan Tidak Dikenal&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Termasuk mulianya syariat ini ialah diperintahkannya kaum muslimin untuk member salam baik pada orang yang dikenal maupun orang yang belum dikenal. Rasulullah bersabda, &lt;em&gt;“Sesungguhnya termasuk tanda-tanda hari kiamat apabila salam hanya ditujukan kepada orang yang telah dikenal.”&lt;/em&gt; (Shohih. Riwayat Ahmad dan Thobroni)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(Disadur dari majalah Al Furqon edisi 9 th III)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;***&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Penulis: Abu Yusuf Johan Lil Muttaqin&lt;br /&gt;Artikel &lt;a title="Tebarkan salam" href="http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/tebarkan-salam.html"&gt;www.muslim.or.id&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4254596231959459245-8517112422037368264?l=kerudungkinan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4254596231959459245/posts/default/8517112422037368264'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4254596231959459245/posts/default/8517112422037368264'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kerudungkinan.blogspot.com/2009/01/tebarkan-salam.html' title='Tebarkan Salam'/><author><name>kerudung kinan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4254596231959459245.post-6122930655986713078</id><published>2008-12-11T06:47:00.000+07:00</published><updated>2008-12-11T06:48:03.618+07:00</updated><title type='text'>Bangga Menjadi Ibu Rumah Tangga</title><content type='html'>&lt;div class="PostContent"&gt; &lt;p&gt;Penulis: Ummu Ayyub&lt;br /&gt;Muroja’ah: Ust Abu Ahmad&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hebat rasanya ketika mendengar ada seorang wanita lulusan sebuah universitas ternama telah bekerja di sebuah perusahaan bonafit dengan gaji jutaan rupiah per bulan. Belum lagi perusahaan sering menugaskan wanita tersebut terbang ke luar negri untuk menyelesaikan urusan perusahaan. Tergambar seolah kesuksesan telah dia raih. Benar seperti itukah?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span id="more-72"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan orang akan beranggapan demikian. Sesuatu dikatakan sukses lebih dinilai dari segi materi sehingga jika ada sesuatu yang tidak memberi nilai materi akan dianggap remeh. Cara pandang yang demikian membuat banyak dari wanita muslimah bergeser dari fitrohnya. Berpandangan bahwa sekarang sudah saatnya wanita tidak hanya tinggal di rumah menjadi ibu, tapi sekarang saatnya wanita ‘menunjukkan eksistensi diri’ di luar. Menggambarkan seolah-olah tinggal di rumah menjadi seorang ibu adalah hal yang rendah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kita bisa dapati ketika seorang ibu rumah tangga ditanya teman lama &lt;em&gt;“Sekarang kerja dimana?”&lt;/em&gt; rasanya terasa berat untuk menjawab, berusaha mengalihkan pembicaraan atau menjawab dengan suara lirih sambil tertunduk &lt;em&gt;“Saya adalah ibu rumah tangga”&lt;/em&gt;. Rasanya malu! Apalagi jika teman lama yang menanyakan itu “sukses” berkarir di sebuah perusahaan besar. Atau kita bisa dapati ketika ada seorang muslimah lulusan universitas ternama dengan prestasi bagus atau bahkan berpredikat &lt;em&gt;cumlaude&lt;/em&gt; hendak berkhidmat di rumah menjadi seorang istri dan ibu bagi anak-anak, dia harus berhadapan dengan “nasehat” dari bapak tercintanya: &lt;em&gt;“Putriku! Kamu kan sudah sarjana, cumlaude lagi! Sayang kalau cuma di rumah saja ngurus suami dan anak.”&lt;/em&gt; Padahal, putri tercintanya hendak berkhidmat dengan sesuatu yang mulia, yaitu sesuatu yang memang menjadi tanggung jawabnya. Disana ia ingin mencari surga.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Ibu Sebagai Seorang Pendidik&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin &lt;em&gt;rahimahullah&lt;/em&gt; mengatakan bahwa perbaikan masyarakat bisa dilakukan dengan dua cara: Pertama, perbaikan secara lahiriah, yaitu perbaikan yang berlangsung di pasar, masjid, dan berbagai urusan lahiriah lainnya. Hal ini banyak didominasi kaum lelaki, karena merekalah yang sering nampak dan keluar rumah. Kedua, perbaikan masyarakat di balik layar, yaitu perbaikan yang dilakukan di dalam rumah. Sebagian besar peran ini diserahkan pada kaum wanita sebab wanita merupakan pengurus rumah. Hal ini sebagaimana difirmankan Allah subhanahu wa ta’ala yang artinya:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Dan hendaklah kalian tetap di rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa kalian, hai Ahlul Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”&lt;/em&gt; (QS. Al-Ahzab: 33)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pertumbuhan generasi suatu bangsa adalah pertama kali berada di buaian para ibu. Ini berarti seorang ibu telah mengambil jatah yang besar dalam pembentukan pribadi sebuah generasi. Ini adalah tugas yang besar! Mengajari mereka kalimat &lt;em&gt;Laa Ilaaha Illallah&lt;/em&gt;, menancapkan tauhid ke dada-dada mereka, menanamkan kecintaan pada Al Quran dan As Sunah sebagai pedoman hidup, kecintaan pada ilmu, kecintaan pada Al Haq, mengajari mereka bagaimana beribadah pada Allah yang telah menciptakan mereka, mengajari mereka akhlak-akhlak mulia, mengajari mereka bagaimana menjadi pemberani tapi tidak sombong, mengajari mereka untuk bersyukur, mengajari bersabar, mengajari mereka arti disiplin, tanggung jawab, mengajari mereka rasa empati, menghargai orang lain, memaafkan, dan masih banyak lagi. Termasuk di dalamnya hal yang menurut banyak orang dianggap sebagai sesuatu yang kecil dan remeh, seperti mengajarkan pada anak adab ke kamar mandi. Bukan hanya sekedar supaya anak tau bahwa masuk kamar mandi itu dengan kaki kiri, tapi bagaimana supaya hal semacam itu bisa menjadi kebiasaan yang lekat padanya. Butuh ketelatenan dan kesabaran untuk membiasakannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Sebuah Tanggung Jawab&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”&lt;/em&gt; (QS. At Tahrim: 6)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang artinya: &lt;em&gt;“Peliharalah dirimu dan keluargamu!”&lt;/em&gt; di atas menggunakan &lt;em&gt;Fi’il Amr&lt;/em&gt; (kata kerja perintah) yang menunjukkan bahwa hukumnya wajib. Oleh karena itu semua kaum muslimin yang mempunyai keluarga wajib menyelamatkan diri dan keluarga dari bahaya api neraka.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tentang Surat At Tahrim ayat ke-6 ini, Ali bin Abi Thalib &lt;em&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/em&gt; berkata, &lt;em&gt;“Ajarkan kebaikan kepada dirimu dan keluargamu.”&lt;/em&gt; (Diriwayatkan oleh Al Hakim dalam &lt;em&gt;Mustadrak&lt;/em&gt;-nya (IV/494), dan ia mengatakan hadist ini shahih berdasarkan syarat Bukhari dan Muslim, sekalipun keduanya tidak mengeluarkannya)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Muqatil mengatakan bahwa maksud ayat tersebut adalah, setiap muslim harus mendidik diri dan keluarganya dengan cara memerintahkan mereka untuk mengerjakan kebaikan dan melarang mereka dari perbuatan maksiat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ibnu Qoyyim menjelaskan bahwa beberapa ulama mengatakan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala akan meminta pertanggungjawaban setiap orang tua tentang anaknya pada hari kiamat sebelum si anak sendiri meminta pertanggungjawaban orang tuanya. Sebagaimana seorang ayah itu mempunyai hak atas anaknya, maka anak pun mempunyai hak atas ayahnya. Jika Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, &lt;em&gt;“Kami wajibkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya.”&lt;/em&gt; (QS. Al Ankabut: 7), maka disamping itu Allah juga berfirman, &lt;em&gt;“Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang berbahan bakar manusia dan batu.”&lt;/em&gt; (QS. At Tahrim: 6)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ibnu Qoyyim selanjutnya menjelaskan bahwa barang siapa yang mengabaikan pendidikan anaknya dalam hal-hal yang bermanfaat baginya, lalu ia membiarkan begitu saja, berarti telah melakukan kesalahan besar. Mayoritas penyebab kerusakan anak adalah akibat orang tua yang acuh tak acuh terhadap anak mereka, tidak mau mengajarkan kewajiban dan sunnah agama. Mereka menyia-nyiakan anak ketika masih kecil sehingga mereka tidak bisa mengambil keuntungan dari anak mereka ketika dewasa, sang anak pun tidak bisa menjadi anak yang bermanfaat bagi ayahnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Adapun dalil yang lain diantaranya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala yang artinya:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“dan berilah peringatan kepada kerabatmu yang dekat.”&lt;/em&gt; (QS asy Syu’ara’: 214)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Abdullah bin Umar &lt;em&gt;radhiyallahu ‘anhuma&lt;/em&gt; mengatakan bahwa Rasulullah &lt;em&gt;shalallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda (yang artinya), &lt;em&gt;“Kaum lelaki adalah pemimpin bagi keluarganya di rumah, dia bertanggung jawab atas keluarganya. Wanita pun pemimpin yang mengurusi rumah suami dan anak-anaknya. Dia pun bertanggung jawab atas diri mereka. Budak seorang pria pun jadi pemimpin mengurusi harta tuannya, dia pun bertanggung jawab atas kepengurusannya. Kalian semua adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya.”&lt;/em&gt; (HR. Bukhari 2/91)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dari keterangan di atas, nampak jelas bahwa setiap insan yang ada hubungan keluarga dan kerabat hendaknya saling bekerja sama, saling menasehati dan turut mendidik keluarga. Utamanya orang tua kepada anak, karena mereka sangat membutuhkan bimbingannya. Orang tua hendaknya memelihara fitrah anak agar tidak kena noda syirik dan dosa-dosa lainnya. Ini adalah tanggung jawab yang besar yang kita akan dimintai pertanggungjawaban tentangnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Siapa Menanam, Dia akan Menuai Benih&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bagaimana hati seorang ibu melihat anak-anaknya tumbuh? Ketika tabungan anak kita yang usia 5 tahun mulai menumpuk, &lt;em&gt;“Mau untuk apa nak, tabungannya?”&lt;/em&gt; Mata rasanya haru ketika seketika anak menjawab &lt;em&gt;“Mau buat beli CD murotal, Mi!”&lt;/em&gt; padahal anak-anak lain kebanyakan akan menjawab &lt;em&gt;“Mau buat beli PS!”&lt;/em&gt; Atau ketika ditanya tentang cita-cita, &lt;em&gt;“Adek pengen jadi ulama!”&lt;/em&gt; Haru! mendengar jawaban ini dari seorang anak tatkala ana-anak seusianya bermimpi &lt;em&gt;“pengen jadi Superman!”&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jiwa seperti ini bagaimana membentuknya? Butuh seorang pendidik yang ulet dan telaten. Bersungguh-sungguh, dengan tekad yang kuat. Seorang yang sabar untuk setiap hari menempa dengan dibekali ilmu yang kuat. Penuh dengan tawakal dan bergantung pada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Lalu… jika seperti ini, bisakah kita begitu saja menitipkannya pada pembantu atau membiarkan anak tumbuh begitu saja?? Kita sama-sama tau lingkungan kita bagaimana (TV, media, masyarakat,…) Siapa lagi kalau bukan kita, wahai para ibu -atau calon ibu-?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Setelah kita memahami besarnya peran dan tanggung jawab seorang ibu sebagai seorang pendidik, melihat realita yang ada sekarang sepertinya keadaannya menyedihkan! Tidak semua memang, tapi banyak dari para ibu yang mereka sibuk bekerja dan tidak memperhatikan bagaimana pendidikan anak mereka. Tidak memperhatikan bagaimana aqidah mereka, apakah terkotori dengan syirik atau tidak. Bagaimana ibadah mereka, apakah sholat mereka telah benar atau tidak, atau bahkan malah tidak mengerjakannya… Bagaimana mungkin pekerjaan menancapkan tauhid di dada-dada generasi muslim bisa dibandingkan dengan gaji jutaan rupiah di perusahaan bonafit? Sungguh! sangat jauh perbandingannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Anehnya lagi, banyak ibu-ibu yang sebenarnya tinggal di rumah namun tidak juga mereka memperhatikan pendidikan anaknya, bagaimana kepribadian anak mereka dibentuk. Penulis sempat sebentar tinggal di daerah yang sebagian besar ibu-ibu nya menetap di rumah tapi sangat acuh dengan pendidikan anak-anak mereka. Membesarkan anak seolah hanya sekedar memberinya makan. Sedih!&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Padahal anak adalah investasi bagi orang tua di dunia dan akhirat! Setiap upaya yang kita lakukan demi mendidiknya dengan ikhlas adalah suatu kebajikan. Setiap kebajikan akan mendapat balasan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak inginkah hari kita terisi dengannya? Atau memang yang kita inginkan adalah kesuksesan karir anak kita, meraih hidup yang berkecukupan, cukup untuk membeli rumah mewah, cukup untuk membeli mobil mentereng, cukup untuk membayar 10 pembantu, mempunyai keluarga yang bahagia, berakhir pekan di villa. Tanpa memperhatikan bagaimana aqidah, bagaimana ibadah, asal tidak bertengkar dan bisa senyum dan tertawa ria di rumah, disebutlah itu dengan bahagia.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ketika usia senja, mata mulai rabun, tulang mulai rapuh, atau bahkan tubuh ini hanya mampu berbaring dan tak bisa bangkit dari ranjang untuk sekedar berjalan. Siapa yang mau mengurus kita kalau kita tidak pernah mendidik anak-anak kita? Bukankah mereka sedang sibuk dengan karir mereka yang dulu pernah kita banggakan, atau mungkin sedang asik dengan istri dan anak-anak mereka?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ketika malaikat maut telah datang, ketika jasad telah dimasukkan ke kubur, ketika diri sangat membutuhkan doa padahal pada hari itu diri ini sudah tidak mampu berbuat banyak karena pintu amal telah ditutup, siapakah yang mendoakan kita kalau kita tidak pernah mengajari anak-anak kita?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Lalu…&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Masihkah kita mengatakan jabatan ibu rumah tangga dengan kata ‘cuma’? dengan tertunduk dan suara lirih karena malu?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;Wallahu a’lam&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Maroji’:&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;Dapatkan Hak-Hakmu, Wahai Muslimah&lt;/em&gt; oleh Ummu Salamah as Salafiyyah. Judul asli: &lt;em&gt;Al-Intishaar li Huquuqil Mu’minaat&lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;Mendidik Anak bersama Nabi&lt;/em&gt; oleh Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid. Judul Asli: &lt;em&gt;Manhaj At-Tarbiyyah An-Nabawiyyah lit-Thifl&lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Majalah Al Furqon Edisi: 8 Tahun V/Rabi’ul Awwal 1427/April 2006&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;***&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Artikel www.muslimah.or.id&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4254596231959459245-6122930655986713078?l=kerudungkinan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4254596231959459245/posts/default/6122930655986713078'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4254596231959459245/posts/default/6122930655986713078'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kerudungkinan.blogspot.com/2008/12/bangga-menjadi-ibu-rumah-tangga.html' title='Bangga Menjadi Ibu Rumah Tangga'/><author><name>kerudung kinan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4254596231959459245.post-1046878832772566310</id><published>2008-11-05T07:31:00.000+07:00</published><updated>2008-11-05T07:32:43.198+07:00</updated><title type='text'>Rumah Tangga Sakinah Bagi Seorang Wanita</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;&lt;strong&gt;Pendahuluan&lt;/strong&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Bagi seorang wanita mukminah, pernikahan adalah salah satu perwujudan salah satu Sunnah Nabi &lt;em&gt;shallallaahu ‘alaihi wasallam&lt;/em&gt; dan sarana untuk mencapai keridlaan-Nya. Rasulullah &lt;em&gt;shallallaahu ‘alaihi wasallam&lt;/em&gt; telah bersabda : &lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;اَلنِّكَاحُ مِنْ سُنَّتِيْ فَمَنْ لَمْ يَعْمَلْ بِسُنَّتِيْ فَلَيْسَ مِنِّىْ وَتَزَوَّجُوْا فَإِنِّيْ مُكَاثِرٌ بِكُمُ الْأمَمَ وَمَنْ كَانَ ذَا طُوْلٍ فَلْيَنْكِحْ وَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَعَلَيْهِ بِالصِّيَامِ فَإِنَّ الصَّوْمَ لَهُ وِجَاءٌ &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;“Nikah adalah sunnahku. Barangsiapa yang tidak mengamalkan sunnahku maka bukanlah termasuk golonganku. Menikahlah, karena aku akan bangga dengan banyaknya jumlah kalian di hadapan umat lain di hari kiamat. Barangsiapa yang telah memiliki modal, hendaklah ia menikah. Dan barangsiapa yang tidak mampu, hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu penekan hawa nafsunya”&lt;/em&gt; [HR. Ibnu Majah no. 1832; shahih]. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Jika seseorang meniatkan di awal pernikahannya sebagai satu niat untuk beribadah kepada-Nya, meninggalkan zina, dan mendekatkan diri kepada-Nya; maka dia akan memperoleh pahala sesuai dengan apa yang ia niatkan itu. Sebaliknya, jika ia mempunyai niat di awal pernikahannya hanya sekedar untuk mencari harta, pangkat, kedudukan, atau popularitas; maka ia akan mendapat balasan sesuai dengan apa yang dia niatkan. Bahkan dosa jika yang ia niatkan tersebut merupakan maksiat. &lt;span class="fullpost"&gt;Rasulullah &lt;em&gt;shallallaahu ‘alaihi wasallam&lt;/em&gt; bersabda : &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَةِ وَإِنَّمَا لإِمْرِئٍ مَا نَوَى&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;“Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung pada niat dan seseorang hanya akan mendapatkan sesuai dengan apa yang niatkan”&lt;/em&gt; [HR. Bukhari no. 6689 dan Muslim no. 1907]. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Sungguh bahagia siapa saja di antara wanita muslimah yang bisa merealisasikannya. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Tema rumah tangga sakinah adalah satu tema yang cukup luas pembahasannya yang tidak mungkin diselesaikan dalam satu sampai dua jam pertemuan. Hal itu disebabkan karena pembahasan ini akan dimulai dari awal terbentuknya rumah tangga sampai dengan berakhirnya rumah tangga alias kedua pasangan suami istri tersebut meninggal dunia. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Satu hal yang tidak dicapai secara keseluruhan tidaklah ditinggalkan secara keseluruhan. Pada kesempatan kali ini kita akan membahas secara ringkas tiga pokok permasalahan yaitu : &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;- Tanggung jawab istri pada diri sendiri.&lt;br /&gt;- Tanggung jawab istri pada suami.&lt;br /&gt;- Tanggung jawab istri pada anak. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Tanggung Jawab Istri pada Diri Sendiri&lt;/span&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Diantara tanggung jawab istri kepada diri sendiri diantaranya adalah : &lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Menuntut ilmu syar’i&lt;/strong&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Rasulullah &lt;em&gt;shallallaahu ‘alaihi wasallam&lt;/em&gt; bersabda : &lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;“Menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap muslim”&lt;/em&gt; [HR. Ibnu Majah no. 224; shahih]. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Yaitu : &lt;/p&gt;&lt;p&gt;- Ilmu tentang prinsip-prinsip ‘aqidah dan keimanan (Rukun Iman) &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;- Ilmu tentang apa-apa yang diwajibkan dalam rukun Islam, seperti syahadat, shalat, zakat, puasa, dan haji. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;- Ilmu-ilmu penunjang yang bermanfaat lainnya. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Seorang ibu rumah tangga wajib mengetahui tentang pembatal-pembatal syahadat, wajib mengetahui bagaimana cara thaharah dan shalat yang benar, dan yang lain sebagainya. Tidak boleh terjadi pada seorang ibu bahwa ia tidak mengetahui tentang hukum-hukum haidl, padahal haidl adalah sesuatu yang rutin mendatanginya. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Bagaimana seorang ibu rumah tanga bisa menuntut ilmu di sela-sela kesibukannya mengurus rumah tangga ? Hal yang pertama bahwa ia harus menumbuhkan perasaan butuh dan cinta kepada ilmu. Jika seseorang telah mampu menumbuhkan perasaan itu pada dirinya, maka ia akan memanfaatkan semua kesempatan dimana ia bisa memperoleh ilmu, baik dalam majelis-majelis ilmu atau membaca buku-buku. Dalam seminggu, usahakanlah untuk dapat bermajelis ilmu minimal satu kali. Bisa ia menghadiri majelis-majelis ilmu secara khusus, atau bermajelis dengan suaminya untuk saling membacakan satu pembahasan dalam buku agama. Selain itu, ia bisa memanfaatkan beberapa waktu luang dengan membaca buku agama saat kesibukan belum menderanya seperti : &lt;/p&gt;&lt;p&gt;o 15 – 20 menit menit sebelum shalat shubuh;&lt;br /&gt;o 15 – 20 menit setelah ‘isya’ di saat anak-anak telah tidur di pembaringannya. &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p&gt;Mengamalkan ilmu yang telah diperoleh. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Adalah menjadi hal yang mutlak lagi wajib untuk mengamalkan ilmu. Amal adalah buah ilmu. Barangsiapa yang berilmu namun tidak beramal, ia laksana tumbuhan yang tidak memberikan manfaat bagi makhluk hidup di sekitarnya. Ilmu bisa menjadi pembela atau malah jadi bencana bagi diri kita sebagaimana sabda Rasulullah &lt;em&gt;shallallaahu ‘alaihi wasallam&lt;/em&gt; : &lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;الْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;“Al-Qur’an itu bisa menjadi pembela bagimu atau menjadi bencana bagimu”&lt;/em&gt; [HR. Muslim no. 223]. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin berkata : &lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;وعليك إن لم تعمل به، وكذلك يكون العمل بما صح عن النبي صلى الله عليه وسلم بتصديق الأخبار وامتثال الأحكام&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;"Menjadi pembela bagimu jika engkau mengamalkannya dan akan menjadi bencana jika engkau tidak mengamalkannya. Demikian pula pengamalan hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam yang shahih dilakukan dengan cara membenarkan berita dan menjalankan hukum-hukumnya" [&lt;em&gt;Kitaabul-‘Ilm&lt;/em&gt; hal. 32 ; Daaruts-Tsurayaa]. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Contoh mudah yang bisa kita lakukan adalah ketika kita tahu bagaiamana cara wudlu yang benar dari penjelasan Ustadz atau hasil membaca buku; maka dengan tidak menunda-nunda kita praktekkan pada diri kita jikalau mau melaksanakan shalat. Jika kita tahu tentang bahaya syirik, maka dengan segera kita bersihkan diri dan rumah tangga kita dari hal-hal yang berbau syirik seperti membuang segala macam jimat, rajah, gambar makhluk hidup, atau benda pusaka keramat peninggalan leluhur (yang tentunya harus dikomunikasikan secara bijaksana dengan suami). Dan yang lain sebagainya. &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Tanggung Jawab Istri pada Suami&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Tanggung jawab istri kepada suami terkait erat dengan pemenuhan hak-hak suami oleh istri. Harus menjadi satu pemahaman bahwa seorang laki-laki adalah pemimpin bagi wanita. Seorang suami adalah pemimpin bagi istri dan anak-anaknya di rumahnya. Allah berfirman : &lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;الرّجَالُ قَوّامُونَ عَلَى النّسَآءِ بِمَا فَضّلَ اللّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىَ بَعْضٍ وَبِمَآ أَنْفَقُواْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللّهُ&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;"&lt;em&gt;Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)"&lt;/em&gt; [QS. An-Nisaa’ : 34]. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Pada ayat di atas, Allah telah menegaskan kepemimpinan seorang laki-laki atas wanita dalam segala aspek kehidupan karena dua hal : &lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;p&gt;Kekhususan yang telah diberikan Allah kepada laki-laki yang tidak diberikan kepada wanita. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebab ini merupakan sebab syar’iyyah yang mutlak merupakan kehendak Allah tanpa kita diwajibkan untuk mengetahui « kenapa ». Allah berkehendak sesuai dengan rububiyyah-Nya, ilmu-Nya, hikmah-Nya, dan hukum-Nya yang kauni. Kekhususan ini tercermin pada beberapa hal dimana Allah membebani beberapa kewajiban khusus kepada laki-laki dan tidak bagi wanita seperti kewajiban berjihad, shalat Jum’at dan yang lainnya. &lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;p&gt;Kekhususan dengan sebab nafkah. &lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;Rasulullah &lt;em&gt;shallallaahu ‘alaihi wasallam&lt;/em&gt; telah menggambarkan keagungan hak suami yng harus dipenuhi oleh istrinya dengan sabdanya : &lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;حَقُّ الزَّوْجِ عَلَى زَوْجَتِهِ أَنْ لَوْ كَانَ بِهِ قُرْحَةٌ فَلَحِسَتْهَا مَا أَدَّتْ حَقَّهُ&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;"Gambaran hak suami yang harus dipenuhi oleh istrinya adalah seandainya pada kulit suaminya itu ada borok (luka), lalu dia (istri) menjilatinya, maka dia belum benar-benar memenuhi hak suaminya"&lt;/em&gt; [HR. Ibnu Abi Syaibah 4/2/303 no. 17407; hasan – Daarul-Kiblah, Cet. 1/1427]. &lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَداً أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;"Seandainya aku boleh menyuruh seorang manusia untuk bersujud kepada manusia lainnya, niscaya akan aku suruh seorang wanita untuk bersujud kepada suaminya"&lt;/em&gt; [HR. At-Tirmidzi no. 1159, Ibnu Hibban no. 41621, dan Al-Baihaqi 7/291 ; shahih lighairihi]. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Ketaatan istri kepada suaminya merupakan salah satu faktor yang akan membawanya masuk surga. Rasulullah &lt;em&gt;shallallaahu ‘alaihi wasallam&lt;/em&gt; bersabda : &lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;إذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَصُنَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ بَعْلَهَا دَخَلَتْ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شَاءَتْ &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;"Jika seorang wanita mengerjakan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadlan, menjaga kemaluannya, dan taat kepada suaminya, maka akan dikatakan kepadanya : ‘Masuklah ke dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau sukai"&lt;/em&gt; [HR. Ibnu Hibban no. 4163 ; shahih]. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Beberapa kewajiban istri yang harus dipenuhi kepada suaminya antara lain adalah : &lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Patuh kepada perintah suami &lt;p&gt;Hushain bin Mihshan mengkisahkan : Bahwasannya bibinya pernah mendatangi Nabi &lt;em&gt;shallallaahu ‘alaihi wasalam&lt;/em&gt; untuk satu keperluan. Setelah menyelesaikan keperluannya, maka Nabi berkata kepadanya : ‘Apakah engkau bersuami ?’. Aku menjawab : ‘Ya’. Beliau melanjutkan : ‘Bagaimana sikapmu terhadapnya ?’. Aku menjawab : ‘Aku tidak pernah membantahnya/menolaknya kecuali pada perkara yang tidak sanggup aku lakukan’. Rasulullah &lt;em&gt;shallallaahu ‘alaihi wasallam&lt;/em&gt; bersabda : &lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;فَانْظُرِيْ أَيْنَ أَنْتِ مِنْهُ فَإِنَّمَا هُوَ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;"Maka perhatikanlah sikapmu terhadapnya, karena sesungguhnya dia (suamimu) adalah surga dan nerakamu"&lt;/em&gt; [HR. Ahmad 4/341; An-Nasa’i dalam &lt;em&gt;Al-Kubraa&lt;/em&gt; no. 8963, 8964, 8967, 8968, 8969; Ath-Thabarani dalam &lt;em&gt;Al-Kabiir&lt;/em&gt; 25/448, 449, 450 dan &lt;em&gt;Al-Ausath&lt;/em&gt; no. 532; Al-Hakim 2/189; Al-Baihaqi dalam &lt;em&gt;Syu’abul-Iman&lt;/em&gt; no. 8729-8731; dan no. 19025. Hadits ini hasan – dari takhrij hadits Al-Arna’uth terhadap &lt;em&gt;Musnad Imam Ahmad&lt;/em&gt; 31/341 no. 19003]. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Rasulullah &lt;em&gt;shallallaahu ‘alaihi wasallam&lt;/em&gt; pernah ditanya tentang model wanita yang paling baik, maka beliau menjawab : &lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;الَّتِيْ تُطِيْعُ إِذَا أَمَرَ وَتَسُرُّ إِذَا نَظَرَ وَتَحْفَظُهُ فِيْ نَفْسِهَا وَمَالِهِ&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;“Dia dalah seorang wanita yang patuh saat suaminya menyuruhnya, menarik saat suaminya memandangnya, menjaga kemuliaan suami dengan memelihara kehormatannya sendiri, dan mengurus harta suami”&lt;/em&gt; [HR. An-Nasa’i dalam &lt;em&gt;Al-Kubraa&lt;/em&gt; no. 8961; shahih]. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Catatan : Taat ini dengan syarat : Hanya dalam hal yang ma’ruf bukan dalam kemaksiatan. &lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;لا طَاعَةَ فِيْ مَعْصِيَّةِ اللهِ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوْفِ&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;“Tidak ada ketaatan dalam perbuatan maksiat kepada Allah. Ketaatan hanya boleh dilakukan dalam kebaikan”&lt;/em&gt; [HR. Bukhari no. 4340,7257; Muslim no. 1840; Abu Dawud no. 2625; dan lain-lain.] &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Maka, seorang istri tidak boleh taat kepada suaminya jika ia menyuruh untuk membuka jilbab, menemani seorang laki-laki yang bukan mahram tanpa ada suaminya, berbohong, dan lain-lain. Namun bukan pula berarti ia membatalkan ketaatannya secara keseluruhan. Ia tetap wajib taat pada hal-hal yang mubah dan yang disyari’atkan. &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p align="justify"&gt;Tetap tinggal di rumah dan tidak keluar rumah kecuali setelah mendapat ijin dari suami. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Allah berfirman : &lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنّ وَلاَ تَبَرّجْنَ تَبَرّجَ الْجَاهِلِيّةِ الاُولَىَ&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;“Dan hendaklah kamu tetap tinggal di rumah-rumah kalian dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyyah dahulu”&lt;/em&gt; [QS. Al-Ahzab : 33]. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Tinggal di dalam rumah adalah hukum asal bagi seorang wanita. Ia tidak boleh keluar melainkan dengan sebab dan syarat. Sebabnya adalah karena hajat, dan syaratnya adalah ijin dari suami, berpakaian syar’i, tidak memakai wangi-wangian, dan yang lainnya (yang akan dijelaskan kemudian). &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Untuk hal-hal yang sifatnya rutinitas dimana ia telah mendapatkan ijin dari suami secara umum, maka ia boleh keluar tanpa seijin suaminya (walau meminta ijin tetap lebih baik). Misalnya : keluar rumah untuk belanja di warung, menyapu halaman, dan lainnya. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Rasulullah &lt;em&gt;shallallaahu ‘alaihi wasallam&lt;/em&gt; telah menjelaskan salah satu sebab mengapa wanita tinggal di dalam rumah : &lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ فَإِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;“Wanita itu adalah aurat. Apabila ia keluar rumah, maka akan dibanggakan oleh syaithan”&lt;/em&gt; [HR. At-Tirmidzi no. 1173, Ibnu Khuzaimah no. 1685-1687, Ibnu Hibban no. 5598-5599, Ath-Thabarani dalam &lt;em&gt;Al-Kabiir&lt;/em&gt; no. 10115, dan Ibnu ‘Adiy dalam &lt;em&gt;Al-Kaamil&lt;/em&gt; 3/1259; shahih]. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Hingga dalam permasalahan ibadah (shalat di masjid), rumah tetap lebih baik bagi seorang wanita sebagaimana sabda Rasulullah &lt;em&gt;shallallaahu ‘alaihi wasallam&lt;/em&gt; : &lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;لا تَمْنَعُوْا نِسَاءَكُمُ الْمَسَاجِدَ وَبُيُوْتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;“Janganlah kalian melarang kaum wanita pergi ke masjid; akan tetapi shalat di rumah adalah lebih baik bagi mereka”&lt;/em&gt; [HR. Abu Dawud no. 567, Ibnu Khuzaimah no. 1683, Al-Hakim no. 755 dan yang lainnya; shahih lighairihi]. &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p&gt;Menerima ajakan suami. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Ini hukumnya wajib. Rasulullah &lt;em&gt;shallallaahu ‘alaihi wasallam&lt;/em&gt; bersabda : &lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;إِذَا دَعَا الرَجُلُ امْرَأَتِهِ إِلَى فِرَاشِهِ فَأَبَتْ أَنْ تَجِيْءَ لَعَنَتْهَا الْمَلائكَةُ حَتَى تُصْبِحَ&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;“Apabila seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya, namun istrinya tersebut menolak (tanpa udzur yang dibenarkan syari’at) maka para malaikat akan melaknatnya hingga waktu shubuh tiba”&lt;/em&gt; [HR. Al-Bukhari no. 5193 dan Muslim no. 1436]. &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p&gt;Tidak memasukkan seseorang ke dalam rumah kecuali dengan seijin suami. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Rasulullah &lt;em&gt;shallallaahu ‘alaihi wasallam&lt;/em&gt; bersabda : &lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;وَلَكُمْ عَلَيْهِنَّ أَنْ لا يُوْطِئْنَ فُرُشَكُمْ أَحَداً تَكْرَهُوْنَهُ&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;“Sesungguhnya kalian (para suami) memiliki hak yang harus dipenuhi mereka (para istri), agar mereka tidak mengijinkan seorangpun masuk ke pembaringanmu seseorang yang tidak kamu sukai”&lt;/em&gt; [HR. Muslim no. 1218]. &lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;وَلا تَأْذَنُ فِيْ بَيْتِهِ وَهُوَ شَاهِدٌ إِلا بِإِذْنِهِ&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;“Dan janganlah seorang wanita mengijinkan seseorang masuk ke dalam rumah suaminya sementara dia (suami) ada di sana, kecuali dengan ijin suaminya tersebut”&lt;/em&gt; [HR. Muslim no. 1026]. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Larangan ini berlaku untuk orang-orang yang memang suaminya tidak meridlainya. Namun bila orang tersebut termasuk orang-orang yang diridlai – semisal kaum kerabat -, maka ia diperbolehkan menerimanya masuk ke rumahnya dengan tetap menjaga kehormatan dirinya. Jika orang/tamu tersebut laki-laki bukan termasuk mahram (semisal : teman kerja suami atau tetangga), maka ia diperbolehkan untuk menerima dengan catatan aman dari fitnah dan menghindari khalwat (berdua-duaan). Rasulullah &lt;em&gt;shallallaahu ‘alaihi wasallam&lt;/em&gt; bersabda : &lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;لا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلا مَعَ ذِيْ مَحْرَمٍ&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;“Janganlah seorang laki-laki berdua-duaan dengan wanita kecuali bersama mahramnya”&lt;/em&gt; [HR. Al-Bukhari no. 5233 dan Muslim no. 1341]. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun lebih baik, wanita tersebut tidak menerimanya dan menyuruhnya kembali setelah suaminya datang &lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=8372105893582766617#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt;. &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p&gt;Tidak bersedekah dengan harta suami kecuali mendapat ijin darinya &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Rasulullah &lt;em&gt;shallallaahu ‘alaihi wasallam&lt;/em&gt; bersabda : &lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;لا تُنْفِقُ امْرَأَةٌ شَيْئاً مِنْ بَيْتِ زَوْجِهَا إِلا بِإِذْنِ زَوْجِهَا&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;“Janganlah seorang wanita menginfakkan sesuatu dari rumah suaminya kecuali seijin suaminya tersebut”&lt;/em&gt; [HR. Abu Dawud no. 3565, At-Tirmidzi no. 670, dan Ibnu Majah no. 2295; shahih]. &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p align="justify"&gt;Berterima kasih kepada suami dan tidak mengingkari kebaikannya, serta memperlakukan suami dengan baik. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Rasulullah &lt;em&gt;shallallaahu ‘alaihi wasallam&lt;/em&gt; bersabda : &lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;لا يَنْظُرُ اللهُ إِلَى امْرَأَةٍ لا تَشْكُرُ لِزَوْجِهَا وَهِيَ لا تَسْتَغْنِيْ عَنْهُ&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;“Allah tidak akan melihat kepada wanita yang tidak berterima kasih kepada suaminya, padahal ia tidak mungkin lepas dari ketergantungan padanya”&lt;/em&gt; [HR. Nasa’i dalam &lt;em&gt;Al-Kubraa&lt;/em&gt; no. 9135; shahih]. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Berterima kasih ini tidak hanya sebatas lisan, tapi terwujud pada penampakan rasa bahagia dan nyaman selama mendampingi suami dan melayani kebutuhannya dan kebutuhan anak-anaknya, tidak mengabaikannya, tidak mengeluh dengan segala kondisi yang dialami bersamanya, dan yang lainnya. &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p align="justify"&gt;Tidak mengungkit-ungkit kebaikannya kepada suami, jika kebetulan dia menafkahi suami dan anak-anaknya. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Adakalanya seorang suami diberi cobaan berupa sakit, cacat, atau yang semisalnya sehingga ia tidak bisa memberi nafkah sebagaimana mestinya; yang dengan itu istri menjadi tulang punggung keluarga untuk mencari nafkah. Haram hukumnya mengungkit-ungkit kebaikannya itu. Allah telah berfirman : &lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;يَأَيّهَا الّذِينَ آمَنُواْ لاَ تُبْطِلُواْ صَدَقَاتِكُم بِالْمَنّ وَالأذَىَ &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima)”&lt;/em&gt; [QS. Al-Baqarah : 264]. &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p align="justify"&gt;Selalu menjaga keutuhan rumah tangga dan tidak menuntut cerai tanpa alasan yang dibenarkan oleh syari’at. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Rasulullah &lt;em&gt;shallallaahu ‘alaihi wasallam&lt;/em&gt; bersabda : &lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;أَيُّمَا امْرَأَةٍ سَأَلَتْ زَوْجَهَا طَلاَقاً مِنْ غَيْرِ بَأْسٍ فَحَرَامٌ عَلَيْهَا رَائِحَةَ الْجَنَّةِ&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;“Wanita mana saja yang menuntut cerai kepada suaminya tanpa ada masalah yang berarti (menurut kacamata syari’at), maka diharamkan baginya wangi bau surga”&lt;/em&gt; [HR. At-Tirmidzi no. 1187, Abu Dawud no. 2209, Ibnu Majah no. 2055, Ahmad 5/277; shahih]. &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p align="justify"&gt;Dan lain-lain. &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p align="justify"&gt;Dan ingatlah wahai para wanita bahwa engkau telah Allah jadikan salah satu perhiasan dunia. Dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah. Rasulullah &lt;em&gt;shallallaahu ‘alaihi wasallam&lt;/em&gt; bersabda : &lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;اَلدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah”&lt;/em&gt; [HR. Muslim no. 1467]. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Tanggung Jawab Istri pada Anak &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;p&gt;Menyusui anak hingga usia dua tahun. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Allah berfirman : &lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلاَدَهُنّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَن يُتِمّ الرّضَاعَةَ &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan”&lt;/em&gt; [QS. Al-Baqarah : 233]. &lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;p&gt;Mengasuh, memperhatikan, dan memelihara anak dengan nafkah yang diberikan oleh suami. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Rasulullah &lt;em&gt;shallallaahu ‘alaihi wasallam&lt;/em&gt; pernah memerintahkan kepada Hindun &lt;em&gt;radliyallaahu ‘anhaa&lt;/em&gt; : &lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;خُذِيْ مَا يَكْفِيْكِ وَوَلَدَكِ بِالْمَعْرُوْفِ &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;“Ambillah dengan baik (dari harta suamimu) sebatas mencukupi keperluanmu dan anakmu”&lt;/em&gt; [HR. Bukhari no. 5364 dan Muslim no. 1714]. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hadits ini mengandung faedah bahwasanya pemeliharaan anak adalah dilakukan oleh ibu dari harta (nafkah) yang diberikan oleh suami.&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=8372105893582766617#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;p&gt;Mendidik anak dengan pendidikan yang baik dan Islamy. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hal pertama dan utama yang harus diberikan dan diperhatikan adalah pendidikan agama, sebab pendidikan ini merupakan dasar yang akan membentuk tingkah laku anak di kemudian hari. Penanaman aqidah tauhid yang kuat adalah mutlak diberikan. Anak harus tahu kewajiban dan tugas mengapa ia dilahirkan di muka bumi, yaitu untuk beribadah kepada Allah semata tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=8372105893582766617#_ftn3" name="_ftnref3"&gt;[3]&lt;/a&gt; Juga dengan penanaman prinsip-prinsip keimanan dalam rukun iman. Kemudian diikuti dengan penanaman kewajiban yang termasuk dalam rukun Islam yang lain seperti shalat, zakat, puasa, dan haji. Dari konsep pembangunan anak yang beriman dan beramal shalih, tentu saja harapan kita kelak ia menjadi sesuatu yang berharga yang dapat bermanfaat bagi kita di akhirat. Dan itulah yang diisyaratkan oleh Rasulullah &lt;em&gt;shallallaahu ‘alaihi wasallam&lt;/em&gt; : &lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;إذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلا مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْ لَهُ&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;“Apabila seseorang meninggal dunia maka terputuslah amalnya kecuali tiga hal, yaitu : shadaqah jariyyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau anak shalih yang mendoakannya”&lt;/em&gt; [HR. Muslim no. 1631]. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bukan menjadi satu larangan jika pendidikan agama telah diberikan, si anak kemudian diberikan pendidikan keduniaan yang akan memberi manfaat kepadanya dan kaum muslimin secara umum. Bahkan bisa jadi ilmu-ilmu keduniaan ini merupakan &lt;em&gt;fardlu kifayah &lt;/em&gt;bagi kaum muslimin. Pendidikan keduniaan ini diperbolehkan jika tidak ada hal yang dilarang oleh syari’at. Contoh bagian dari ilmu ini adalah ilmu pasti (sains), biologi, bahasa, dan yang lainnya. Adapun ilmu keduniaan yang mengandung kesia-siaan dimana ia dibenci atau bahkan diharamkan oleh syari’at seperti ilmu musik, menggambar makhluk hidup, ekonomi kuffar (misalnya ilmu ekonomi berbasis riba), hukum kuffar (misalnya ilmu hukum pidana, perdata, dan yang semisal yang bersumber dari hukum-hukum kuffar), dan yang lainnya; maka ia tidak boleh untuk dipelajari. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jika hal-hal tersebut di atas dapat dipahami dan dilaksanakan oleh seorang istri dalam kehidupan rumah tangganya, satu faktor penyebab terciptanya keluarga sakinah telah terpenuhi. &lt;em&gt;InsyaAllah&lt;/em&gt;, hal itu dapat sebagai pendorong terciptanya keluarga sakinah dalam kehidupan kita. &lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p align="justify"&gt;Akan tetapi, semua itu tentu akan terwujud jika seorang ibu/istri benar-benar mencurahkan waktu, tenaga, dan perhatiannya di rumahnya. Namun jika dzat sang ibu/istri tidak ada di rumah, maka bagaimana bisa ia melaksanakan kewajiban terhadap dirinya, suaminya, dan anak-anaknya dengan sempurna ? Dan malah kehadirannya digantikan oleh wanita lain yang sama sekali bukan merupakan bagian dari keluarganya ? Maka di sini perlu kami sampaikan bahwa : berbicara mengenai keluarga sakinah tidaklah akan lepas dari keberadaan seorang wanita di rumah suaminya. Dan itu adalah mutlak. Adalah teori belaka jika ada orang yang berkata : Yang penting kualitas, bukan kuantitas (pertemuan anggota keluarga). Tidak ada satupun pakar psikologi atau konsultan keluarga – setahu kami – yang mengatakan bahwa keberadaan seorang ibu/istri di luar rumah adalah lebih baik bagi keluarganya (anak dan suaminya) dibandingkan berada di dalam rumah. Sungguh, betapa banyak musibah ini menimpa pada keluarga-keluarga muslim yang menginginkan kebahagiaan dunia dan akhirat dimana para ibu tersibukkan oleh karir “membantu nafkah” [?] suami…… &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Bekerja dan mencari nafkah adalah kewajiban bagi suami. Allah berfirman : &lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;وَعلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنّ وَكِسْوَتُهُنّ بِالْمَعْرُوفِ&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;“Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf”&lt;/em&gt; [QS. An-Nisaa’ : 34]. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Rasulullah &lt;em&gt;shallallaahu ‘alaihi wasallam&lt;/em&gt; bersabda : &lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;فَاتَّقُوا اللهَ فِي النِّسَاءِ فَإِنَّكُمْ أَخَذْتُمُوْهُنَّ بِأَمَانِ اللهِ وَاسْتَحْلَلْتُمْ فُرُوْجَهُنَّ بِكَلمَةِ اللهِ وَلَكُمْ عَلَيْهِنَّ أَنْ لا يُوْطِئْنَ فُرُشَكُمْ أَحَداً تَكْرَهُوْنَهُ فَإِنْ فَعَلْنَ ذَلِكَ فَاضْرِبُوْهُنَّ ضَرباً غَيْرَ مُبَرِّح وَلَهُنَّ عَلَيْكُمْ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;“Bertaqwalah kalian dalam masalah wanita. Sesungguhnya kalian telah ambil mereka dengan amanah Allah, dan kalian halalkan kemaluan mereka dengan kalimat Allah. Dan bagimu ada hak yang harus mereka penuhi yaitu agar mereka tidak mengijinkan seorangpun masuk ke pembaringanmu seseorang yang tidak kamu sukai. Apabila mereka melanggarnya, maka pukullah mereka dengan pukulan yang tidak menyakiti. Dan mereka memiliki hak yang harus engkau tunaikan, yaitu mendapatkan rizki dan pakaian dengan cara yang baik”&lt;/em&gt; [HR. Muslim no. 1218]. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Jika suami telah memenuhi nafkahnya (sesuai dengan kemampuannya), maka istri tidak boleh keluar rumah untuk bekerja, karena pada hakekatnya apa yang ia butuhkan telah diberikan oleh suami. Istri wajib qana’ah/menerima dengan lapang dada tanpa mengeluh dan merasa kurang dengan apa yang telah diberikan suami. Hukum asal bagi seorang wanita adalah di rumahnya (sebagaimana telah kami singgung sebelumnya). &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Larangan untuk bekerja keluar rumah tanpa alasan syar’i ini semakin keras jika suami melarangnya (dan istri tetap ‘nekad’ untuk keluar rumah dan bekerja). &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;(-) Lantas, bagaimana jika suami mengijinkannya ? &lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Setidaknya, dalam hal ini ada 3 (tiga) keadaan : &lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;p&gt;Suami tidak mampu memberi nafkah karena sebab-sebab kauni seperti sakit, cacat, dan yang semisalnya. Maka dalam hal ini boleh bagi istri untuk bekerja di luar rumah dengan syarat-syarat tertentu (yang akan ditulis kemudian). Bahkan bisa menjadi wajib baginya. &lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;p&gt;Suami mampu dan telah memberi nafkah kepada istri. Hal ini diperinci : &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;u&gt;Apabila pekerjaan istri adalah syar’i &lt;/u&gt;&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=8372105893582766617#_ftn4" name="_ftnref4"&gt;[4]&lt;/a&gt;&lt;u&gt; dan memenuhi syarat-syarat syar’i, maka diperbolehkan.&lt;/u&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Syarat-syarat tersebut adalah (dan syarat ini juga berlaku untuk nomor 1) : &lt;/p&gt;&lt;p&gt;a.1 Memenuhi adab wanita jika keluar rumah seperti : berhijab/berpakaian syar’i &lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=8372105893582766617#_ftn5" name="_ftnref5"&gt;[5]&lt;/a&gt;, tidak memakai wangi-wangian &lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=8372105893582766617#_ftn6" name="_ftnref6"&gt;[6]&lt;/a&gt;, tidak bertabarruj (berdandan) &lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=8372105893582766617#_ftn7" name="_ftnref7"&gt;[7]&lt;/a&gt;, dan menundukkan pandangan &lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=8372105893582766617#_ftn8" name="_ftnref8"&gt;[8]&lt;/a&gt;. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;a.2 Tidak ada percampuran antara laki-laki dan wanita (ikhtilath). Allah telah berfirman : &lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنّ مَتَاعاً فَاسْأَلُوْهُنّ مِنْ وَرَآءِ حِجَابٍ&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;“Apabila kalian meminta pada mereka satu keperluan, maka mintalah dari balik hijab”&lt;/em&gt; [QS. Al-Ahzab : 53]. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;a.3 Tidak berdua-duaan (khalwat) antara laki-laki dan wanita. Rasulullah &lt;em&gt;shallallaahu ‘alaihi wasallam&lt;/em&gt; bersabda : &lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;لا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلا مَعَ ذِيْ مَحْرَمٍ&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;“Janganlah seorang laki-laki berdua-duaan dengan wanita kecuali bersama mahramnya”&lt;/em&gt; [HR. Bukhari no. 5233 dan Muslim no. 1341]. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;a.4 Tidak menimbulkan fitnah. Rasulullah &lt;em&gt;shallallaahu ‘alaihi wasallam&lt;/em&gt; bersabda : &lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;فَاتَّقُوا الدُّنيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِى إِسْرَائِيْلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;“Berhati-hatilah terhadap dunia dan berhati-hatilah pada kaum wanita, karena sesungguhnya fitnah pertama yang menimpa Bani Israil adalah karena wanita”&lt;/em&gt; [HR. Muslim no. 2742, At-Tirmidzi no. 2191, dan lainnya]. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;a.5 Tetap bisa mengerjakan kewajiban yang dibebankan kepada dirinya dan keluarganya. Inilah kewajiban asasi bagi seorang wanita. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jika memenuhi beberapa persyaratan di atas, maka ia boleh bekerja. Jika tidak, maka tidak boleh. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;u&gt;Jika pekerjaan istri bukan pekerjaan syar’i, maka keharamannya bertambah keras dibandingkan yang pertama &lt;/u&gt;. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Bagi para suami yang mengijinkan istrinya bekerja sementara jenis pekerjaan bukanlah pekerjaan syar’i dan syarat-syaratnya pun tidak terpenuhi, maka kedudukannya seperti yang disabdakan oleh Rasulullah &lt;em&gt;shallallaahu ‘alaihi wasallam&lt;/em&gt; : &lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;ثَلاَثٌ لاَ يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَنْظُرُ اللهُ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْعَاقُ وَالِدَيْهِ وَالْمَرأَةُ الْمُتَرَجِّلَةُ الْمُتَشَبِّهَةُ بِالرِّجَالِ وَالدَّيُوْثُ &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;“Tiga golongan yang tidak akan masuk surga dan Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat : 1) Orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya; 2) Wanita yang menyerupai laki-laki; dan 3) &lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Ad-Dayuts&lt;/span&gt;” &lt;/em&gt;[HR. Nasa’i no. 2562, Ahmad 2/134, dan lainnya; hasan]. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Siapakah &lt;em&gt;Dayuts &lt;/em&gt;itu ? Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam sendiri yang menjelaskan : { &lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;الذي يقر في أهله الخبث&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;} “&lt;em&gt;Yaitu suami yang membiarkan kejelekan/kemunkaran dalam keluarganya”&lt;/em&gt; [HR. Ahmad 2/69]. &lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;p&gt;Suami mampu bekerja, namun ia tidak mau bekerja mencari nafkah (malah bergantung pada istri). &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Maka kedudukan suami seperti ini lebih jelek daripada seorang &lt;em&gt;Dayuts&lt;/em&gt;. Ia adalah pangkal kejelekan dalam rumah tangganya. Seorang istri diberikan pilihan untuk tetap mempertahankan rumah tangganya atau mengajukan &lt;em&gt;khulu’&lt;/em&gt; (gugatan cerai – karena tidak diberikan nafkah oleh suami – dengan memberikan &lt;em&gt;‘iwadl&lt;/em&gt;/pengganti pada suami). Sebagian ulama mengatakan bahwa lebih utama baginya untuk bersabar jika ia melihat perceraian mengakibatkan fitnah yang lebih besar baginya dan anak-anaknya. Dalam kondisi seperti ini, ia diperbolehkan untuk bekerja untuk mencukupi kebutuhannya (dengan tetap memberikan nasihat kepada suami agar takut kepada Allah dan mau bekerja). Dia tetap wajib untuk memperhatikan batasan-batasan syar’i yang telah ditetapkan &lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=8372105893582766617#_ftn9" name="_ftnref9"&gt;[9]&lt;/a&gt;. &lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt;Selesai – &lt;em&gt;Wallaahu a’lam bish-shawwab&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;[Abu Al-Jauzaa’ – Blok D17/15 – 0815698***] – disampaikan dalam pengajian ibu-ibu Perum Ciomas Permai. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;u&gt;Catatan kaki :&lt;/u&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=8372105893582766617#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt; Atau wanita tersebut menanyakan kepada si tamu apakah ada pesan yang dapat ia sampaikan kepada suaminya (jika orang tersebut mempunyai keperluan dengan suami) tanpa ia mempersilakan masuk ke rumahnya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=8372105893582766617#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt; Tapi bukan berarti suami tidak boleh berperan serta. Ini hanya menjelaskan hukum asal saja. Adapun dalam kehidupan riil, maka kerjasama antara suami dan istri sangat dibutuhkan dalam upaya mendekatkan jiwa antara ayah, ibu, dan anak. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=8372105893582766617#_ftnref3" name="_ftn3"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt; Allah telah berfirman :&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;وَمَا خَلَقْتُ الْجِنّ وَالإِنسَ إِلاّ لِيَعْبُدُونِ&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;em&gt;“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”&lt;/em&gt; [QS. Adz-Dzariyaat : 56]. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=8372105893582766617#_ftnref4" name="_ftn4"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt; Seperti bidan, dokter khusus wanita, pengajar bagi wanita, pengasuh anak, dan yang lainnya yang memang membutuhkan peran wanita secara khusus. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=8372105893582766617#_ftnref5" name="_ftn5"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt; Allah berfirman :&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;يَأَيّهَا النّبِيّ قُل لأزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنّ مِن جَلاَبِيبِهِنّ ذَلِكَ أَدْنَىَ أَن يُعْرَفْنَ فَلاَ يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللّهُ غَفُوراً رّحِيماً&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;em&gt;“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”&lt;/em&gt; [QS. Al-Ahzab : 59]. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=8372105893582766617#_ftnref6" name="_ftn6"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt; Rasulullah &lt;em&gt;shallallaahu ‘alaihi wasallam&lt;/em&gt; bersabda :&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;أَيُّمَا امْرَأَة اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ عَلَى قَوْم لِيَجِدُوْا مِنْ رِيْحِهَا فَهِيَ زَانِيَةٌ&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;em&gt;”Wanita mana saja yang memakai parfum lalu melewati satu kaum agar mereka mencium bau harumnya, maka ia (sama saja) dengan seorang pezina”&lt;/em&gt; [HR. An-Nasa’i dalam &lt;em&gt;Al-Mujtabaa&lt;/em&gt; no. 5126 dengan sanad hasan]. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=8372105893582766617#_ftnref7" name="_ftn7"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt; Allah berfirman : &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنّ وَلاَ تَبَرّجْنَ تَبَرّجَ الْجَاهِلِيّةِ الاُولَىَ&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;em&gt;“Dan hendaklah kamu tetap tinggal di rumah-rumah kalian dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyyah dahulu”&lt;/em&gt; [QS. Al-Ahzab : 33]. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=8372105893582766617#_ftnref8" name="_ftn8"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt; Allah berfirman : &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;وَقُل لّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنّ &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;em&gt;“Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya”&lt;/em&gt; [QS. An-Nur : 31]. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=8372105893582766617#_ftnref9" name="_ftn9"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt; Walau mungkin mengharuskannya tidak dapat memenuhi kewajiban-kewajiban rumah tangga secara sempurna karena alasan dlarurat. Kita berharap Allah memberikan maaf pada kondisi seperti ini.&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4254596231959459245-1046878832772566310?l=kerudungkinan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4254596231959459245/posts/default/1046878832772566310'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4254596231959459245/posts/default/1046878832772566310'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kerudungkinan.blogspot.com/2008/11/rumah-tangga-sakinah-bagi-seorang.html' title='Rumah Tangga Sakinah Bagi Seorang Wanita'/><author><name>kerudung kinan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4254596231959459245.post-2841747195380895101</id><published>2008-10-16T06:46:00.001+07:00</published><updated>2008-10-16T06:49:07.636+07:00</updated><title type='text'>Haruskah Setiap Orang Berpolitik ?</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tanya :&lt;/strong&gt; Seringkali saya membaca, melihat, dan mendengar tentang politik praktis yang dilakukan oleh sebagian besar umat islam dewasa ini. Bahkan, sebagian orang menganjurkan setiap umat Islam untuk berpolitik. Adapula organisasi Islam yang didirikan hanya untuk aktifitas politik. Bagaimana sebenarnya Islam melihat ini dengan kacamata syari’at ?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Jawab : &lt;/strong&gt;Sebelum menjawab pertanyaan Saudara, ada baiknya dulu kita lihat pengertian/definisi Politik (&lt;em&gt;As-Siyasah&lt;/em&gt;). &lt;em&gt;As-Siyasah&lt;/em&gt; itu didefinisikan sebagai :&lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;هي القيام على الشيء بما يُصلحه&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Pengurusan suatu perkara hingga menjadi baik” (lihat &lt;em&gt;Lisaanul-‘Arab&lt;/em&gt; karangan Ibnul-Mandhur, ditahqiq oleh Ali Syiiri 6/429).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Diantaranya adalah perkataan Asma’ bintu Abi Bakar radliyallaahu ‘anhuma : &lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;" تزوَّجَني الزبير ومالَه في الأرض مالٌ ... فكنتُ أعلف فرسه، وأكفيه مؤنته، وأسوسه، وأدقُّ النوى لِناضحه ... حتى أَرسل إليَّ أبو بكر بعد ذلك خادما فكفَتْني سياسةَ الفرس، فكأنما أعتقني "&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Az-Zubair radliyallaahu ‘anhu menikahiku dalam keadaan miskin tidak memiliki harta….. Akulah yang memberi makan kudanya, mencukupi kebutuhannya, dan mengurusnya [&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;وأسوسه&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;]. &lt;span class="fullpost"&gt;Akulah yang menumbuk biji gandum untuk para pekerja yang menyiram kebun kurmanya…. Sehingga Abu Bakar mengirim seorang pembantu kepadaku sehingga aku tidak perlu repot-repot lagi mengurus [&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;سياسةَ&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;] kuda. Seakan-akan beliau (Abu Bakar radliyallaahu ‘anhu) memerdekakanku” (&lt;em&gt;Ath-Thabaqatul-Kubraa&lt;/em&gt; karangan Ibnu Sa’ad 8/182 dan dinyatakan shahih oleh Al-Hafidh Ibnu Hajar dalam&lt;em&gt; Al-Ishaabah&lt;/em&gt;).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Maka dari itu, Ibnul-Jazzar Al-Qairawani menulis sebuah buku tentang cara-cara mengurus anak-anak dan memelihara kesehatan jasmani mereka dengan judul : [&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;سياسة الصبيان وتدبيرهم&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;] &lt;em&gt;Siyaasatush-Shibyaan wa Tadbiiruhum&lt;/em&gt;. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Istilah &lt;em&gt;siyasah&lt;/em&gt; [&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;السياسة&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;] dalam bahasa Arab diambil dari kata &lt;em&gt;as-suus&lt;/em&gt; [&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;السُوس&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;] yang bermakna : tabiat, asal, watak, dan kebiasaan [&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;الطبيعة والأصل والخلق والسجية&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;]. (Lihat &lt;em&gt;Taajul-Aarus&lt;/em&gt; karangan Az-Zubaidi). Dari pengertian umum ini diambillah makna khusus berikut : “Diambil dari kata &lt;em&gt;as-suus &lt;/em&gt;[&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;السُوس&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;] yang berarti kepemimpinan. Dalam sebuah hadits disebutkan : &lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;كان بنو إسرائيل يَسوسهم أنبياؤهم&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;“Sesungguhnya kaum Bani Israil dipimpin oleh para Nabinya”&lt;/em&gt; (&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;Muttafaqun-‘alaih&lt;/span&gt;). Yaitu yang mengatur urusan mereka, sebagaimana yang biasa dilakukan oleh para umara’ dan pemimpin terhadap rakyatnya (Lihat kitab &lt;em&gt;An-Nihayah&lt;/em&gt; karangan Ibnul-Atsir 2/421). &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Adapun pengertian secara syar’i-nya, politik yang sejalan dengan syari’at (&lt;em&gt;as-siyasah syar’iyyah&lt;/em&gt;) adalah :&lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;تدبير الشئون العامة للدولة الإسلامية بما يكفل تحقيق المصالح ودفع المضار مما لا يتعدى حدود الشريعة وأصولها الكلية، وإن لم يتفق وأقوال الأئمة المجتهدين&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Pengaturan kepentingan rakyat banyak dalam ruang lingkup daulah Islam (negara Islam) dengan cara-cara yang dapat menjamin terealisasinya kemaslahatan umum, dapat menolak segala macam kerugian, dan tidak melanggar syari’at Islam serta kaidah-kaidah asasinya; sekalipun tidak sejalan dengan pendapat para alim mujtahid” (&lt;em&gt;As-Siyasah Syar’iyyah&lt;/em&gt; karangan Abdul-Wahhab Khallaf halaman 15).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Maksud dari “&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;sekalipun tidak sejalan dengan para alim mujtahid&lt;/span&gt;” [&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;وإن لم يتفق وأقوال الأئمة المجتهدين&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;] adalah : Mengambil kebijaksanaan politik (siyasah syar’iyyah) bukan hanya tugas para ulama terdahulu saja. Bahkan setiap alim ulama yang luas ilmunya boleh berijtihad dalam memecahkan problematika yang sedang dihadapi umat dengan batasan-batasan yang telah disebutkan di atas. Oleh karena itu Abdul-wahhab Khallaf mengatakan : “&lt;em&gt;As-siyasah syar’iyyah&lt;/em&gt; termasuk usaha mewujudkan maslahat mursalah. Karena maslahat mursalah adalah maslahat yang tidak ditetapkan secara khusus oleh agama”. Jadi, yang dimaksudkan dengan politik adalah undang-undang pemerintahan, pengadilan, kriteria badan eksekutif negara, pembentukan lembaga-lembaga tinggi negara, pengaturan militer, dan lain sebagainya. Hal ini secara rinci dapat dibaca dalam kitab &lt;em&gt;Ghiyatsul-Umam&lt;/em&gt; karangan Al-Juwaini, &lt;em&gt;Al-Ahkaamus-Sulthaniyyah&lt;/em&gt; oleh Al-Mawardi, kitab karangan Abu Ya’la Al-Farra’ dengan judul yang sama, &lt;em&gt;Taraatibul-Idariyyah&lt;/em&gt; karangan Abdul-Hayy Al-Kattani, dan lain-lain. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sudah barang tentu hukumnya wajib, baik menurut syari’at maupun akal, karena urusan rakyat banyak tidak akan dapat tertata rapi tanpa adanya seorang pemimpin, baik yang adil maupun yang fajir.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ibnu Nujaim berkata :&lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;وظاهر كلامهم أن السياسة فعل شيء من الحاكم لمصلحة يراها، وإن لم يرِد بهذا الفعل دليل جزئي&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Yang mereka maksud dengan politik itu adalah kebijaksanaan yang diambil penguasa untuk mewujudkan kemaslahatan yang diyakininya. Sekalipun kebijaksanaannya itu tidak ada dalilnya secara khusus” (&lt;em&gt;Al-Bahrur-Raaiq&lt;/em&gt;). &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;u&gt;Siapakah yang Pantas Berbicara dan/atau Berfatwa dalam Masalah Politik ?&lt;/u&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ibnul-Qayyim berkata dalam kitabnya &lt;em&gt;I’lamul-Muwaqqi’iin&lt;/em&gt; (4/212) : &lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;العالم بكتاب الله وسنة رسوله وأقوال الصحابة فهو المجتهد في النوازل، فهذا النوع الذي يَسوغ لهم الإفتاء ويَسوغ استفتاؤهم ويتأدى بهم فرضُ الاجتهاد، وهم الذين قال فيهم رسول الله صلى الله عليه وسلم : إن الله يبعث لهذه الأمة على رأس كل مائة سنة من يجدد لها دينها &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Orang yang menguasai Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya serta fatwa-fatwa para shahabat sajalah yang layak dikatagorikan sebagai mujtahid dalam kasus-kasus nawazil (kontemporer). Merekalah yang berhak berfatwa, dimintai fatwa dan berhak melaksanakan kewajiban ijtihad. Dan mereka pula yang disebut oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dalam hadits : &lt;em&gt;”Sesungguhnya Allah akan memunculkan pada umat ini setiap seratus tahun seorang yang akan memperbaharui dien”&lt;/em&gt; (HR. Abu Dawud dengan sanad shahih). &lt;selesai&gt; &lt;/selesai&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Yaitu yang telah mencapai tingkat mujtahid sebagaimana ditegaskan oleh Al-Mawardi : &lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;العلم المؤدي إلى الاجتهاد في النوازل والأحكام&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Ilmu yang memadai untuk berijtihad dalam memutuskan kasus-kasus kontemporer maupun menetapkan kesimpulan hukum-hukum” (&lt;em&gt;Al-Ahkaamus-Sulthaniyyah&lt;/em&gt; halaman 6). &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Imam Asy-Syathibi berkata : &lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;بل إذا عرضت النوازل روجع بها أصولها فوُجدَت فيها، ولا يجدها مَن ليس بمجتهد، وإنما يجدها المجتهدون الموصوفون في علم أصول الفقه&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Apabila kasus-kasus itu dianalisa dan dirujuk kepada pedoman-pedoman umum, niscaya ditemukan pemecahannya. Selain alim mujtahid tidak akan dapat memecahkannya. Cuma alim mujtahid yang disebutkan kriterianya dalam ilmu Ushul-Fiqh sajalah yang bisa menemukan pemecahannya”. (&lt;em&gt;Al-I’tisham&lt;/em&gt; 1/361). &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Inti dari semua itu, bahwasannya masalah politik pada dasarnya harus dikembalikan kepada para ahli ilmu. Bukan kepada orang-orang yang dangkal pemahamannya lagi awam dalam masalah agama &lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=8372105893582766617#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt;. Hendaknya kita takut akan hadits Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dari Abi Hurairah radliyallaahu ‘anhu, bahwasannya beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : &lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتٌ يُصَدَّقُ فِيهَا اْلكَاذِبُ ويُكَذََّبُ فِيهَا الصَّادقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا اْلخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا اْلأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيْلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ اْلعَامَّةِ&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;“Akan tiba nanti atas umat manusia masa-masa penuh tipu daya. Para pembohong dianggap orang jujur, dan (sebaliknya) orang jujur dianggap sebagai pendusta. Orang yang khianat dianggap amanah, dan (sebaliknya) orang yang amanah dianggap khianat. Dan para ruwaibidlah mulai angkat bicara”.&lt;/em&gt; Ada yang bertanya : “Apa itu ruwaibidlah ??”. Beliau menjawab,”&lt;em&gt;Orang bodoh yang berbicara tentang urusan rakyat banyak !”&lt;/em&gt; (HR. Ibnu Majah nomor 4036 dan derajat hadits ini shahih).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bukankah ruwaibidlah di jaman kita telah banyak ? Tidak selayaknya bagi kaum muslimin untuk menyibukkan dirinya dengan perkara politik dan permasalahan-permasalahan kontemporer yang di luar pengetahuan dan kemampuannya. Sibukkan dengan ilmu agama yang shahih yang dengan itu kita dapat beramal dengan benar dalam masalah aqidah, ahkam (syari’ah), muamalah, atau akhlaq. Termasuk dalam perkara cabang ini adalah permasalahan politik. Kita serahkan hal ini kepada yang berhak, yaitu kepada para ahli ilmu (ulama) yang faham terhadap Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam sehingga mereka memberikan solusi yang terbaik bagi umat. Allaahu a’lam. &lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=8372105893582766617#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;Catatan kaki :&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=8372105893582766617#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt; Termasuk fenomena yang banyak terjadi sekarang ini adalah banyaknya penyelenggaraan seminar-seminar, pertemuan-pertemuan, atau penulisan selebaran dan bulletin yang membicarakan kasus-kasus kontemporer. Tidak ada yang luput dari perhatian mereka. Mereka katakan bahwa apa yang mereka katakan dan tulis tersebut adalah berdasarkan timbangan syari’at Islam. Namun sayangnya mereka tidak pernah menyibukkan diri dengan ilmu. Kajian-kajian yang mereka adakan hanyalah berdasarkan apa yang ditulis oleh wartawan di majalah dan koran-koran. Alangkah baiknya jika mereka mempelajari ilmu Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shahiihah daripada kesibukan mereka membaca serta “menganalisis” berita koran, majalah, televisi, radio, dan media-media lainnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=8372105893582766617#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt; Nasihat kami kepada kaum muslimin - khususnya para generasi muda Islam -; tahanlah lisan-lisan kita dari berkata tanpa ilmu. Kita sering berbicara tentang Sistem Politik Islam, Sistem Ekonomi Islam, Sistem Pendidikan Islam, atau yang semisal; namun kita jarang mengkaji Tafsir Al-Qur’an, tidak pernah membuka Shahih Bukhari-Muslim, atau tidak akrab dengan kitab-kitab ulama salaf. Lantas, bagaimana bisa kita “memaksakan diri” berbicara masalah umat ? Orang yang tidak punya apa-apa tentu tidak bisa memberikan apa-apa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4254596231959459245-2841747195380895101?l=kerudungkinan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://abul-jauzaa.blogspot.com/2008/09/haruskah-setiap-orang-berpolitik.html' title='Haruskah Setiap Orang Berpolitik ?'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4254596231959459245/posts/default/2841747195380895101'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4254596231959459245/posts/default/2841747195380895101'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kerudungkinan.blogspot.com/2008/10/haruskah-setiap-orang-berpolitik.html' title='Haruskah Setiap Orang Berpolitik ?'/><author><name>kerudung kinan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4254596231959459245.post-2457718228779123426</id><published>2008-09-23T13:57:00.001+07:00</published><updated>2008-09-23T13:59:30.108+07:00</updated><title type='text'>Hukum Mengirim Pahala kepada Mayit</title><content type='html'>Permasalahan tentang sampainya pahala yang dilakukan orang yang masih hidup kepada mayit telah menjadi satu bahasan yang &lt;em&gt;mu’tabar&lt;/em&gt; sejak berabad-abad silam. Satu hal yang perlu digarisbawahi adalah, bahwa mereka (para ulama) &lt;strong&gt;sepakat&lt;/strong&gt; akan sampainya pahala yang dilakukan oleh orang yang masih hidup kepada si mayit sebatas yang disebutkan secara khusus oleh dalil. Yang menjadi khilaf di antara mereka adalah amal-amal selain yang disebutkan khusus oleh dalil. Apakah amal-amal tersebut bisa diqiyaskan secara mutlak atau tidak sehingga memberikan konsekuensi sampainya pahala kepada si mayit ? Sebagian ulama berpendapat bisa diqiyaskan, sebagian lain berpendapat tidak bisa diqiyaskan. Dari sinilah kemudian khilaf muncul. Adapun khilaf tersebut bisa diterangkan sebagai berikut :&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;p&gt;Bahwasannya setiap amal ibadah yang dilakukan oleh manusia yang diperuntukkan pahalanya kepada seorang muslim yang telah meninggal dunia adalah boleh secara mutlak dan pahalanya akan bermanfaat bagi orang yang telah meninggal tersebut. Ini adalah pendapat masyhur dari Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad, dan sebagian shahabat Imam Asy-Syafi’i. Ada yang menyebutkan bahwa ini merupakan pendapat jumhur &lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=8372105893582766617#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt;. &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p&gt;Bahwasannya tidak sampai kepada mayit kecuali apa yang diterangkan oleh dalil tentang pengesahan (untuk) memberikan amalan/pahala kepada mayit, yaitu doa, shadaqah, haji, dan ’umrah. Adapun di luar hal tersebut, maka tidak disyari’atkan dan amalan/pahala yang diniatkan oleh orang yang masih hidup tidak akan sampai pada orang yang telah meninggal dunia. Ini adalah pendapat masyhur dari Imam Malik dan Imam Syafi’i.&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=8372105893582766617#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Dalil yang Dipergunakan oleh Kelompok Pertama&lt;/strong&gt; &lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;p align="justify"&gt;Hadits ’Aisyah radliyallaahu ’anhaa bahwasannya ada seorang laki-laki yang mendatangi Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam dan berkata : &lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;يا رسول الله إن أمي افتلتت نفسها ولم توص وأظنها لو تكلمت تصدقت أفلها أجر إن تصدقت عنها قال نعم&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;”Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku telah meninggal dunia secara mendadak dan tidak sempat berwasiat. Saya kira, jika ia sempat berbicara niscaya ia akan bershadaqah. Adakah baginya pahala jika saya bershadaqah untuknya ?”. Maka beliau shallallaahu ’alaihi wasallam menjawab : &lt;em&gt;”Ya”&lt;/em&gt; [HR. Bukhari no. 1322 dan Muslim no. 1004]. &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p align="justify"&gt;Hadits ’Aisyah radliyallaahu ’anhaa bahwasannya Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam pernah bersabda : &lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 130%;"&gt;من مات وعليه صيام صام عنه وليه&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;”Barangsiapa yang meninggal dunia dan ia masih memiliki kewajiban puasa, maka hendaklah walinya berpuasa untuknya”&lt;/em&gt; [HR. Bukhari no. 1851, Muslim no. 1147, Abu Dawud no. 2400, dan yang lainnya]. &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p align="justify"&gt;Hadits Abu Qatadah radliyallaahu ‘anhu dimana ia pernah menanggung (melunasi) hutang sebesar dua dinar dari si mayit yang kemudian dengan itu Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : &lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;الآن حين بردت عليه جلده&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;“Sekarang, menjadi dinginlah kulitnya”&lt;/em&gt; [HR. Al-Hakim 2/74 bersama &lt;em&gt;At-Tattabu’&lt;/em&gt; no. 2401. Ia berkata : “Isnadnya shahih namun tidak dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim]. &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p align="justify"&gt;Dan lain-lain. &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p align="justify"&gt;Dalil-dalil di atas dan yang semisal diqiyaskan secara mutlak terhadap amalk-amal lain yang dengan itu dapat bermanfaat bagi si mayit. Contoh dalam hal ini adalah kirim pahala amalan dzikir dan bacaan Al-Qur’an. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Ibnu Taimiyyah pernah ditanya tentang pembacaan Al-Qur’an dan beberapa dzikir yang dilakukan oleh ahli mayit yang kemudian dihadiahkan kepada si mayit, maka beliau menjawab :&lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;يصل إلى الميت قراءة أهله، وتسبيحهم، وتكبيرهم، وسائر ذكرهم لله تعالى، إذا أهدوه إلى الميت، وصل إليه‏.‏ والله أعلم‏.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;‏ &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;”Sampai kepada mayit (pahala) bacaan-bacaan dari keluarganya dan tasbih-tasbihnya, takbir-takbirnya, serta dzikirnya kepada Allah ta’ala; apabila ia berniat untuk menghadiahkan pahalanya (kepada si mayit), maka sampai kepadanya. Wallaahu a’lam” [&lt;em&gt;Majmu’ Fataawaa&lt;/em&gt; 24/324]. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Dalil-Dalil yang Dipakai oleh Kelompok Kedua &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Pada dasarnya dalil yang dipakai oleh kelompok pertama dipakai pula oleh kelompok kedua. Namun, kelompok kedua ini hanya mengkhususkan amalan-amalan yang sampai adalah sebatas yang disebutkan oleh dalil saja. Tidak diqiyaskan kepada yang lain. Dalil yang dipergunakan untuk membanguna pendapat tersebut antara lain : &lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;p&gt;Firman Allah ta’ala : &lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;وَأَن لّيْسَ لِلإِنسَانِ إِلاّ مَا سَعَى&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;“Dan bahwasannya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang diusahakannya”&lt;/em&gt; [QS. An-Najm : 39]. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Ayat ini mengandung pengertian : ”Dan tidaklah seseorang yang berbuat itu dibalas melainkan dari perbuatannya itu sendiri”. &lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;p&gt;Hadits Abu Hurairah radliyallaahu ’anhu bahwasannya Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda : &lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;إذا مات الإنسان انقطع عنه عمله إلا من ثلاثة إلا من صدقة جارية أو علم ينتفع به أو ولد صالح يدعو له&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;”Apabila manusia telah meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali atas tiga hal : shadaqah jaariyah, atau ilmu yang dimanfaatkan, atau anak shalih yang mendoakannya”&lt;/em&gt; [HR. Muslim no. 1631]. &lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p align="justify"&gt;An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim mengatakan : &lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;وأما قراءة القرآن فالمشهور من مذهب الشافعي أنه لا يصل ثوابها إلى الميت........ ودليل الشافعي وموافقيه قول اللهِ تعالى : وَأَن لّيْسَ لِلإِنسَانِ إِلاّ مَا سَعَى. وقول النبي صلى الله عليه وسلم : إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث: صدقة جارية أو علم ينتفع به أو ولد صالح يدعو له &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;”Adapun bacaan Al-Qur’an (yang pahalanya dikirmkan kepada si mayit), maka yang masyhur dalam madzhab Syafi’i adalah bahwa perbuatan tersebut tidak akan sampai pahalanya kepada mayit yang dikirimi...... Adapun dalil Imam Syafi’i dan para pengikutnya adalah firman Allah (yang artinya) : &lt;em&gt;”Dan tidaklah seseorang itu memperoleh balasan kecuali dari yang ia usahakan”&lt;/em&gt; (QS. An-Najm : 39); dan juga sabda Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam (yang artinya) : &lt;em&gt;”Apabila anak Adam telah meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali atas tiga hal : shadaqah jaariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau anak shalih yang mendoakannya”&lt;/em&gt; [Lihat &lt;em&gt;Syarh Shahih Muslim&lt;/em&gt; oleh An-Nawawi 1/90]. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Al-Haitsami dalam &lt;em&gt;Al-Fatawaa Al-Kubra Al-Fiqhiyyah&lt;/em&gt; telah berkata : &lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;الميت لا يقرأ عليه مبني على ما أطلقه المقدمون من أن القراءة لا تصله أي الميت لأن ثوابها للقارء. والثواب المرتب على عمل لا ينقل عن عامل ذلك العمل. قال اللهِ تعالى : وَأَن لّيْسَ لِلإِنسَانِ إِلاّ مَا سَعَى. &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;“Mayit, tidak boleh dibacakan apapun berdasarkan keterangan yang mutlak dari ulama’ mutaqaddimiin (terdahulu); bahwa bacaan (yang pahalanya dikirimkan kepada mayit) adalah tidak sampai kepadanya. Sebab pahala bacaan itu adalah untuk pembacanya saja. Sedang pahala hasil amalan tidak bisa dipindahkan dari ’aamil (orang yang mengamalkan) perbuatan tersebut, berdasarkan firman Allah ta’ala (yang artinya) : &lt;em&gt;”Dan tidaklah seseorang itu memperoleh balasan kecuali dari yang ia usahakan” &lt;/em&gt;(QS. An-Najm : 39) [Lihat &lt;em&gt;Al-Fatawaa Al-Kubraa Al-Fiqhiyyah&lt;/em&gt; oleh Al-Haitsami 2/9]. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Ibnu Katsiir dalam &lt;em&gt;Tafsir&lt;/em&gt;-nya ketika menafsirkan Surat An-Najm ayat 39 berkata : &lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;أي كما لا يحمل عليه وزر غيره, كذلك لا يحصل من الأجر إلا ما كسب هو لنفسه, ومن هذه الاَية الكريمة استنبط الشافعي رحمه الله ومن اتبعه, أن القراءة لا يصل إهداء ثوابها إلى الموتى, لأنه ليس من عملهم ولا كسبهم ولهذا لم يندب إليه رسول الله صلى الله عليه وسلم أمته ولا حثهم عليه ولا أرشدهم إليه بنص ولا إيماء, ولم ينقل ذلك عن أحد من الصحابة رضي الله عنهم, ولو كان خيراً لسبقونا إليه, وباب القربات يقتصر فيه على النصوص ولا يتصرف فيه بأنواع الأقيسة والاَراء&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;”Yakni sebagaimana dosa seseorang tidak dapat menimpa kepada orang lain. Demikian juga manusia tidak memperoleh pahala melainkan dari hasil amalnya sendiri. Dan dari ayat yang mulia ini (ayat 39 QS. An-Najm), Imam Asy-Syafi’i dan ulama-ulama lain yang mengikutinya mengambil kesimpulan bahwa bacaan yang pahalanya dikirimkan kepada mayit adalah tidak dapat sampai, karena bukan dari hasil usahanya sendiri. Oleh karena itu Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam tidak pernah menganjurkan umatnya untuk mengamalkannya (pengiriman pahala bacaan), dan tidak pernah memberikan bimbingan, baik dengan nash maupun dengan isyarat. Dan tidak ada seorang shahabat pun yang pernah mengamalkan perbuatan tersebut. Kalaupun amalan semacam itu memang baik, tentu mereka lebih dahulu mengerjakannya, padahal amalan pendekatan diri kepada Allah tersebut hanya terbatas pada nash-nash (yang ada dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah) dan tidak boleh dipalingkan dengan qiyas-qiyas dan pendapat-pendapat” [Lihat &lt;em&gt;Tafsir Al-Qur’aanil-’Adhiim li-Bni Katsiir&lt;/em&gt;]. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Tarjih &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Melihat keseluruhan dalil yang disebutkan (&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;baik yang tertulis ataupun yang tidak tertulis dalam artikel ini&lt;/span&gt;), maka pendapat yang paling kuat adalah pendapat yang menyatakan tidak sampainya pahala yang dilakukan oleh orang yang masih hidup kepada si mayit kecuali yang disebutkan secara khusus oleh dalil. QS. An-Najm ayat 39 merupakan nash yang sangat tegas bahwa seseorang itu hanyalah akan mendapat balasan (baik pahala ataupun siksa) dari apa yang ia perbuat sendiri. Hadits Abu Hurairah radliyallaahu 'anhu juga menjelaskan bahwa setelah seseorang itu meninggal, maka terputuslah segala amal yang dapat bermanfaat baginya. Adapun beberapa dalil yang menjelaskan tentang sampainya amal dan pahala – yang sama-sama disebutkan oleh kelompok pertama maupun kedua – merupakan kasus-kasus tertentu sebagai pengkhususan (&lt;em&gt;takhshish&lt;/em&gt;) atas keumuman ayat. Oleh karena itu, tidak bisa ia diqiyaskan dengan kasus-kasus (amal-amal) lain secara mutlak. Apalagi telah shahih perkataan Ibnu ’Abbas radliyallaahu ’anhuma yang menguatkan tarjih ini : &lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;لا يصلي أحد عن أحد ولا يصوم أحد عن أحد ولكن يطعم عنه مكان كل يوم مدا من حنطة&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;”Seseorang tidak boleh shalat untuk menggantikan shalat orang lain, dan tidak pula puasa untuk menggantikan puasa orang lain. Akan tetapi memberikan makanan darinya setiap hari sebanyak satu mud biji gandum” [HR. An-Nasa’i dalam &lt;em&gt;Al-Kubraa&lt;/em&gt; no. 2918 dan Ath-Thahawi dalam &lt;em&gt;Musykilul-Aatsaar&lt;/em&gt; 3/141; shahih]. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Pemahamannya adalah, kita tidak diperkenankan untuk melakukan shalat (baik shalat wajib atau sunnah) bagi orang lain (baik yang masih hidup, apalagi yang telah meninggal). Begitu pula dengan amalan puasa &lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=8372105893582766617#_ftn3" name="_ftnref3"&gt;[3]&lt;/a&gt;. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Selain itu alasan yang menjadi latar belakang tarjih ini adalah : &lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;p&gt;Prinsip dasar dalam ibadah yaitu &lt;em&gt;tawaquf&lt;/em&gt; (diam) sampai terdapat dalil yang menunjukkan disyari’atkannya. Sedangkan di sini hanya terdapat dalil yang menunjukkan pensyariatan sebagian saja, sehingga diharuskan meninggalkan selain itu. &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p align="justify"&gt;Tidak pernah terdengar pada masa Nabi shallallaahu ’alaihi wasallamn dan juga masa para shahabatnya bahwa ada seseorang yang membaca Al-Qur’an kemudian menghadiahkan pahalanya kepada si mayit. Kalaupun itu merupakan kebaikan, pastilah mereka telah mendahului kita untuk mengerjakannya, karena mereka adalah orang yang paling mengetahui agama Allah dan Rasul-Nya. &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p align="justify"&gt;Pemberlakuan qiyas terhadap ibadah-ibadah yang diterangkan oleh dalil dapat membukakan pintu buat ahli bid’ah untuk memasukkan apa saja yang mereka sukai ke dalam agama Allah. &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p align="justify"&gt;Bahwa para ahli bid’ah di masa sekarang telah mengada-adakan hal-hal yang bathil, seperti mengupah para &lt;em&gt;qaari’&lt;/em&gt; untuk membaca Al-Qur’an dan sebagainya, yang seringkali dilakukan terhadap jenazah beberapa waktu setelah kematiannya. Oleh karena itu, menutup pintu ini berarti tidak memberikan peluang kepada mereka untuk berbuat sesukanya. &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p align="justify"&gt;Kebanyakan manusia pada masa sekarang (kecuali orang-orang yang dirahmati oleh Allah) telah melupakan ibadah-ibadah yang disyariatkan, yang terdapat dalil shahih tentang bolehnya menghadiahkan pahala kepada mayit; sebaliknya, mereka berpegang kepada apa-apa yang tidak terdapat dalil padanya. &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p align="justify"&gt;Semoga tulisan ringkas ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan bagi kita semua. Amien. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;allaahu a’lam bish-shawwab. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: verdana; font-size: 85%;"&gt;Abul-Jauzaa’ Al-Bogory Al-Wonogiry – Sya’ban 1429.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;Catatan kaki :&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=8372105893582766617#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt; &lt;em&gt;Al-Majmu’ Syarhul-Muhadzdzab&lt;/em&gt; oleh An-Nawawi 15/522 dan &lt;em&gt;Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah&lt;/em&gt; oleh Ibnu Abil-‘Izz Al-Hanafy (tahqiq At-Turky dan takhrij Al-Arna’uth) hal. 664. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=8372105893582766617#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt; &lt;em&gt;Al-Majmu’ Syarhul-Muhadzdzab&lt;/em&gt; oleh An-Nawawi 15/521 dan &lt;em&gt;Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah&lt;/em&gt; oleh Ibnu Abil-‘Izz Al-Hanafy (tahqiq At-Turky dan takhrij Al-Arna’uth) hal. 664. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=8372105893582766617#_ftnref3" name="_ftn3"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt; Hadits : &lt;em&gt;”Barangsiapa yang meninggal dunia dan ia masih memiliki kewajiban puasa, maka hendaklah walinya berpuasa untuknya”&lt;/em&gt; ; terdapat perbedaan pendapat mengenai jenis puasa yang dimaksud. Apakah ia merupakan jenis puasa Ramadlan, puasa qadla’, puasa nadzar, atau puasa yang lainnya ? Yang rajih, puasa yang dimaksudkan dalam hadits ini adalah puasa nadzar. Penunjukan tersebut dijelaskan dalam hadits yang lain : &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;&lt;strong&gt;عن بن عباس : أن امرأة ركبت البحر فنذرت إن نجاها الله أن تصوم شهرا فنجاها الله فلم تصم حتى ماتت فجاءت ابنتها أو أختها إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فأمرها أن تصوم عنها &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;Dari Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma : “Bahwasannya ada seorang wanita yang naik kapal lalu ia bernadzar jika Allah menyelematkan ia (sampai ke daratan) ia akan berpuasa selama sebulan. Allah pun kemudian menyelamatkannya. Wanita tersebut belum berpuasa (memenuhi nadzarnya) hingga ia meninggal dunia. Maka datanglah anak perempuannya atau saudara perempuannya kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Maka beliau memerintahkannya untuk berpuasa untuknya” [HR. Abu Dawud no. 3308; shahih].&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;disadur dari : abul-jauzaa.blogspot.com&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4254596231959459245-2457718228779123426?l=kerudungkinan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4254596231959459245/posts/default/2457718228779123426'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4254596231959459245/posts/default/2457718228779123426'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kerudungkinan.blogspot.com/2008/09/hukum-mengirim-pahala-kepada-mayit.html' title='Hukum Mengirim Pahala kepada Mayit'/><author><name>kerudung kinan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4254596231959459245.post-2129230688623069707</id><published>2008-09-16T07:15:00.002+07:00</published><updated>2008-09-16T07:20:41.130+07:00</updated><title type='text'>PERINTAH MENUNDUKKAN PANDANGAN DARI YANG HARAM</title><content type='html'>&lt;a href="http://abul-jauzaa.blogspot.com/2008/08/perintah-menundukkan-pandangan-dari.html"&gt;&lt;/a&gt;&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt; &lt;/h3&gt;   &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;p align="justify"&gt;Oleh : Faishal bin ’Abduh Qa’id Al-Hasyidi&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;u&gt;Dalil dari Al-Qur’an&lt;/u&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Allah berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ * وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat". Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya”&lt;/em&gt; [QS. An-Nuur : 30-31].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Katsir berkata : «Ini adalah perintah dari Allah ’azza wa jalla kepada hamba-hamba-Nya mukminin untuk menundukkan pandangan-pandangan mereka dari perkara-perkara yang diharamkan bagi mereka. Mereka tidak memandang kecuali pada apa yang diperbolehkan bagi mereka dan untuk menundukkan pandangan dari yang diharamkan, apabila kebetulan memandang kepada yang haram tanpa disengaja maka langsung memalingkan pandangannya secepat mungkin” ». &lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=8372105893582766617#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hafidh Abu Bakr Al-Amiriy rahimahullah berkata ketika menafsirkan ayat {&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;} &lt;em&gt;”Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya”&lt;/em&gt; : «Dari yang diharamkan atas mereka &lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=8372105893582766617#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt;. Dan lafadh (&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;مِنْ&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;) maknanya adalah sebagian&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=8372105893582766617#_ftn3" name="_ftnref3"&gt;[3]&lt;/a&gt;, seolah-olah Allah mengkhususkan bahaya dan keharaman satu jenis dari pandangan, yaitu sebagaimana yang telah aku isyaratkan, dan tidak mengharamkan sebagian pandangan kepada mahram dan kepada siapa saja yang ada kebutuhan yang menuntut untuk memandangnya.&lt;br /&gt;Kemudian setelahnya disebutkan wanita secara khusus, padahal wanita masuk dalam keumuman khithab (pembicaraan) syari’at, karena mengikuti laki-laki. Allah berfirman : {&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;} &lt;em&gt;”Dan katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya”&lt;/em&gt; &lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=8372105893582766617#_ftn4" name="_ftnref4"&gt;[4]&lt;/a&gt; - sebagai penekanan dalam masalah pandangan dan sebagai kehati-hatian dalam menjaga kemaluan dari zina dan bahaya yang lain, dan agar orang tidak salah paham bahwa perintah itu khusus bagi laki-laki saja ».&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=8372105893582766617#_ftn5" name="_ftnref5"&gt;[5]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-’Allamah Ibnul-Qayyim berkata : «”Allah memerintahkan Nabi-Nya shallallaahu ’alaihi wasallam agar memerintahkan kaum mukminin untuk menundukkan pandangan mereka, menjaga kemaluan mereka, dan memberitahukan kepada mereka bahwa Allah menyaksikan amal-amal mereka. Allah berfirman : &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;يَعْلَمُ خَائِنَةَ الأعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;”Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati”&lt;/em&gt; [QS. Ghaafir : 19].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan karena awal dari itu semua adalah pandangan. Maka Allah menjadikan perintah menundukkan pandangan lebih dahulu daripada menjaga kemaluan”».&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=8372105893582766617#_ftn6" name="_ftnref6"&gt;[6]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul-Qayyim berkata pula : «”Ketika menundukkan pandangan itu adalah inti untuk menjaga kemaluan, maka Allah memulai penyebutannya dengan menundukkan pandangan, dan karena pengharamannya adalah pengharaman wasilah/perantara (untuk menuju maksiat) sehingga kadang dibolehkan karena adanya maslahat yang lebih besar, dan kadang diharamkan apabila dikhawatirkan adanya kerusakan yang tidak ada padanya maslahat yang lebih besar daripada kerusakan tersebut. Maka Allah tidak memerintahkan untuk menundukkan pandangan secara mutlak, tetapi memerintahkan untuk menundukkan sebagian saja. Adapun menjaga kemaluan, maka tetap wajib dalam setiap keadaan, dan tidak diperbolehkan kecuali dengan haknya. Oleh sebab itu, Allah mengumumkan perintah untuk menjaganya dan Allah telah menjadikan mata sebagai cermin hati. Apabila seorang hamba itu menundukkan pandangannya, maka hatinya akan menundukkan syahwat dan keinginan-keinginannya. Dan apabila ia mengumbar pandangannya, maka hati akan mengumbar syahwatnya”».&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;u&gt;Dalil-Dalil dari As-Sunnah An-Nabawiyyah &lt;/u&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;p align="justify"&gt;Dari Jarir bin ‘Abdillah radliyallaahu ‘anhu ia berkata : &lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ نَظَرِ الْفُجَاءَةِ فَأَمَرَنِيْ أَنْ أَصْرِفَ بَصَرِي&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;”Aku bertanya kepada Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam dari pandangan tiba-tiba (tidak sengaja). Mak beliau memerintahkanku untuk memalingkan pandanganku”.&lt;/em&gt; &lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=8372105893582766617#_ftn7" name="_ftnref7"&gt;[7]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Imam An-Nawawi berkata : «”Makna pandangan tiba-tiba adalah pandangan kepada wanita asing/nukan mahram (&lt;em&gt;ajnabiyyah&lt;/em&gt;) tanpa sengaja, tidak ada dosa baginya pada awal pandangan, dan wajib untuk memalingkannya pada saat itu juga. Apabila dipalingkan saat itu juga maka tidak berdosa, akan tetapi apabila terus-menerus memandang, maka berdosa berdasarkan hadits ini, karena Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk memalingkan pandangannya. Padahal Allah ‘azza wa jalla berfirman : {&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;} &lt;em&gt;”Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya”&lt;/em&gt;».&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=8372105893582766617#_ftn8" name="_ftnref8"&gt;[8]&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p align="justify"&gt;Dari Buraidah radliyallaahu ‘anhu, bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : &lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;يَا عِلِيُّ، لَا تُتْبِعِ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ، فَإِنَّ لَكَ الْأُولَى وَلَيْسَتْ لَكَ الآخِرَةُ &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;“Wahai ‘Ali, janganlah kamu mengikutkan pandangan dengan pandangan. Sesungguhnya bagimu hanyalah pandangan yang pertama, dan bukan yang setelahnya”&lt;/em&gt;.&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=8372105893582766617#_ftn9" name="_ftnref9"&gt;[9]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Haafidh Abu Bakr Al-‘Amiriy berkata : «”Yaitu pandangan yang pertama adalah pandangan tiba-tiba tanpa kesengajaan, maka bagimu maaf, tanpa dosa. Dan tidak boleh bagimu pandangan yang kedua apabila kamu mengikutkannya dengan pandangan untuk menikmati. Ini adalah pembicaraan yang ditujukan kepada ‘Ali radliyallaahu ‘anhu bersamaan dengan pengetahuan beliau terhadap kezuhudan dan kehati-hatian ‘Ali. Penjagaan ‘Ali terhadap batinnya, juga pada lahirnya. Akan tetapi beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam tetap memperingatkan ‘Ali dari pandangan dan memberikan keamanan kepadanya dari bahaya, agar orang-orang rendahan tidak mengaku-ngaku aman, tertipu dengan kemaksuman dan keamanan dari fitnah/godaan. Dan tidak ada yang merasa aman dari makar Allah kecuali kaum yang merugi”».&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=8372105893582766617#_ftn10" name="_ftnref10"&gt;[10]&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p align="justify"&gt;Dari Abu Hurairah radliyallaahu ’anhu, dari Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam bahwasannya beliau bersabda : &lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;كُتِبَ عَلَى ابْنِ أدَمَ نَصِيْبُهُ مِنَ الزِّنَا، مُدْرِكٌُ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ، فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ، وَالْأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الْإِسْتِمَاعُ، وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلَامُ، وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ، وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا، وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى، وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;”Telah dituliskan atas Bani Adam bagian dari zina yang pasti ia melakukannya, tidak bisa tidak. Maka, zina kedua mata adalah melihat (yang diharamkan), zina kedua telinga adalah mendengar (yang diharamkan), zina lisan adalah berkata-kata (yang diharamkan), zina tangan adalah memegang (yang diharamkan), zina kaki adalah melangkah (ke tempat yang diharamkan), hati berkeinginan dan berangan-angan, dan kemaluan membenarkan itu semua atau mendustakannya”.&lt;/em&gt;&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=8372105893582766617#_ftn11" name="_ftnref11"&gt;[11]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Baththal rahimahullah berkata : «”Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam menamakan pandangan dan pembicaraan sebagai zina, karena keduanya menyeret kepada zina yang sesungguhnya. Oleh sebab itu beliau bersabda : &lt;em&gt;”....dan kemaluan yang membenarkan itu semua dan yang mendustakannya”&lt;/em&gt;».&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=8372105893582766617#_ftn12" name="_ftnref12"&gt;[12]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul-Qayyim rahimahullah berkata : «”Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam memulai dengan zina mata karena itu adalah awal dari zina tangan, zina kaki, zina hati, dan zina kemaluan. Dan Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam menegaskan bahwa ucapan adalah zina lisan karena zinanya bibir adalah mencium, dan kemaluan lah yang membenarkan itu semua apabila benar-benar melakukan perbuatan (zina); atau mendustakan apabila tidak melaksanakannya”».&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=8372105893582766617#_ftn13" name="_ftnref13"&gt;[13]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Imam Asy-Syinqithiy rahimahullah berkata : «”Yang menjadikan dalil adalah sabda beliau shallallaahu ’alaihi wasallam : &lt;em&gt;”Maka zina kedua mata adalah melihat”&lt;/em&gt;; memutlakkan penyebutan zina pada mata adalah ketika dalil yang jelas tidak memastikan keharamannya serta memperingatkan darinya. Dan hadits-hadits yang semacam ini adalah sangat banyak lagi diketahui.&lt;br /&gt;Dan telah diketahui bahwasannya pandangan adalah sebab terjadinya zina, karena seseorang yang banyak memandang kecantikan wanita misalnya, maka kadang-kadang hal itu dapat menyebabkan kecintaan dalam hatinya yang kemudian dapat menyebabkan kebinasaannya. &lt;em&gt;Wal-’iyaadzubillah&lt;/em&gt;».&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=8372105893582766617#_ftn14" name="_ftnref14"&gt;[14]&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p align="justify"&gt;Dari ’Ali bin Abi Thalib radliyallaahu ’anhu ia berkata : ”Bahwasannya Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam membonceng Al-Fadhl bin ’Abbas di belakang beliau ketika haji, kemudian datang seorang wanita dari Khats’am yang meminta fatwa kepada Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam. Maka Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam memalingkan kepala Al-Fadhl agar tidak melihat kepada wanita tersebut. Maka paman beliau – Al-’Abbas – berkata kepada beliau : ”Engkau memalingkan kepala anak paman engkau, wahai Rasululah ?”. Maka beliau menjawab : &lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;رَأَيْتُ شَابًّا وَشَابَّةً فَلَمْ آمَنِ الشَّيْطَانَ عَلَيْهِمَا&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;”Aku melihat seorang pemuda dan seorang pemudi, maka aku tidak merasa aman dari syaithan terhadap mereka berdua”&lt;/em&gt;&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=8372105893582766617#_ftn15" name="_ftnref15"&gt;[15]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Haafidh Abu Bakr Al-’Amiriy rahimahullah berkata : «”Yaitu (beliau khawatir) hati mereka sibuk saling memikirkan yang lain apabila memandang. Maka lihatlah bagaimana beliau melakukannya pada anak paman beliau sendiri di hadapan ayahnya saat dia sibuk dengan perkara haji dan beliau tidak merasa aman terhadap tabiat dari fitnah, sedangkan syaithan terus menggoda dan menguji”».&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=8372105893582766617#_ftn16" name="_ftnref16"&gt;[16]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku Faishal bin ’Abduh Qa’id Al-Hasyidi – yaitu penulis risalah ini) katakan : Hadits ini diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas dengan lafadh yang berbeda sebagaimana terdapat dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim &lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=8372105893582766617#_ftn17" name="_ftnref17"&gt;[17]&lt;/a&gt;, dari ’Abdullah bin ’Abbas radliyallaahu ’anhuma ia berkata : ”Al-Fadhl pernah membonceng Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam, kemudian datang seorang wanita dari Khats’am, maka Al-Fadhl melihat kepada wanita tersebut dan wanita tersebut dan wanita tersebut pun melihat kepadanya. Maka Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam memalingkan wajah Al-Fadhl ke arah yang lain”. Ini adalah dalil yang paling jelas sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul-Qayyim rahimahullah : «”Penghalangan dan pengingkaran dengan perbuatan, kalau seandainya memandang itu diperbolehkan, tentu Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam akan membiarkan Al-Fadhl”».&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=8372105893582766617#_ftn18" name="_ftnref18"&gt;[18]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Baththal berkata : «”Di dalam hadits ini terdapat perintah untuk menundukkan pandangan karena takut fitnah/godaan”. Ia juga berkata : ”Menegaskan hal itu bahwa beliau shallallaahu ’alaihi wasallam tidak emmalingkan wajah Al-Fadhl sehingga Al-Fadhl merasa tertarik dan kagum atas wanita tersebut, sehingga beliau takut fitnah atas diri Al-Fadhl”. Ia juga berkata : ”Dalam hadits ini menunjukkan menangnya tabiat kemanusiaan dalam diri anak Adam dan lemahnya tabiat tersebut dari perkara-perkara yang menguasainya seperti condong kepada wanita dan kagum terhadap mereka”».&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=8372105893582766617#_ftn19" name="_ftnref19"&gt;[19]&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;u&gt;Ijma’ Ulama’ atas Keharaman Memandang Wanita yang Bukan Mahram&lt;/u&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sebagian dalil yang menunjukkan haramnya memandang kepada yang tidak dihalalkan untuk memandangnya. Dan ulama telah ber-ijma’ atas haramnya memandang orang asing (bukan mahram) baik laki-laki ataupun perempuan yang sebagiannya memandang kepada yang lain jenis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Haafidh Abu Bakr Al-’Amiriy rahimahullah berkata : «”Sesungguhnya yang di-ijma’-kan oleh umat dan disepakati oleh ulama salaf serta khalaf dari kalangan fuqahaa’ dan para imam atas keharamannya adalah memandang orang asing baik laki-laki atau perempuan, sebagiannya kepada yang lainnya. Yaitu mereka yang tidak ada hubungan rahim dan nasab, dan bukan pula mahram karena suatu sebab seperti susuan yang lain – maka mereka itu haram, sebagian memandang yang lain... maka memandang dan berduaan haram atas mereka menurut kaum muslimin secara keseluruhan”».&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=8372105893582766617#_ftn20" name="_ftnref20"&gt;[20]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Imam Ibnu Hazm rahimahullah berkata : «”Ulama sepakat atas wajibnya menundukkan pandangan dari selain &lt;em&gt;harimah&lt;/em&gt;, istri, dan budak kecuali bagi orang yang ingin menikahi wanita, maka halal baginya untuk memandang kepada wanita tersebut”».&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=8372105893582766617#_ftn21" name="_ftnref21"&gt;[21]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qurthubi berkata : «”Sungguh Asy-Sya’biy membenci seseorang yang terus-menerus memandang kepada anak, ibu, dan saudarinya. Dan jaman Asy-Sya’biy lebih baik daripada jaman kita ini, dan diharamkan atas laki-laki untuk memandang kepada yang haram, pandangan bersyahwat dan berulang-ulang”».&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=8372105893582766617#_ftn22" name="_ftnref22"&gt;[22]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku (Faishal bin ’Abduh Qa’id Al-Hasyidi – yaitu penulis risalah ini) katakan : Semoga Allah merahmati Al-Qurthubi. Maka bagaimana sikap beliau seandainya menyaksikan jaman kita yang merupakan jaman dengan model pakaian transparan dan membentuk tubuh ? Dan Islam benar-benar menjadi asing di kalangan pemeluknya, dan senantiasa terus-menerus ada pengaduan dari para pemuda tentang apa yang mereka dapatkan dalam keluarga mereka dari pakaian-pekaian yang menjerumuskan mereka – atau hampir-hampir menjerumuskan mereka – ke dalam jerat-jerat fitnah (godaan/cobaan). Maka, apakah orang-orang yang berakal memperhatikan hal ini ?&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: verdana; font-size: 85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: verdana; font-size: 85%;"&gt;disadur dari abul-jauzaa blog&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;Catatan kaki :&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=8372105893582766617#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt; Dengan sedikit perubahan dari &lt;em&gt;Tafsir Ibnu Katsir&lt;/em&gt; (3/282). &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=8372105893582766617#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt; Allah ‘azza wa jalla tidak menyebutkan apa-apa yang harus ditundukkan pandangan darinya, karena hal itu telah diketahui dengan kebiasaan bahwasannya yang dimaksud adalah yang haram. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=8372105893582766617#_ftnref3" name="_ftn3"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt; Ini adalah pendapat yang benar. Ada yang berpendapat bahwa lafadh ini tambahan saja. Ada pula yang mengatakan bahwa lafadh ini sebagai penghubung dengan lafadh sebelumnya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=8372105893582766617#_ftnref4" name="_ftn4"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt; Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata dalam &lt;em&gt;Syarh Muslim&lt;/em&gt; (3/694) : “Pendapat yang benar adalah sebagaimana madzhabnya kebanyakan ulama dan para shahabat bahwasannya diharamkan bagi wanita untuk memandang laki-laki asing sebagaimana diharamkan bagi laki-laki tersebut memandang kepadanya”. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=8372105893582766617#_ftnref5" name="_ftn5"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt; &lt;em&gt;Ahkaamun-Nadhar&lt;/em&gt; karya Al-Haafidh Abu Bakr bin Habib Al-‘Amiriy, hal. 35. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=8372105893582766617#_ftnref6" name="_ftn6"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt; &lt;em&gt;Al-Jawaabul-Kaafiy&lt;/em&gt; oleh Al-‘Allamah Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, hal. 226. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=8372105893582766617#_ftnref7" name="_ftn7"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt; HR. Muslim no. 2159. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=8372105893582766617#_ftnref8" name="_ftn8"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt; &lt;em&gt;Syarhun-Nawawi ‘alaa Shahih Muslim&lt;/em&gt;(14/139). &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=8372105893582766617#_ftnref9" name="_ftn9"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt; HR. At-Tirmidzi no. 2777, Abu Dawud no. 2149, dan Al-Albani berkata dalam &lt;em&gt;Shahih Sunan Abi Dawud &lt;/em&gt;: hasan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=8372105893582766617#_ftnref10" name="_ftn10"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt; &lt;em&gt;Ahkaamun-Nadhar ilal-Muharramat&lt;/em&gt; oleh Al-Haafidh Abu Bakr Al-‘Amiriy, hal. 45. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=8372105893582766617#_ftnref11" name="_ftn11"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;[11]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt; HR. Bukhari no. 6243 dan Muslim no. 2657, dan ini adalah lafadh Muslim. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=8372105893582766617#_ftnref12" name="_ftn12"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;[12]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt; &lt;em&gt;Fathul-Bari&lt;/em&gt; (11/28). &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=8372105893582766617#_ftnref13" name="_ftn13"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;[13]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt; &lt;em&gt;Raudlatul-Muhibbin&lt;/em&gt; hal. 93. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=8372105893582766617#_ftnref14" name="_ftn14"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;[14]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt; &lt;em&gt;Adlwaaul-Bayaan&lt;/em&gt; oleh Asy-Syinqithi (6/191). &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=8372105893582766617#_ftnref15" name="_ftn15"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;[15]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt; Shahih, diriwayatkan oleh Ahmad no. 562 dan At-Tirmidzi no. 885 dan ia berkata : hasan shahih. Al-Albani berkata : hasan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=8372105893582766617#_ftnref16" name="_ftn16"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;[16]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt; &lt;em&gt;Ahkaamun-Nadhar ilal-Muharramat&lt;/em&gt; oleh Al-‘Amiriy, hal. 42. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=8372105893582766617#_ftnref17" name="_ftn17"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;[17]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt; Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 1513 dan Muslim no. 1334. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=8372105893582766617#_ftnref18" name="_ftn18"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;[18]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt; &lt;em&gt;Raudlatul-Muhibbin&lt;/em&gt; hal. 93. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=8372105893582766617#_ftnref19" name="_ftn19"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;[19]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt; &lt;em&gt;Fathul-Bari&lt;/em&gt; (11/10). &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=8372105893582766617#_ftnref20" name="_ftn20"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;[20]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt; &lt;em&gt;Ahkaamun-Nadhar ilal-Muharramat&lt;/em&gt; hal. 32. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=8372105893582766617#_ftnref21" name="_ftn21"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;[21]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt; &lt;em&gt;Maraatibul-Ijma’&lt;/em&gt; oleh Abu Muhammad bin Hazm, hal. 182. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=8372105893582766617#_ftnref22" name="_ftn22"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;[22]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt; &lt;em&gt;Tafsir Al-Qurthubi&lt;/em&gt; (12/223).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4254596231959459245-2129230688623069707?l=kerudungkinan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4254596231959459245/posts/default/2129230688623069707'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4254596231959459245/posts/default/2129230688623069707'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kerudungkinan.blogspot.com/2008/09/perintah-menundukkan-pandangan-dari.html' title='PERINTAH MENUNDUKKAN PANDANGAN DARI YANG HARAM'/><author><name>kerudung kinan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4254596231959459245.post-7264848247129388413</id><published>2008-08-19T11:50:00.000+07:00</published><updated>2008-08-19T12:02:27.978+07:00</updated><title type='text'>Hidup Bijak Bersama Istri</title><content type='html'>&lt;h1 class="title"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;by Bintu Nashrun&lt;/span&gt;    &lt;/h1&gt;&lt;p&gt;Suamiku sering menyebut-nyebut kelebihan wanita lain di depanku . Seolahh-olah dia menyesal menikah denganku.., ” ujar seorang ummahat. Tampak kesedihan terpancar dari wajahnya. Dan, kedua matanya pun berkaca-kaca.Memang, ada kalanya seorang suami tidak puas dengan keadaan istrinya. Ia selalu mengingat kekurangan istrinya &amp;amp; membandingkannya dengan wanita lainBoleh jadi kekurangan istri dirasa cukup berat bagi suami, akan tetapi dalam waktu yang sama, sang istri sesungguhnya juga memiliki banyak kelebihan atau keistimewaan, serta sekian banyak sifat yang terpuji. Ini semua menuntut sang suami untuk perlahan-lahan dan berhati-hati di dalam mengambil sikap. Jangan sampai ia menilai dan meghukum istrinya hanya melalui aib-aibnya saja, akan tetapi ia harus melihat kebaikan dan keburukannya, serta kelebihan dan kekurangannya secara bersamaan. Janganlah ia memberikan keputusan berdasarkan satu sudut pandang saja. Janganlah ia membenci istri karena satu perilaku yang menjadi bagian dari tabiatnya&lt;span id="more-495"&gt;&lt;/span&gt;Allah berfirman:” … Dan bergaullah dengan mereka secara patut, kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (makabersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahalAllah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (An Nisa’:19)Oleh karena itu, janganlah seorang suami membenci istrinya karena perilaku tertentu. Sekali-kali jangan! Nabi bersabda, “Janganlah seorang mukmin itu membenci seorang mukminah. Jika ia benci kepada satu perilaku, maka ia akan puas dengan perilaku yang lainnya.” (Riwayat Muslim)Hendaklah sang suami itu sadar, bahwa ia tidak akan mendapatkan seorang istri yang bebas dari kekurangan. Boleh jadi istrinya itu, dengan segala kekurangan yang ada, tetap lebih baik daripada sekian wanita lainnya, hanya saja ia tidak melihat kekurangan atau aib wanita lainnya itu.Jika engkau ingin mengenal hal itu, peganglah kertas dan pena, dan tulislah kelebihan-kelebihan istrimu dan kekurangan-kekurangannya, tentu engkau akan melihat bahwa kelebihannya jauh lebih banyak daripada kekurangannya. Ketahuilah, bahwa dalam kehidupan rumah tangga ini tidak memungkinkan bagimu untuk mendapatkan seorang istri yang seratus persen sesuai dengan kriteria yang engkau inginkan. Sudah tentu terdapat perbedaan karakter, dan sudah tentu pula bahwa engkau akan melihat sesuatu yang mengagumkanmu dan sesuatu yang tidak menyenangkanmu.Ketahuilah hai para suami, istrimu tidak dan tidak akan seratus persen sebagaimana yang engkau inginkan. Sebab, ia menerima pendidikan yang berbeda dengan pendidikan yang engkau dapatkan, serta memiliki tabiat yang berbeda dengan tabiat yang ada pada dirimu.Terkadang ia memang mirip denganmu dalam beberapa hal, namun berbe da dalam hal lainnya. Oleh karena itu, terimalah kenyataan ini. Janganlah engkau melawan kehidupan dan hendak mengalahkan tabiat yang sudah mengakar, karena tidak mudah mengubahnya. Sekalipun hal itu mungkin, akan tetapi jelas memerlukan waktu yang cukup panjang, kesabaran yang mendalam, latihan secara terus-menerus, nafas yang panjang dan jiwa yang tabah.Selain kurang bersabar terhadap kekurangannya, kadang para suami suka melecehkan akal para istrinya dan cara dia dalam berpikir. Suami yang melakukan hal seperti ini sebenarnya hanya menyebarkan keletihan dan tidak mencari kebahagiaan rumah tangga. Demikian juga, ia adalah seorang suami yang tidak pantas mendapatkan penghormatan dari istrinya, karena yang namanya penghormatan itu adalah sesuatu yang bersifat timbal balik. Sepanjang engkau tidak menghormati orang lain, maka orang tersebut tidak akan menghormatimu, kecuali jika engkau mau hormat kepadanya.Seorang istri yang merasakan bahwa suaminya melakukan hal seperti ini, yaitu pelecehan terhadap akalnya dan caranya dalam berpikir, maka istri tersebut tidak akan memberikan cintanya kepada suaminya. Ada persoalan yang dipahami secara keliru oleh kaum lakihlaki. Yaitu bahwa mereka menganggap akal wanita itu lemah dan kurang cerdas, serta cara berpikirnya bengkok, kurang lurus. Dan bahwa ia tidak mungkin memiliki pendapat yang lurus. Pendapat dan anggapan seperti ini sama sekali tidak ada dasarnya, dan jelas tidak benar. Sumbernya adalah pemahaman yang keliru mengenai beberapa hadits yang berbicara mengenai masalah ini. Misalnya adalah hadits yang menyebutkan bahwa mereka adalah “Orang-orang yang kurang akal dan agamanya.” Redaksi hadits seperti ini dipahami secara keliru oleh sebagian orang. Mereka memahami bahwa kurangnya akal di sini adalah kurangnya kecerdasan atau kebengkokan dalam berpikir. Ini jelas keliru. Yang dimaksudkan di sini adalah sifat lupanya kaum wanita lebih banyak daripada lelaki. Hal itu disebabkan karena ada banyak hal yang dialami oleh kaum wanita yang membuatnya mudah lupa, terlebih dalam kehidupan umum, dimana ia tidak bisa seleluasa kaum lelaki.Dalil mengenai hal itu ialah bahwa Nabi ketika ditanya oleh kaum wanita, “Apakah kekurangan akal dan agama kami, wahai Rasulullah?”Maka beliau menjawab, “Bukankah kesaksian wanita itu adalah separuh dari kesaksian laki-laki?”Kami menjawab, “Ya benar.”Nabi bersabda, “Itulah bentuk kekurangan akalnya.”Nabi bertanya lagi, “Bukankah jika sedang haid, ia tidak mengerjakan shalat dan juga tidak berpuasa?”Kami menjawab, “Ya benar.”Nabi menjawab, “Itulah bentuk kekurangan agamanya.”Dengan demikian, kekurangan yang disebutkan dalam hadits tersebut memiliki makna sebagaimana yang telah kami sebutkan di atas.Demikian juga halnya dengan kekurangan agamanya. Ia tidak berarti kekurangan mengenai hakikat agamanya, akan tetapi kekurangan itu terdapat pada sebagian dari hal-hal peribadahan.Sedangkan dalam hal ini ia tidaklah dihukum karena meninggalkannya. Bahkan ia justru diharamkan untuk mengerjakannya. Wanita yang sedang haid diharamkan mengerjakan shalat dan puasa. Jika ketika itu ia mengerjakan shalat dan puasa, tentu ia berdosa, sekalipun ia berkewajiban menqadha’ puasa, namun ia tidak perlu mengqadha’ shalat, sebagai bentuk peringanan terhadapnya dan rukhsah dari Allah .Akal wanita adalah akal yang harus dihormati. Ada sebagian wanita yang memiliki keistimewaan berupa kecerdasan akal yang lebih hebat dibanding akal kaum laki-laki. Contoh untuk hal ini sangatlah banyak, dan bukanlah di sini tempatnya untuk menyebutkannya.Akan tetapi, bagaimanapun, kecerdasan akal wanita dijadikan oleh Allah dengan garis yang berbeda denga garis kecerdasan laki-laki. Ia merupakan kecerdasan jenis khusus. Oleh karena itu, ia memiliki perhatian-perhatian khusus. Itu merupakan hikmah agung yang hanya diketahui oleh Allah .Boleh jadi hal itu dijadikan untuk memperkaya kehidupan, sehingga kehidupan ini menjadi lebih bervariasi, dan agar laki-laki tidak berkuasa dengan akalnya saja, akan tetapi perasaan wanita yang menggelora itu juga memberikan makna lain bagi kehidupan.Adapun jika dasar keyakinan pada diri laki-laki berkenaan dengan akal wanita bukanlah sebagaimana dijelaskan di atas, dan memang ia telah menikahi yang kurang cerdas atau bengkok pikirannya, maka tidak ada alasan baginya untuk menyebutkan hal itu di hadapannya, atau selalu membodoh-bodohkan pendapatnya. Ia pun harus menerima segala kekurangannya, sepanjang ia menjadi istrinya. Adalah tidak adil jika ia menimbangnya dengan sesuatu yang memang tidak dimiliki olehnya.Yang tak kalah penting lagi adalah pernyertaan istri terkait dengan urusan rumah tangga. Yaitu dalam hal berpikir dan merencanakan suatu hal bersama sang suami, serta bermusyawarah dengannya.Banyak kaum lelaki yang masih berpikiran bahwa “bermusyawarah dengan wanita hanya akan merobohkan rumah tangga.” Bisa jadi hal ini ada benarnya untuk sebagian kaum wanita. Akan tetapi, ada sebagian kaum wanita atau istri yang bila diajak bermusyawarah, maka akal pikiran atau pendapatnya akan bisa memecahkan sekian banyak masalah yang dihadapi….Rasulullah pun tidak segan untuk meminta pendapat istrinya. Jadi… jangan segan untuk mencontoh Rasulullah dalam masalah ini. Setuju?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sumber:FAtawa Vol.IV disadur dari jilbab.or.id&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4254596231959459245-7264848247129388413?l=kerudungkinan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4254596231959459245/posts/default/7264848247129388413'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4254596231959459245/posts/default/7264848247129388413'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kerudungkinan.blogspot.com/2008/08/hidup-bijak-bersama-istri.html' title='Hidup Bijak Bersama Istri'/><author><name>kerudung kinan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4254596231959459245.post-1183757519735984938</id><published>2008-07-28T07:38:00.000+07:00</published><updated>2008-07-28T07:40:31.034+07:00</updated><title type='text'>Adab Berhutang : Bolehkah Berhutang ?</title><content type='html'>Oleh&lt;br /&gt;Ustadz Armen Halim Naro Lc&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai guru, bagaimana kalau mengarang kitab tentang zuhud ?” ucap salah seorang murid kepada Imam Muhammad bin Hasan Asy-Syaibani. Maka beliau menjawab : “Bukankah aku telah menulis kitab tentang jual-beli?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena yang sering terjadi dewasa ini yaitu banyaknya orang salah persepsi dalam memandang hakikat ke-islaman seseorang. Seringkali seorang muslim memfokuskan keshalihan dan ketakwaannya pada masalah ibadah ritualnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga diapun terlihat taat ke masjid, melakukan hal-hal yang sunat, seperti ; shalat, puasa sunat dan lain sebagainya. Di sisi lain, ia terkadang mengabaikan masalah-masalah yang bekaitan dengan muamalah, akhlak dan jual-beli. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengingatkan, agar sebagai muslim, kita harus kaffah. Sebagaimana kita muslim dalam mu’amalahnya dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka seyogyanya juga harus muslim juga dalam mu’amalahnya dengan manusia. Allah berfirman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara kaffah (menyeluruh)” [Al-Baqarah : 208]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya, dialog murid terkenal Imam Abu Hanifah tadi layak dicerna dan dipahami. Seringkali zuhud diterjemahkan dengan pakaian lusuh, makanan sederhana, atau dalam arti kening selalu mengkerut dam mata tertunduk, supaya terlihat sedang tafakkur. Akan tetapi, kalau sudah berhubungan dengan urusan manusia, maka dia tidak menghiraukan yang terlarang dan yang tercela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hutang-pihutang merupakan salah satu permasalahan yang layak dijadikan bahan kajian berkaitan dengan fenomena di atas. Hutang-pihutang merupakan persoalan fikih yang membahas permasalahan mu’amalat. Di dalam Al-Qur’an, ayat yang menerangkan permasalahan ini menjadi ayat yang terpanjang sekaligus bagian terpenting, yaitu dalam surat Al-Baqarah ayat 282. Demikian pentingnya masalah hutang-pihutang ini, dapat ditunjukkan dengan salah satu hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mau menshalatkan seseorang yang meninggal, tetapi masih mempunyai tanggungan hutang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HUTANG HARUS DIPERSAKSIKAN&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.&lt;br /&gt;“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Rabbnya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tidak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka seorang lagi mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil, dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih dapat menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah mu’amalahmu itu), kecuali jika mu’amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli ; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit-menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian) maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah ; Allah mengajarmu ; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” [Al-Baqarah : 282]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai ayat ini, Ibnul Abbas rahimahullah di dalam kitab Ahkam-nya menyatakan : “Ayat ini adalah ayat yang agung dalam mu’amalah yang menerangkan beberapa point tentang yang halal dan haram. Ayat ini menjadi dasar dari semua permasalahan jual beli dan hal yang menyangkut cabang (fikih)” [1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ibnu Katsir rahimahullah, ini merupakan petunjuk dariNya untuk hambaNya yang mukmin. Jika mereka bermu’amalah dengan transaksi non tunai, hendaklah ditulis, agar lebih terjaga jumlahnya dan waktunya dan lebih menguatkan saksi. Dan di ayat lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengingatkan salah satu ayat : “Hal itu lebih adil di sisi Allah dan memperkuat persaksian dan agar tidak mendatangkan keraguan” [2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala : “Maka tulislah …” maksudnya adalah tanda pembayaran untuk megingat-ingat ketika telah datang waktu pembayarannya, karena adanya kemungkinan alpa dan lalai antara transaksi, tenggang waktu pembayaran, dikarenakan lupa selalu menjadi kebiasaan manusia, sedangkan setan kadang-kadang mendorongnya untuk ingkar dan beberapa penghalang lainnya, seperti kematian dan yang lainnya. Oleh karena itu, disyari’atkan untuk melakukan pembukuan hutang dan mendatangkan saksi”. [3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka tulislah…”, secara zhahir menunjukkan, bahwa dia menuliskannya dengan semua sifat yang dapat menjelaskannya di hadapan hakim, apabila suatu saat perkara hutang-pihutang ini diangkat kepadanya. [4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BOLEHKAH BERHUTANG?&lt;br /&gt;Tidak ada keraguan lagi bahwa menghutangkan harta kepada orang lain merupakan perbuatan terpuji yang dianjurkan syari’at,dan merupakan salah satu bentuk realisasi dari hadis Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Baragsiapa yang melapangkan seorang mukmin dari kedurhakaan dunia, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan melapangkan untuknya kedukaan akhirat”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama mengangkat permasalahan ini, dengan memperbandingkan keutamaan antara menghutangkan dengan bersedekah. Manakah yang lebih utama?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun kedua hal tersebut dianjurkan oleh syari’at, akan tetapi dalam sudut kebutuhan yang dharurat, sesungguhnya orang yang berhutang selalu berada pada posisi terjepit dan terdesak, sehingga dia berhutang. Sehingga menghutangkan disebutkan lebih utama dari sedekah, karena seseorang yang diberikan pinjaman hutang, orang tersebut pasti membutuhkan. Adapun bersedekah, belum tentu yang menerimanya pada saat itu membutuhkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Majah meriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau berkata kepada Jibril : “Kenapa hutang lebih utama dari sedekah?” Jibril menjawab, “Karena peminta, ketika dia meminta dia masih punya. Sedangkan orang yang berhutang, tidaklah mau berhutang, kecuali karena suatu kebutuhan”. Akan tetapi hadits ini dhaif, karena adanya Khalid bin Yazid Ad-Dimasyqi. [5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun hukum asal berhutang harta kepada orang lain adalah mubah, jika dilakukan sesuai tuntunan syari’at. Yang pantas disesalkan, saat sekarang ini orang-orang tidak lagi wara’ terhadap yang halal dan yang haram. Di antaranya, banyak yang mencari pinjaman bukan karena terdesak oleh kebutuhan, akan tetapi untuk memenuhi usaha dan bisnis yang menjajikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hutang itu sendiri dapat dibagi menjadi dua bagian. Pertama, hutang baik. Yaitu hutang yang mengacu kepada aturan dan adab berhutang. Hutang baik inilah yang dilakukan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ; ketika wafat, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih berhutang kepada seorang Yahudi dengna agunan baju perang. Kedua, hutang buruk. Yaitu hutang yang aturan dan adabnya didasari dengan niat dan tujuan yang tidak baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun IX/1426H/2005M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Alamat Jl. Solo-Puwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183]&lt;br /&gt;_________&lt;br /&gt;Foot Note.&lt;br /&gt;[1]. Ahkamul Qur’an, Ibnul Arabi, Beirut, Darul Ma’rifah, 1/247&lt;br /&gt;[2]. Tafsir Quranil Azhim, 3/316&lt;br /&gt;[3]. Ahkamul Qur’an, Ibnu Katsir, Madinah, Maktabah Jami’ Ulum wal Hikam, 1993, 1/247&lt;br /&gt;[4]. Ibid&lt;br /&gt;[5]. Sunan Ibnu Majah, no. 2431&lt;br /&gt;disadur dari almanhaj.or.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4254596231959459245-1183757519735984938?l=kerudungkinan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4254596231959459245/posts/default/1183757519735984938'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4254596231959459245/posts/default/1183757519735984938'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kerudungkinan.blogspot.com/2008/07/adab-berhutang-bolehkah-berhutang.html' title='Adab Berhutang : Bolehkah Berhutang ?'/><author><name>kerudung kinan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4254596231959459245.post-8681170583379856188</id><published>2008-07-10T07:16:00.000+07:00</published><updated>2008-07-10T07:17:22.525+07:00</updated><title type='text'>Jual Beli dan Syarat-Syaratnya</title><content type='html'>&lt;p&gt;Manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan interaksi. Dengan berinteraksi, mereka dapat mengambil dan memberikan manfaat. Salah satu praktek yang merupakan hasil interaksi sesama manusia adalah terjadinya jual beli yang dengannya mereka mampu mendapatkan kebutuhan yang mereka inginkan. Islam pun mengatur permasalahan ini dengan rinci dan seksama sehingga ketika mengadakan transaksi jual beli, manusia mampu berinteraksi dalam koridor syariat dan terhindar dari tindakan-tindakan aniaya terhadap sesama manusia, hal ini menunjukkan bahwa Islam merupakan ajaran yang bersifat universal dan komprehensif.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span id="more-222"&gt;&lt;/span&gt;Melihat paparan di atas, perlu kiranya kita mengetahui beberapa pernik tentang jual beli yang patut diperhatikan bagi mereka yang kesehariannya bergelut dengan transaksi jual beli, bahkan jika ditilik secara seksama, setiap orang tentulah bersentuhan dengan jual beli. Oleh karena itu, pengetahuan tentang jual beli yang disyariatkan mutlak diperlukan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Definisi Jual Beli&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Secara  etimologi, &lt;em&gt;al-bay’u&lt;/em&gt; البيع  (jual beli) berarti mengambil dan memberikan sesuatu,  dan merupakan derivat (turunan) dari &lt;strong&gt;الباع&lt;/strong&gt; (depa) karena orang Arab terbiasa mengulurkan depa mereka ketika mengadakan akad jual beli untuk saling menepukkan tangan sebagai tanda bahwa akad telah terlaksana atau ketika mereka saling menukar barang dan uang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Adapun secara terminologi, jual beli adalah transaksi tukar menukar yang berkonsekuensi beralihnya hak kepemilikan, dan hal itu dapat terlaksana dengan akad, baik berupa ucapan maupun perbuatan. (&lt;em&gt;Taudhihul Ahkam&lt;/em&gt;, 4/211).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di dalam &lt;em&gt;Fiqhus sunnah&lt;/em&gt; (3/46) disebutkan bahwa &lt;em&gt;al-bay’u&lt;/em&gt; adalah transaksi tukar menukar harta yang dilakukan secara sukarela atau proses mengalihkan hak kepemilikan kepada orang lain dengan adanya kompensasi tertentu dan dilakukan dalam koridor syariat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Adapun hikmah disyariatkannya jual beli adalah merealisasikan keinginan seseorang yang terkadang tidak mampu diperolehnya, dengan adanya jual beli dia mampu untuk memperoleh sesuatu yang diinginkannya, karena pada umumnya kebutuhan seseorang sangat terkait dengan sesuatu yang dimiliki saudaranya (&lt;em&gt;Subulus Salam&lt;/em&gt;,  4/47).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Dalil Disyari’atkannya  Jual Beli &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Islam telah mensyariatkan jual beli dengan dalil yang berasal dari A;-Qur’an,  sunnah, ijma’ dan qiyas (analogi).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Dalil Al Qur’an&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah &lt;em&gt;ta’ala&lt;/em&gt; berfirman,&lt;/p&gt; &lt;p class="arab" align="right"&gt;وَأَحَلَّ  اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;em&gt;“… padahal Allah  telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba…” &lt;/em&gt;(QS. Al Baqarah: 275)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Al ‘Allamah As Sa’diy mengatakan bahwa di dalam jual beli terdapat manfaat dan urgensi sosial, apabila diharamkan maka akan menimbulkan berbagai kerugian. Berdasarkan hal ini, seluruh transaksi (jual beli) yang dilakukan manusia hukum asalnya adalah halal, kecuali terdapat dalil yang melarang transaksi tersebut. (&lt;em&gt;Taisir Karimir  Rahman&lt;/em&gt; 1/116).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Dalil Sunnah&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; pernah ditanya, profesi apakah yang paling baik? Maka beliau menjawab, bahwa profesi terbaik yang dikerjakan oleh manusia adalah segala pekerjaan yang dilakukan dengan kedua tangannya dan transaksi jual beli yang dilakukannya tanpa melanggar batasan-batasan syariat. (Hadits shahih dengan banyaknya riwayat, diriwayatkan Al Bazzzar 2/83, Hakim 2/10; dinukil dari &lt;em&gt;Taudhihul Ahkam&lt;/em&gt; 4/218-219).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Beliau &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; juga bersabda:&lt;/p&gt; &lt;p class="arab" align="right"&gt;الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلًا بِمِثْلٍ سَوَاءً بِسَوَاءٍ يَدًا بِيَدٍ فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الْأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt; “Emas ditukar dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, kurma dengan kurma, garam dengan garam, sama beratnya dan langsung diserahterimakan. Apabila berlainan jenis, &lt;strong&gt;maka juallah&lt;/strong&gt; sesuka  kalian namun harus langsung diserahterimakan/secara kontan” &lt;/em&gt;(HR. Muslim: 2970)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Berdasarkan  hadits-hadits ini, jual beli merupakan aktivitas yang disyariatkan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Dalil Ijma’&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kebutuhan manusia untuk mengadakan transaksi jual beli sangat urgen, dengan transaksi jual beli seseorang mampu untuk memiliki barang orang lain yang diinginkan tanpa melanggar batasan syariat. Oleh karena itu, praktek jual beli yang dilakukan manusia semenjak masa Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa  sallam&lt;/em&gt; hingga saat ini menunjukkan bahwa umat telah sepakat akan disyariatkannya  jual beli (&lt;em&gt;Fiqhus Sunnah&lt;/em&gt;,3/46).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Dalil Qiyas&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kebutuhan manusia menuntut adanya jual beli, karena seseorang sangat membutuhkan sesuatu yang dimiliki orang lain baik, itu berupa barang atau uang, dan hal itu dapat diperoleh setelah menyerahkan timbal balik berupa kompensasi. Dengan demikian, terkandung hikmah dalam pensyariatan jual beli bagi manusia, yaitu sebagai sarana demi tercapainya suatu keinginan yang diharapkan oleh manusia (&lt;em&gt;Al Mulakhos Al Fiqhy&lt;/em&gt;, 2/8).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Syarat-syarat Sah Jual  Beli&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kondisi umat ini memang menyedihkan, dalam praktek jual beli mereka meremehkan batasan-batasan syariat, sehingga sebagian besar praktek jual beli yang terjadi di masyarakat adalah transaksi yang dipenuhi berbagai unsur penipuan, keculasan dan kezaliman.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Lalai terhadap ajaran agama, sedikitnya rasa takut kepada Allah merupakan sebab yang mendorong mereka untuk melakukan hal tersebut, tidak tanggung-tanggung berbagai upaya ditempuh agar keuntungan dapat diraih, bahkan dengan melekatkan label syar’i pada praktek perniagaan yang sedang marak belakangan ini walaupun pada hakikatnya yang mereka lakukan itu adalah transaksi ribawi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jika kita memperhatikan praktek jual beli yang dilakukan para pedagang saat ini, mungkin kita dapat menarik satu konklusi, bahwa sebagian besar para pedagang dengan “ringan tangan” menipu para pembeli demi meraih keuntungan yang diinginkannya, oleh karena itu Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi  wa sallam&lt;/em&gt; bersabda,&lt;/p&gt; &lt;p class="arab" align="right"&gt;إِنَّ التُّجَّارَ هُمْ الْفُجَّارُ قَالَ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَوَلَيْسَ قَدْ أَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ قَالَ بَلَى وَلَكِنَّهُمْ يُحَدِّثُونَ فَيَكْذِبُونَ وَيَحْلِفُونَ وَيَأْثَمُونَ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Sesungguhnya para pedagang itu adalah kaum yang fajir (suka berbuat maksiat), para sahabat heran dan bertanya, “Bukankah Allah telah menghalalkan praktek jual beli, wahai Rasulullah?”. Maka beliau menjawab, “Benar, namun para pedagang itu tatkala menjajakan barang dagangannya, mereka bercerita tentang dagangannya kemudian berdusta, mereka bersumpah palsu dan melakukan perbuatan-perbuatan keji.”&lt;/em&gt; (&lt;em&gt;Musnad Imam Ahmad&lt;/em&gt; 31/110, dinukil dari &lt;em&gt;Maktabah Asy Syamilah&lt;/em&gt;; Hakim berkata: “Sanadnya shahih”, dan beliau disepakati Adz Dzahabi, Al Albani berkata, “Sanad hadits ini sebagaimana yang dikatakan oleh mereka berdua”, lihat &lt;em&gt;Silsilah  Ash Shahihah&lt;/em&gt; 1/365; dinukil dari &lt;em&gt;Maktabah Asy Syamilah&lt;/em&gt;).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Oleh karena itu seseorang yang menggeluti praktek jual beli wajib memperhatikan syarat-syarat sah praktek jual beli agar dapat melaksanakannya sesuai dengan batasan-batasan syari’at dan tidak terjerumus ke dalam tindakan-tindakan yang diharamkan .&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Diriwayatkan dari &lt;em&gt;Amirul  Mu’minin&lt;/em&gt; ‘Umar ibnul Khaththab &lt;em&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/em&gt;, beliau berkata,&lt;/p&gt; &lt;p class="arab" align="right"&gt;لَا  يَبِعْ فِيْ سُوْقِنَا إِلاَّ مَنْ يَفْقَهُ، وَإِلِا أَكَلَ الرِّباَ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Yang boleh berjualan di pasar kami ini hanyalah orang-orang yang faqih (paham akan ilmu agama), karena jika tidak, maka dia akan menerjang riba.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Berikut beberapa  syarat sah jual beli -yang kami rangkum dari kitab &lt;em&gt;Taudhihul ahkam&lt;/em&gt; 4/213-214, &lt;em&gt;Fikih Ekonomi Keuangan Islam&lt;/em&gt; dan beberapa referensi lainnya- untuk diketahui dan direalisasikan dalam praktek jual beli agar tidak terjerumus ke dalam praktek perniagaan yang menyimpang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Pertama, &lt;/strong&gt;persyaratan yang berkaitan dengan pelaku praktek jual  beli, baik penjual maupun pembeli, yaitu:&lt;/p&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt;Hendaknya  kedua belah pihak melakukan jual beli dengan ridha dan sukarela, tanpa ada  paksaan. Allah &lt;em&gt;ta’ala&lt;/em&gt; berfirman: &lt;p class="arab" align="right"&gt;يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“… janganlah kalian saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang timbul dari kerelaan di antara kalian…”&lt;/em&gt; (QS. An-Nisaa’: 29) &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kedua belah  pihak berkompeten dalam melakukan praktek jual beli, yakni dia adalah seorang &lt;em&gt;mukallaf&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;rasyid&lt;/em&gt; (memiliki kemampuan dalam mengatur uang), sehingga tidak sah transaksi yang dilakukan oleh anak kecil yang tidak cakap, orang gila atau orang yang dipaksa (&lt;em&gt;Fikih Ekonomi Keuangan Islam&lt;/em&gt;, hal. 92). Hal ini merupakan salah satu bukti keadilan agama ini yang berupaya melindungi hak milik manusia dari kezaliman, karena seseorang yang gila, &lt;em&gt;safiih&lt;/em&gt; (tidak cakap dalam bertransaksi) atau orang yang dipaksa, tidak mampu untuk membedakan transaksi mana yang baik dan buruk bagi dirinya sehingga dirinya rentan dirugikan dalam transaksi yang dilakukannya. &lt;em&gt;Wallahu a’lam.&lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Kedua, &lt;/strong&gt;yang berkaitan dengan objek/barang yang diperjualbelikan,  syarat-syaratnya yaitu:&lt;/p&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt;Objek jual beli (baik berupa barang jualan atau harganya/uang) merupakan barang yang suci dan bermanfaat, bukan barang najis atau barang yang haram, karena barang yang secara dzatnya haram terlarang untuk diperjualbelikan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Objek jual beli merupakan hak milik penuh, seseorang bisa menjual barang yang bukan miliknya apabila mendapat izin dari pemilik barang. Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda,&lt;/li&gt;&lt;p class="arab" align="right"&gt;لَا  تَبِعْ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt; “Janganlah engkau menjual  barang yang bukan milikmu.” &lt;/em&gt;(HR. Abu Dawud 3503, Tirmidzi 1232, An Nasaa’i VII/289, Ibnu Majah 2187, Ahmad III/402 dan 434; dishahihkan Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilaly)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Seseorang diperbolehkan melakukan transaksi terhadap barang yang bukan miliknya dengan syarat pemilik memberi izin atau rida terhadap apa yang dilakukannya, karena yang menjadi tolok ukur dalam perkara muamalah adalah rida pemilik. (Lihat &lt;em&gt;Fiqh wa Fatawal Buyu’&lt;/em&gt; hal. 24). Hal  ini ditunjukkan oleh persetujuan Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; terhadap perbuatan Urwah tatkala beliau memerintahkannya untuk membeli kambing  buat beliau. (HR. Bukhari bab 28 nomor 3642)&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;li&gt;Objek jual beli dapat diserahterimakan, sehingga tidak sah menjual burung yang terbang di udara, menjual unta atau sejenisnya yang kabur dari kandang dan semisalnya. Transaksi yang mengandung objek jual beli seperti ini diharamkan karena mengandung &lt;em&gt;gharar&lt;/em&gt; (spekulasi) dan menjual barang yang tidak dapat  diserahkan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Objek jual  beli dan jumlah pembayarannya diketahui secara jelas oleh kedua belah pihak  sehingga terhindar dari &lt;em&gt;gharar&lt;/em&gt;. Abu  Hurairah berkata: “Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa  sallam&lt;/em&gt; melarang jual beli &lt;em&gt;hashaath&lt;/em&gt; (jual beli dengan menggunakan  kerikil yang dilemparkan untuk menentukan barang yang akan dijual) dan jual  beli &lt;em&gt;gharar&lt;/em&gt;.” (HR. Muslim: 1513)&lt;/li&gt;&lt;p&gt;Selain itu, tidak diperkenankan seseorang  menyembunyikan cacat/aib suatu barang ketika melakukan jual beli. Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda:&lt;/p&gt;&lt;p class="arab" align="right"&gt;الْمُسْلِمُ  أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ بَاعَ مِنْ أَخِيهِ بَيْعًا فِيهِ  عَيْبٌ إِلَّا بَيَّنَهُ لَهُ&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain. Tidak halal bagi seorang muslim menjual barang dagangan yang memiliki cacat kepada saudaranya sesama muslim, melainkan ia harus menjelaskan cacat itu kepadanya” &lt;/em&gt;(HR. Ibnu Majah  nomor 2246, Ahmad IV/158, Hakim II/8, Baihaqi V/320; dishahihkan Syaikh Salim  bin ‘Ied Al Hilali)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Beliau &lt;em&gt;shallallahu  ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; juga bersabda:&lt;/p&gt;&lt;p class="arab" align="right"&gt;مَنْ  غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا ، وَالْمَكْرُ وَالْخِدَاعُ فِي النَّارِ&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt; “Barang siapa yang berlaku curang terhadap kami, maka ia bukan dari golongan kami. Perbuatan makar dan tipu daya tempatnya di neraka” &lt;/em&gt;(HR. Ibnu  Hibban 567, Thabrani dalam &lt;em&gt;Mu’jamul  Kabiir&lt;/em&gt; 10234, Abu Nu’aim dalam &lt;em&gt;Al  Hilyah&lt;/em&gt; IV/189; dihasankan Syaikh Salim Al Hilaly)&lt;/p&gt;&lt;/ul&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Terakhir, Jual Beli Bukanlah  Riba&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sebagian orang beranggapan bahwa jual beli tidaklah berbeda dengan riba, anggapan mereka ini dilandasi kenyataan bahwa terkadang para pedagang mengambil keuntungan yang sangat besar dari pembeli. Atas dasar inilah mereka menyamakan antara jual beli dan riba?!. Alasan ini sangat keliru, Allah &lt;em&gt;ta’ala&lt;/em&gt; telah menampik anggapan seperti ini. Allah &lt;em&gt;ta’ala&lt;/em&gt; berfirman:&lt;/p&gt; &lt;p class="arab" align="right"&gt;الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لا يَقُومُونَ إِلا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. &lt;strong&gt;Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; (QS. Al-Baqarah: 275)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tidak ada pembatasan keuntungan tertentu sehingga diharamkan untuk mengambil keuntungan yang lebih dari harga pasar, akan tetapi semua itu tergantung pada hukum permintaan dan penawaran, tanpa menghilangkan sikap santun dan toleran (disadur dari &lt;em&gt;Fikih Ekonomi Keuangan Islam&lt;/em&gt;, hal. 87  dengan beberapa penyesuaian). Bahkan Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; menyetujui tatkala sahabatnya Urwah mengambil keuntungan dua kali lipat dari harga pasar tatkala diperintah untuk membeli seekor kambing buat beliau &lt;em&gt;shallallahu  ‘alaihi wa sallam.&lt;/em&gt; (HR. Bukhari bab 28 nomor 3642)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Namun, yang patut dicermati bahwa sikap yang lebih sesuai dengan petunjuk para ulama salaf dan ruh syariat adalah memberikan kemudahan, santun dan puas terhadap keuntungan yang sedikit sehingga hal ini akan membawa keberkahan dalam usaha. Ali &lt;em&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/em&gt; pernah berkata, “Hai para pedagang, ambillah hak kalian, kalian akan selamat. Jangan kalian tolak kentungan yang sedikit, karena kalian bisa terhalangi mendapatkan keuntungan yang besar.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Adapun seseorang yang merasa tertipu karena penjual mendapatkan keuntungan dengan menaikkan harga di luar batas kewajaran, maka syariat kita membolehkan pembeli untuk menuntut haknya dengan mengambil kembali uang yang telah dibayarkan dan mengembalikan barang tersebut kepada penjual, inilah yang dinamakan dengan &lt;em&gt;khiyarul gabn&lt;/em&gt; bisa dilihat pada pembahasan berbagai  jenis &lt;em&gt;khiyar&lt;/em&gt;. &lt;em&gt;Wallahu ta’ala a’lam bish shawab.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Demikianlah beberapa penjelasan ringkas mengenai jual beli dan beberapa persyaratannya. Semoga bermanfaat bagi kami dan kaum muslimin.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;Washshalatu was salamu ‘alaa nabiyyinal mushthafa. Wal hamdu lillahi rabbil  ‘alamin.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;***&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Penulis: Muhammad Nur Ichwan Muslim&lt;br /&gt;Artikel www.muslim.or.id&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4254596231959459245-8681170583379856188?l=kerudungkinan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4254596231959459245/posts/default/8681170583379856188'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4254596231959459245/posts/default/8681170583379856188'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kerudungkinan.blogspot.com/2008/07/jual-beli-dan-syarat-syaratnya.html' title='Jual Beli dan Syarat-Syaratnya'/><author><name>kerudung kinan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4254596231959459245.post-436818219119164516</id><published>2008-07-04T06:43:00.001+07:00</published><updated>2008-07-04T06:47:41.799+07:00</updated><title type='text'>JAGALAH PERINTAH ALLAH, ALLAH AKAN MENJAGAMU</title><content type='html'>&lt;table class="contentpaneopen"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" class="createdate" valign="top"&gt;          &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;      &lt;tr&gt;    &lt;td colspan="2" valign="top"&gt;     Sesungguhnya  Allah ‘&lt;i&gt;Azza wa Jalla&lt;/i&gt; telah memberikan nikmat yang sangat besar  kepada manusia, Allah &lt;i&gt;Sub&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;anahu wa Ta'âla&lt;/i&gt; telah memberikan  kita rezeki, nikmat kehidupan, menciptakan kita dan tidak akan bisa  dihitung nikmatnya tersebut, meskipun manusia berusaha menghitungnya  sebagaimana firman Allah &lt;i&gt;Sub&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;anahu wa Ta'âla&lt;/i&gt;: &lt;i&gt;"Dan  jika kamu menghitung nikmat-nikmat Allah niscaya kamu tidak akan bisa  menghitung-Nya".&lt;/i&gt; &lt;b&gt;(QS. Ibarahim:  34)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Diantara nikmat  Allah &lt;i&gt;Sub&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;anahu wa Ta'âla&lt;/i&gt; yang terbesar adalah nikmat  Islam dan iman. Nikmat ini akan memberikan arti dan manfaat jika ia  dipelajari, difahami, diyakini dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.  Sebaliknya ketika seseorang menjadikan keislaman dan keimanannya hanya  sebagai slogan dan simbol, maka tiadalah ada arti dari keimanan tersebut.&lt;br /&gt;Supaya segala  nikmat tersebut mempunyai arti dan makna dan mendapatkan keberkahan  dari Allah &lt;i&gt;Sub&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;anahu wa Ta'âla,&lt;/i&gt; maka Rasulullah &lt;i&gt; shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; telah memberikan jalan yaitu dengan  menjaga perintahnya sebagaimana wasiat yang telah beliau &lt;i&gt;shallallahu  ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; katakan kepada Ibnu Abbas &lt;i&gt;radhiyallaahu 'anhuma&lt;/i&gt;: &lt;i&gt; "Jagalah Allah, niscaya Allah menjagamu".&lt;/i&gt; &lt;b&gt;(HR. Tirmidzi,  dan ia (at-Tirmidzi) menyatakan hadits hasan sha&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;i&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;)&lt;/b&gt;.  Maksud menjaga Allah &lt;i&gt;Sub&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;anahu wa Ta'âla&lt;/i&gt; adalah menjaga  perintah-Nya, hak-hak-Nya untuk ditaati   &lt;b&gt;Keutamaan menjaga  perintah Allah &lt;i&gt;Sub&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;anahu wa Ta'âla&lt;/i&gt;  dan larangan-Nya.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Menjaga perintah  Allah ‘&lt;i&gt;Azza wa Jalla&lt;/i&gt; dan larangan-Nya mempunyai keutamaan dan  kedudukan yang mulia disisi-Nya. Diantara bentuk menjaga perintah Allah &lt;i&gt; Sub&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;anahu wa Ta'âla&lt;/i&gt; adalah bertaqwa kepada-Nya dengan  sebenar-benar taqwa, sebagaimana yang Allah &lt;i&gt;Sub&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;anahu wa Ta'âla&lt;/i&gt;  jelaskan dalam al-Qur'an: &lt;i&gt;"Hai  orang-orang yang beriman bertaqwalah kalian  kepada Allah sebenar-benarnya taqwa kepada-Nya".&lt;/i&gt; &lt;b&gt;(QS.  Ali Imran: 102) &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Didalam surat  lain Allah &lt;i&gt;Sub&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;anahu wa Ta'âla&lt;/i&gt; juga berfirman: &lt;i&gt;"Hai  orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan berkatalah dengan  perkataan yang benar".&lt;/i&gt; &lt;b&gt;(QS. al-Ahzab:  70).&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Bagi orang yang  selalu menjaga perintah Allah &lt;i&gt;Sub&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;anahu wa Ta'âla,&lt;/i&gt;  maka Allah ‘&lt;i&gt;Azza wa Jalla&lt;/i&gt; akan memberikan rezeki dari apa-apa  yang tidak ia sangka dan duga datangnya. Hal ini sebagaimana yang Allah &lt;i&gt; Tabaaraka wa Ta'ala &lt;/i&gt;katakan dalam firman-Nya: &lt;i&gt;"Dan  siapa yang bertaqwa kepada Allah, Allah akan berikan berikan jalan keluar  dalam hidupnya dan Allah berikan rezeki dari apa-apa yang tidak dia  sangka-sangka"&lt;/i&gt; &lt;b&gt;(QS. at-Thalaq:  2-3)&lt;/b&gt;. Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa; orang yang senantiasa  bertaqwa kepada Allah &lt;i&gt;Sub&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;anahu wa Ta'âla&lt;/i&gt; atau menjaga  perintah-Nya, maka Allah &lt;i&gt;Tabaaraka wa Ta'ala &lt;/i&gt; akan berikan untuknya jalan keluar dari setiap kesempitan, atau kesulitan  hidup, dan sebaliknya ketika seseorang tidak menjaga perintah Allah &lt;i&gt; Sub&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;anahu wa Ta'âla&lt;/i&gt;, maka sekali-kali mereka tidak akan  mendapatkan jalan keluar dalam hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Diantara keutamaan  yang Allah &lt;i&gt;Sub&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;anahu wa Ta'âla&lt;/i&gt; berikan kepada orang  yang menjaga perintah Allah &lt;i&gt;Sub&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;anahu wa Ta'âla&lt;/i&gt; ini,  adalah Allah ‘&lt;i&gt;Azza wa Jalla&lt;/i&gt; akan menjadikan &lt;i&gt;Furqan&lt;/i&gt; (pembeda)  dalam hidupnya dan Allah &lt;i&gt;Sub&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;anahu wa Ta'âla&lt;/i&gt; hapusi  kesalahan-kesalahannya. Sebagaimana yang Allah &lt;i&gt;Sub&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;anahu wa  Ta'âla&lt;/i&gt; katakan dalam al-Qur'an: "Jika kamu bertaqwa kepada  Allah, Allah akan jadikan furqan (pembeda) dan Allah akan hapus kesalahan-kesalahan  kamu, lalu Allah akan ampuni dosa-dosamu dan Allah Maha Pengampun lagi  Maha Penyayang". &lt;b&gt;(QS. al-Anfal:  29)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Syaikh Utsaimin &lt;i&gt; ra&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;imahullah&lt;/i&gt; mensyarahkan dalam kitab beliau; bahwa Allah &lt;i&gt; Sub&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;anahu wa Ta'âla&lt;/i&gt; akan memberikan furqan maksudnya:  "Allah &lt;i&gt;Sub&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;anahu wa Ta'âla&lt;/i&gt; akan menjadikan kamu  bisa membedakan antara yang haq dan yang bathil, antara yang mudharat  dan manfaat, juga Allah &lt;i&gt;Sub&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;anahu wa Ta'âla&lt;/i&gt; berikan  kepadanya ilmu, dimana Allah &lt;i&gt;Sub&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;anahu wa Ta'âla&lt;/i&gt; bukakan  kepadanya ilmu tersebut sedangkan pada orang lain tidak, karena ketaqwaan  akan membuat bertambahnya petunjuk, ilmudan hafalan. Dan suatu hal yang  tidak diragukan lagi bahwasanya, seseorang yang bertambah ilmunya, maka  bertambah ma'rifahnya dan pada akhirnya mampu membedakan antara yang  hak dan yang batil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Imam Ibnu Rajab &lt;i&gt; ra&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;imahullah&lt;/i&gt; mengatakan dalam &lt;b&gt;Jami'ul  ‘Ulum wal&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;ikam&lt;/b&gt;: "Barang siapa yang yang menjaga perintah  Allah &lt;i&gt;Sub&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;anahu wa Ta'âla&lt;/i&gt; pada waktu kecilnya dan ketika  dia kuat, maka Allah &lt;i&gt;Tabaaraka wa Ta'ala&lt;/i&gt; akan jaga dirinya  ketika mereka telah tua, ketika mereka dalam kondisi lemah. Senantiasa  mereka ketika itu masih menikmati pendengarannya, penglihatannya, kekuatannya  dan akalnya. Diriwayatkan bahwa sebagian para ulama terdahulu umur mereka  telah melebihi seratus tahun akan tetapi kondisi fisiknya, kekuatannya,  dan akalnya tidak hilang. Maka suatu ketika dia melompat dengan lompatan  yang cukup kuat,mereka dicela tatkala melakukan hal tersebut, merekapun  berkata; bahwa anggota tubuh ini kami telah menjaganya dari maksiyat  sejak kami kecil sehingga Allah &lt;i&gt;Sub&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;anahu wa Ta'âla&lt;/i&gt;  menjaganya ketika mereka telah tua. Sebaliknya tatkala seorang muslim  tidak menjaga perintah Allah &lt;i&gt;Sub&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;anahu wa Ta'âla&lt;/i&gt;, malahan  menyia-nyiakannya, maka Allah ‘&lt;i&gt;Azza wa Jalla&lt;/i&gt; juga menyia-nyiakannya  ketika mereka telah besar. Oleh karena itu apabila seorang hamba sibuk  dengan ketaatan kepada Allah &lt;i&gt;Sub&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;anahu wa Ta'âla&lt;/i&gt;, maka  Allah akan senantiasa menjaganya dalam keadaan tersebut."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Cara menjaga perintah  Allah &lt;i&gt;Sub&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;anahu wa Ta'âla&lt;/i&gt;.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Adapun cara menjaga  perintah Allah &lt;i&gt;Tabaaraka wa Ta'ala&lt;/i&gt; adalah dengan senantiasa  menjaga aturan-aturannya, hak-hak-Nya, perintah-perintah-Nya dan larang-larangannya.  Menjaga perintah-Nya adalah dengan melaksanakannya, menjaga larangan-Nya  adalah dengan menjauhinya dan meninggalkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak perintah-perintah  Allah &lt;i&gt;Tabaaraka wa Ta'ala&lt;/i&gt; yang wajib bagi seorang muslim menjaganya,  demikian juga larangan-Nya, diantaranya adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;1.  Mengikhlaskan ibadah hanya kepada-Nya dan menjauhi  syirik.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Mengikhlaskan  ibadah adalah dengan memurnikan tau&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;id, bahwa seorang muslim  dalam hidupnya hanya memperuntukkan ibadah tersebut serta memurnikannya  kepada untuk Allah &lt;i&gt;Sub&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;anahu wa Ta'âla&lt;/i&gt; semata, karena  mereka diperintahkan mengikhlaskan diri kepada Allah&lt;i&gt;  Tabaaraka wa Ta'ala&lt;/i&gt; sesuai dengan firman-Nya: &lt;i&gt;"Dan  tidaklah mereka diperintahkan, melainkan agar mereka beribadah kepada  Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya,  dalam menjalankan agama dengan lurus"&lt;/i&gt;. &lt;b&gt;(QS. al-Bayyinah:  5)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Seiring dengan  itu maka wajib juga bagi seorang muslim menjauhi perbuatan syirik dalam  bentuk apapun, karena beribadah kepada Allah &lt;i&gt;Sub&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;anahu wa  Ta'âla&lt;/i&gt; tanpa menjauhi perbuatan syirik merupakan bentuk kesia-siaan,  bahkan tidak akan terjaga Agama Allah tersebut. Makanya Allah &lt;i&gt;Sub&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;anahu  wa Ta'âla&lt;/i&gt; selalu menggandeng antara perintah beribadah dan menjauhi  syirik. Diantara ayat-ayat yang berbicara tentang hal tersebut adalah: &lt;i&gt; "Dan beribadahlah kepada Allah dan jangan persekutukan dia dalam bentuk  apapun" &lt;/i&gt;&lt;b&gt;(QS. an-Nisa': 36)&lt;/b&gt; Dalam surat lain Allah &lt;i&gt; Ta'ala &lt;/i&gt;juga berfirman: &lt;i&gt;"Dan Robbmu telah memerintahkan supaya  kamu jangan menyembah kecuali hanya kepada-Nya".&lt;/i&gt; &lt;b&gt;(QS.  al-Isra: 23)&lt;/b&gt;. Bahkan syarat bisa berjumpa dengan Allah &lt;i&gt;Sub&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;anahu  wa Ta'âla&lt;/i&gt; adalah beramal shole&lt;u&gt;h&lt;/u&gt; dan menjauhi syirik dalam  bentuk apapun. Hal ini sebagaimana yang Allah &lt;i&gt;Tabaaraka wa Ta'ala&lt;/i&gt;  firmankan: &lt;i&gt;"Barang siapa yang mengharapkan berjumpa dengan Allah,  maka hendaklah dia beramal shole&lt;u&gt;h&lt;/u&gt; dan jangan mempersekutukan-Nya  dalam beribadah kepada-Nya dengan sesuatu apapun".&lt;/i&gt; &lt;b&gt;(QS.  al-Kahfi: 110)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;2.  Menegakkan Sholat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Shalat merupakan  sebesar-besarnya dan semulia-mulianya ibadah. Allah &lt;i&gt;Sub&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;anahu  wa Ta'âla&lt;/i&gt; telah memerintahkan kita untuk menjaganya dalam berbagai  ayat al-Quran, diantaranya adalah: &lt;i&gt;"Jagalah  semua sholat dan Shalat Wustho (shalat ashar)".&lt;/i&gt; &lt;b&gt;(QS. al-Baqarah:  238)&lt;/b&gt;. Bahkan Allah memuji orang-orang yang senantiasa menjaganya,  sebagaimana firman-Nya: &lt;i&gt;"Yaitu  orang-orang yang selalu menjaga shalatnya"&lt;/i&gt; &lt;b&gt;(QS.  al-Ma'aarij: 34) &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dalam &lt;u&gt;h&lt;/u&gt;adits  Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; bersabda: "Barang  siapa yang menjaganya (shalat) adalah berhak baginya untuk masuk syorga". &lt;b&gt; (HR. A&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;mad no. 21646)&lt;/b&gt; Dan bila kita lihat masih banyak dalil-dalil  lain yang menjelaskan keutamannya dan perintah untuk menjaganya. Menjaga  shalat adalah menjaga sifat-sifatnya sesuai dengan tuntunan Rasulullah &lt;i&gt; shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt;, menjaga waktu-waktunya yaitu dengan  shalat tepat pada waktunya, menjaga rukun dan syaratnya dan menjaga  kekhusyukan hati ketika shalat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;3.  Menjaga pendengaran, penglihatan dan lidah dari hal yang diharamkan  dan menjaga perut serta kecenderungannya  dari makan secara berlebihan.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dalam hal ini  Allah &lt;i&gt;Sub&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;anahu wa Ta'âla&lt;/i&gt; berfirman: &lt;i&gt;"Sesungguhnya  pendengaran, penglihatan dan hati semua itu akan diminta pertanggung  jawabannya". &lt;/i&gt;&lt;b&gt;(QS. al-Isra':  36)&lt;/b&gt;. Betapa banyak manusia di zaman sekarang ini yang tidak mau  menjaga pendengarannya, sehingga ia gunakan pendengaran tersebut kepada  hal yang haram, seperti mendengarkan musik, nyanyian yang mengumbar  dan membangkitkan syahwat. Dan betapa banyak diantara manusia yang tidak  mau menjaga penglihatan-penglihatannya, sehingga ia gunakan kepada melihat  yang diharamkan oleh Allah &lt;i&gt;Sub&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;anahu wa Ta'âla&lt;/i&gt;. Lidah  wajib dijaga dengan berkata benar, kalau tidak hendaklah diam, karena  salah satu sebab terbesar yang menyebabkan seseorang masuk ke dalam  api neraka adalah karena tidak mau memelihara lidah mereka. Dalam hal  ini Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; bersabda: &lt;i&gt;"Barang  siapa yang bisa menjaga yang terletak antara  dua jenggot maka dia akan masuk syorga"&lt;/i&gt; &lt;b&gt;(HR. al-&lt;u&gt;H&lt;/u&gt;akim  yang disha&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;i&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;kan oleh  Imam adz-Dzahabi)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Adapun menjaga  makanan dan minuman dari hal yang diharamkan merupakan hal wajib kita  lakukan, disamping itu juga menjaganya dari hal yang berlebihan, karena  hal itu akan merusak kesehatan dan juga satu bentuk kemubadziran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;4. Menjaga  kemaluan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Menjaga kemaluan  merupakan syariat yang wajib kita perhatikan, karena ketika kemaluan  ini tidak dijaga dari hal yang diharamkan Allah &lt;i&gt;Sub&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;anahu  wa Ta'âla&lt;/i&gt;, maka akan berimbas kepada dosa dan maksiyat, bahkan  puncaknya yaitu zina. Begitu pentingnya menjaga kemaluan ini maka Allah &lt;i&gt; Sub&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;anahu wa Ta'âla&lt;/i&gt; menyuruh hambanya yang mukmin untuk  menundukkan pandangannya dan menjaga kemaluannya. Hal ini sebagaimana  yang difirmankan-Nya: &lt;i&gt;"Katakanlah  kepada laki-laki mukmin agar mereka menundukkan pandangannya dan menjaga  kemaluannya".&lt;/i&gt; &lt;b&gt;(QS. an-Nur:  30)&lt;/b&gt; Bahkan bagi orang-orang yang menjaga kemaluannya Allah &lt;i&gt;Sub&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;anahu  wa Ta'âla&lt;/i&gt; memberikannya ampunan dan pahala yang besar sebagaimana  firman-Nya: "Dan dan perempuan yang menjaga kemaluan mereka, dan laki-laki  dan perempuan yang yang banyak berzikir kepada Allah, maka Allah janjikan  kepada mereka ampunan dan ganjaran yang besar". &lt;b&gt;(QS. al-Ahzab:  35) &lt;/b&gt;Bahkan Allah &lt;i&gt;Sub&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;anahu wa Ta'âla&lt;/i&gt; memuji orang-orang  yang menjaga kemaluannya, dengan menjadikan mereka orang-orang yang  bahagia, sebagaimana firman-Nya: "Beruntunglah orang orang mukmin,  diantaranya "orang yang menjaga kemaluannya" &lt;b&gt;(QS. al-Mukminun  1-6)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Diantara contoh-contoh  seseorang tidak menjaga kemaluannya adalah: berpacaran yang sudah dianggap  lumrah bagi sebagian masyarakat (lihat pembahasan buletin terdahulu  tentang pacaran dalam tinjauan syariat), pergaulan bebas laki-laki perempuan  yang bukan mahromnya, memutar film-film porno, membeli dan membaca majalah-majalah  porno, berpakaian seksi dengan memperlihatkan lekuk-lekuk tubuh (ketat  dan atau transparan) serta setiap wasilah yang akan mengantarkan kepada  perbuatan zina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Renungkanlah !!!.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Wahai hamba Allah  renungkanlah baik-baik di dalam hati, sudahkah kita menjaga perintah  Allah dan larangan-Nya dengan benar ? Betapa banyak orang takut kehilangan  harta, sehingga mereka gaji orang untuk menjaga hartanya, mau berkorban  untuk itu, dan betapa banyak orang yang takut kehilangan jabatan sehingga  mereka berani untuk menghalalkan segala cara untuk itu, dan betapa banyak  orang yang takut kehilangan nyawa, sehingga mereka mencari dokter yang  bisa mengobatinya walaupun sampai ke ujung dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Namun sayang  beribu sayang, tatkala mereka dituntut untuk berjuang melaksanakan perintah  Allah  &lt;i&gt;Sub&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;anahu wa Ta'âla&lt;/i&gt; dan meninggalkan  larangan-Nya  merekapun mulai beralasan untuk mengelak dan menghindar dengan beribu-ribu  alasan. Mereka menjaga hartanya, pangkatnya, tetapi tidak mau menjaga  perintah Allah ‘&lt;i&gt;Azza wa Jalla&lt;/i&gt;. Semuanya mereka abaikan. Namun  ingatlah wahai manusia, semua yang kita pertahankan tersebut akan habis  dan binasa, seiring dengan umur dan ajal kita. Semua itu akan kita tinggalkan.  Yang akan kita bawa adalah amal ibadah dan amal sholeh kita kepada Allah &lt;i&gt; Ta'ala&lt;/i&gt;. Berbekallah, karena sebaik-baik bekal adalah taqwa. &lt;i&gt; Wallahu&lt;/i&gt; &lt;i&gt;a‘lam&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;b&gt;Faishal Abdurra&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;man,  Lc&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;http://dareliman.or.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4254596231959459245-436818219119164516?l=kerudungkinan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4254596231959459245/posts/default/436818219119164516'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4254596231959459245/posts/default/436818219119164516'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kerudungkinan.blogspot.com/2008/07/jagalah-perintah-allah-allah-akan.html' title='JAGALAH PERINTAH ALLAH, ALLAH AKAN MENJAGAMU'/><author><name>kerudung kinan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4254596231959459245.post-5550742443449520464</id><published>2008-06-23T07:30:00.000+07:00</published><updated>2008-06-23T07:31:12.328+07:00</updated><title type='text'>Ketika kita ingin dilihat</title><content type='html'>&lt;div class="PostContent"&gt; &lt;p&gt;Penyusun: Ummu Aiman&lt;br /&gt;Muraja’ah: Ustadz Aris Munandar&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;Masya Allah, anti sudah hafal 5 juz ???&lt;br /&gt;Hmmm…&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Secara fitrah manusia, pastilah senang jika dirinya dipuji. Saat pujian datang -apalagi dari seseorang yang istimewa dalam pandangannya- tentulah hati akan bahagia jadinya. Berbunga-bunga, bangga, senang. Itu manusiawi. Namun hati-hatilah duhai saudariku, jangan sampai riya’ menghiasi amal ibadah kita karena di setiap amal ibadah yang kita lakukan dituntut keikhlasan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span id="more-75"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Niat yang ikhlas amatlah diperlukan dalam setiap amal ibadah karena ikhlas adalah salah satu syarat diterimanya suatu amal di sisi Allah. Sebuah niat dapat mengubah amalan kecil menjadi bernilai besar di sisi Allah dan sebaliknya, niatpun mampu mengubah amalan besar menjadi tidak bernilai sama sekali.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kali ini, kita tidak hendak membahas tentang ikhlas melainkan salah satu lawan dari ikhlas, yaitu riya’.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hudzaifah Ibnu Yaman pernah berkata:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Orang-orang bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hal-hal yang baik sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang hal-hal jelek agar aku terhindar dari kejelekan tersebut.”&lt;/em&gt; (HR Bukhari dan Muslim)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Maka saudariku muslimah, marilah kita mempelajari tentang riya’ agar kita terhindar dari kejelekannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Mari Kita Berbicara tentang Riya’&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Secara bahasa, riya’ berasal dari kata ru’yah (الرّؤية), maknanya penglihatan. Sehingga menurut bahasa arab hakikat riya’ adalah orang lain melihatnya tidak sesuai dengan hakikat sebenarnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Al Hafizh Ibnu Hajar menyatakan, &lt;em&gt;“Riya’ ialah menampakkan ibadah dengan tujuan agar dilihat manusia, lalu mereka memuji pelaku amal tersebut.”&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pernahkah ukhti mendengar tentang sum’ah? Sum’ah berbeda dengan riya’, jika riya’ adalah menginginkan agar amal kita dilihat orang lain, maka sum’ah berarti kita ingin ibadah kita didengar orang lain. Ibnu Hajar menyatakan: &lt;em&gt;“Adapun sum’ah sama dengan riya’. Akan tetapi ia berhubungan dengan indera pendengaran (telinga) sedangkan riya’ berkaitan dengan indera penglihatan (mata).”&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jadi, jika seorang beramal dengan tujuan ingin dilihat, misalnya membaguskan dan memperlama shalat karena ingin dilihat orang lain, maka inilah yang dinamakan riya’. Adapun jika beramal karena ingin didengar orang lain, seperti seseorang memperindah bacaan Al Qur’annya karena ingin disebut qari’, maka ini yang disebut sebagai sum’ah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Bahaya Riya’&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ketahuilah wahai saudariku, bahwa riya’ termasuk ke dalam syirik asghar/kecil. Ia dapat mencampuri amal kita kemudian merusaknya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Amalan yang dikerjakan dengan ikhlas akan mendatangkan pahala. Lalu bagaimana dengan amalan yang tercampur riya’? Tentu saja akan merusak pahala amalan tersebut. Bisa merusak salah satu bagiannya saja atau bahkan merusak keseluruhan dari pahala amalan tersebut.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Berikut ini beberapa bentuk riya’:&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Riya’ yang mencampuri amal dari awal hingga akhir, maka amalannya terhapus. &lt;p&gt;Misalnya seseorang yang hendak mengerjakan shalat lalu datang seseorang yang ia kagumi. Kemudian ia shalat dengan bagus dan khusyu’ karena ingin dilihat orang tersebut. Riya’ tersebut ada dari awal hingga akhir shalatnya dan ia tidak berusaha untuk menghilangkannya, maka amalannya terhapus. &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Riya’ yang muncul tiba-tiba di tengah-tengah amal dan dia berusaha untuk menghilangkannya sehingga riya’ tersebut hilang, maka riya’ ini tidak mempengaruhi pahala amalannya. Misalnya seseorang yang shalat kemudian muncul riya’ di tengah-tengah shalatnya dan ia berusaha untuk menghilangkannya sehingga riya’ tersebut hilang, maka riya’ tersebut tidak mempengaruhi ataupun merusak pahala shalat tersebut.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Riya’ muncul tiba-tiba di tengah-tengah namun dibiarkan terus berlanjut, maka ini adalah syirik asghar dan menghapus amalannya. Namun dalam kondisi ini ulama berselisih pendapat tentang amalan mana yang terhapus, misalnya riya’ dalam shalat. Apakah rakaat yang tercampuri riya’ saja yang terhapus ataukah keseluruhan shalatnya?&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;Pendapat pertama menyatakan bahwa yang terhapus hanyalah pada amalan yang terkait. Pendapat kedua, yaitu perlu dirinci:&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Kalau amalannya merupakan satu rangkaian dan tidak mungkin dipisahkan satu dengan yang lain, misalnya shalat dhuhur empat rakaat, maka terhapus rangkaian amal tersebut.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kalau amalannya bukan merupakan satu rangkaian, maka amal yang terhapus pahalanya adalah sebatas yang tercampuri saja. Misalnya seseorang yang bersedekah kepada sepuluh orang anak yatim. Saat bersedekah pada anak kesatu sampai yang kelima ia ikhlas. Akan tetapi riya’ muncul saat ia bersedekah pada anak ke-enam, maka pahala yang terhapus adalah sedekah pada anak ke-enam. Contoh yang serupa adalah puasa.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Riya’ itu Samar&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pada asalnya, manusia memiliki kecenderungan ingin dipuji dan takut dicela. Hal ini menyebabkan riya’ menjadi sangat samar dan tersembunyi. Terkadang, seorang merasa telah beramal ikhlas karena Allah, namun ternyata secara tak sadar ia telah terjerumus kedalam penyakit riya’.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Saudariku, pernahkah engkau mendengar langkah laki seekor semut? Suara langkahnya begitu samar bahkan tidak dapat kita dengar. Seperti inilah Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; menggambarkan kesamaran riya’. Beliau &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Kesyirikan itu lebih samar dari langkah kaki semut.” Lalu Abu Bakar bertanya, “Wahai Rasulullah, bukankah kesyirikan itu ialah menyembah selain Allah atau berdoa kepada selain Allah disamping berdoa kepada selain Allah?” maka beliau bersabda.”Bagaimana engkau ini. Kesyirikan pada kalian lebih samar dari langkah kaki semut.”&lt;/em&gt; (HR Abu Ya’la Al Maushili dalam &lt;em&gt;Musnad&lt;/em&gt;-nya, tahqiq Irsya Al Haq Al Atsari, cetakan pertama, tahun 1408 H, Muassasah Ulum Al Qur’an, Beirut, hlm 1/61-62. dishahihkan Al Albani dalam &lt;em&gt;Shahih Al Targhib&lt;/em&gt;, 1/91)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; mengkhawatirkan bahaya riya’ atas umat Islam melebihi kekhawatiran beliau terhadap bahaya Dajjal. Disebutkan dalam sabda beliau: &lt;em&gt;“Maukah kalian aku beritahu sesuatu yang lebih aku takutkan menimpa kalian daripada Dajjal.” Kami menyatakan, “Tentu!” beliau bersabda “Syirik khafi (syirik yang tersembunyi). Yaitu seseorang mengerjakan shalat, lalu ia baguskan shalatnya karena ia melihat ad seseorang yang memandangnya.”&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hal ini tidak akan terjadi, kecuali karena faktor pendukung yang kuat. Yaitu karena setiap manusia memiliki kecenderungan ingin mendapatkan pujian, kepemimpinan dan kedudukan tinggi di hadapan orang lain.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Bentuk Riya’&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Wahai ukhti muslimah, didalam mencapai tujuannya, para mura’i (orang yang riya’) menggunakan banyak jalan, diantaranya sebagai berikut:&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Dengan tampilan fisik, yaitu seperti menampilkan fisik yang lemah lagi pucat dan suara yang sangat lemah agar dianggap sebagai orang yang sangat takut akhirat atau rajin berpuasa.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dengan penampilan, yaitu seperti membiarkan bekas sujud di dahi dan pakaian yang seadanya agar tampil seperti ahli ibadah. Ketika menjelaskan QS Al Fath, dalam &lt;em&gt;Hasyiah Ash Shawi&lt;/em&gt; 4/134 disebutkan, &lt;em&gt;“Yang dimaksud ‘bekas sujud’ bukanlah hitam-hitam di dahi sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang bodoh yang ingin riya’ karena hitam-hitam di dahi merupakan perbuatan khawarij.”&lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dengan perkataan, yaitu seperti banyak memberikan nasehat, menghafal atsar (riwayat salaf) agar dianggap sebagai orang yang sangat memperhatikan jejak salaf.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dengan amal, yaitu seperti memperlama rukuk dan sujud ketika shalat agar tampak khusyu’ dan lain-lain.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Kiat Mengobati Penyakit Riya’&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Wahai saudariku, setiap insan tidak akan pernah lepas dari kesalahan. Sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah yang bertaubat kepada Allah atas kesalahan yang pernah dilakukannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hati manusia cepat berubah. Jika saat ini beribadah dengan ikhlas, bisa jadi beberapa saat kemudian ikhlas tersebut berganti dengan riya’. Pagi ikhlas, mungkin sore sudah tidak. Hari ini ikhlas, mungkin esok tidak. Hanya kepada Allahlah kita memohon agar hati kita diteguhkan dalam agama ini. َ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Selain itu, hendaknya kita berusaha untuk menjaga hati agar terhidar dari penyakit riya’. Saudariku, inilah beberapa kiat yang dapat kita lakukan agar terhindar dari riya’:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;1. Memohon dan selalu berlindung kepada Allah agar mengobati penyakit riya’&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Riya’ adalah penyakit kronis dan berbahaya. Ia membutuhkan pengobatan dan terapi serta bermujahadah (bersungguh-sungguh) supaya bisa menolak bisikan riya’, sambil tetap meminta pertolongan Allah Ta’ala untuk menolaknya. Karena seorang hamba selalu membutuhkan pertolongan dan bantuan dari Allah. Seorang hamba tidak akan mampu melakukan sesuatu kecuali dengan bantuan dan anugerah Allah. Oleh karena itu, untuk mengobati riya’, seorang selalu membutuhkan pertolongan dan memohon perlindungan kepada-Nya dari penyakit riya’ dan sum’ah. Demikian yang diajarkan Rasulullah dalam sabda beliau:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Wahai sekalian manusia, peliharalah diri dari kesyirikan karena ia lebih samar dari langkah kaki semut.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana cara kami memelihara diri darinya padahal ia lebih samar dari langkah kaki semut?” beliau menjawab, “Katakanlah:&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;اللّهُمَّ إِنَّانَعُوْذُبِكَ مِنْ أََنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًانَعْلَمُهُ وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ نَعْلَمُ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;‘Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari perbuatan syirik yang kami ketahui. Dan kami mohon ampunan kepada-Mu dari apa yang tidak kami ketahui.’”&lt;/em&gt; (HR. Ahmad)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;2. Mengenal riya’ dan berusaha menghindarinya&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kesamaran riya’ menuntut seseorang yang ingin menghindarinya agar mengetahui dan mengenal dengan baik riya’ dan penyebabnya. Selanjutnya, berusaha menghindarinya. Adakalanya seorang itu terjangkit penyakit riya’ disebabkan ketidaktahuan dan adakalanya karena keteledoran dan kurang hati-hati.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;3. Mengingat akibat jelek perbuatan riya’ di dunia dan akhirat&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Duhai saudariku di jalan Allah, sifat riya’ tidaklah memberikan manfaat sedikitpun, bahkan memberikan madharat yang banyak di dunia dan akhirat. Riya’ dapat membuat kemurkaan dan kemarahan Allah. Sehingga seseorang yang riya’ akan mendapatkan kerugian di dunia dan akhirat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;4. Menyembunyikan dan merahasiakan ibadah&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Salah satu upaya mengekang riya’ adalah dengan menyembunyikan amalan. Hal ini dilakukan oleh para ulama sehingga amalan yang dilakukan tidak tercampuri riya’. Mereka tidak memberikan kesempatan kepada setan untuk mengganggunya. Para ulama menegaskan bahwa menyembunyikan amalan hanya dianjurkan untuk amalan yang bersifat sunnah. Sedangkan amalan yang wajib tetap ditampakkan. Sebagian dari ulama ada yang menampakkan amalan sunnahnya agar dijadikan contoh dan diikuti manusia. Mereka menampakkannya dan tidak menyembunyikannya, dengan syarat merasa aman dari riya’. Hal ini tentu tidak akan bisa kecuali karena kekuatan iman dan keyakinan mereka.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;5. Latihan dan mujahadah&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Saudariku, ini semua membutuhkan latihan yang terus menerus dan mujahadah (kesungguhan) agar jiwa terbina dan terjaga dari sebab-sebab yang dapat membawa kepada perbuatan riya’ bila tidak, maka kita telah membuka pintu dan kesempatan kepada setan untuk menyebarkan penyakit riya’ ini ke dalam hati kita.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Belajar dari Para Salaf&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Duhai muslimah, berikut ini adalah kisah salaf yang menunjukkan betapa mereka menjaga diri dari riya’ dan sum’ah. Mereka tidak menginginkan ketenaran dan popularitas. Justru sebaliknya, mereka ingin agar tidak terkenal. Mereka memelihara keikhlasan, mereka takut jika hati mereka terkena ujub (bangga diri).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Abu Zar’ah yahya bin Abu ‘Amr bercerita: Pernah Adh-Dhahhak bin Qais keluar untuk memohon hujan bersama-sama dengan orang-orang, tapi ternyata hujan tidak turun dan beliau juga tidak melihat awan. Beliau berkata: &lt;em&gt;“Dimana gerangan Yazid bin Al Aswad?”&lt;/em&gt; (dalam satu riwayat: tidak seorang pun yang menjawab pertanyaan beliau. Beliau pun bertanya lagi: &lt;em&gt;“Dimana Yazid bin Al Aswad Al Jurasyi? Jika beliau mendengar, saya sangat berharap beliau berdiri.”&lt;/em&gt;) &lt;em&gt;“Ini saya”&lt;/em&gt;, seru Yazid. &lt;em&gt;“Berdirilah dan tolonglah kami ini di hadapan Allah. Jadilah kamu perantara(*) kami agar Allah menurunkan hujan kepada kami.”&lt;/em&gt;, kata Adh-Dhahhak bin Qais. Kemudian Yazid pun berdiri seraya menundukkan kepala sebatas bahu serta menyingsingkan lengan baju beliau kemudian berdoa: &lt;em&gt;“Ya Allah, sesungguhnya hamba-hamba-Mu ini memohon syafaatku kepada-Mu.”&lt;/em&gt; Beliau berdoa tiga kali dan seketika itu pula turunlah hujan yang sangat deras sehingga hampir terjadi banjir. Kemudian beliau pun berkata: &lt;em&gt;“Sesungguhnya kejadian ini membuat saya dikenal banyak orang. Bebaskanlah saya dari keadaan seperti ini.”&lt;/em&gt; Kemudian hanya berselang satu hari, yaitu Jum’at setelah peristiwa itu beliau pun wafat. (Riwayat Ibnu Sa’ad (7/248) dan Al Fasawi (2/239-pada penggal yang terakhir). Atsar ini shahih).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(*) &lt;em&gt;Dalam keadaan ini, meminta perantara dalam berdo’a diperbolehkan, karena Yazid bin Al Aswad Al Jurasyi yang menjadi perantara masih dalam keadaan hidup, dan beliau adalah seorang yang shaleh. Bedakan dengan keadaan orang-orang yang berdo’a meminta kepada orang yang dianggap shaleh yang sudah meninggal dunia di kubur-kubur mereka! dan ini merupakan Syirik Akbar yang membuat pelakunya kekal di neraka jika belum bertaubat. -ed&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Berkata Hammad bin Zaid &lt;em&gt;rahimahullah&lt;/em&gt;: &lt;em&gt;“Saya pernah berjalan bersama Ayyub tapi beliau melewati jalan-jalan yang membuat diriku heran dan bertanya-tanya kenapa beliau sampai berbuat seperti ini (berputar-putar melewati beberapa jalan). Ternyata beliau berbuat seperti itu karena beliau tidak mau orang-orang mengenal beliau dan berkata: ‘Ini Ayyub, ini Ayyub! Ayyub datang, Ayyub datang!’”&lt;/em&gt; (Riwayat Ibnu Sa’ad dan lainnya).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hammad berkata lagi: &lt;em&gt;“Ayyub pernah membawa saya melewati jalan yang lebih jauh, maka sayapun berkata: ‘Jalan ini lebih dekat!’ Beliau menjawab: ‘Saya menghindari kumpulan orang-orang di jalan tersebut.’ Dan memang apabila dia memberi salam, akan dijawab oleh mereka dengan jawaban yang lebih baik dari jawaban kepada yang lainnya. Dia berkata: ‘Ya Allah sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku tidak menginginkannya! Ya Allah sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku tidak menginginkannya!’”&lt;/em&gt; (Riwayat Ibnu Sa’ad (7/248) dan Al Fawasi (2/239-pada penggal yang terakhir). Atsar ini shahih).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kita berlindung kepada Allah dari penyakit riya’. Semoga Allah menjadikan kita seorang mukhlishah, senantiasa berusaha untuk menjaga niat dari setiap amalan yang kita lakukan. &lt;em&gt;Innamal ‘ilmu ‘indallah. Wa’allahu a’lam.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Maraji’:&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Terjemah &lt;em&gt;Sittu Duror&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Landasan Membangun Jalan Selamat&lt;/em&gt;. ‘Abdul Malik Ahmad Ramdhani. Media Hidayah. Cetakan pertama. 2004.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;Mutiara Faidah Kitab Tauhid Syaikh Muhammad At Tamimi&lt;/em&gt;. Abu ‘Isa ‘Abdullah bin Salam. Cetakan pertama. LBIA Al Atsary.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Majalah As-Sunnah edisi 05/ VIII/ 1425H/ 2004M.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;***&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Artikel www.muslimah.or.id&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4254596231959459245-5550742443449520464?l=kerudungkinan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4254596231959459245/posts/default/5550742443449520464'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4254596231959459245/posts/default/5550742443449520464'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kerudungkinan.blogspot.com/2008/06/ketika-kita-ingin-dilihat.html' title='Ketika kita ingin dilihat'/><author><name>kerudung kinan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4254596231959459245.post-4992423532509394532</id><published>2008-06-18T10:08:00.000+07:00</published><updated>2008-06-18T10:09:52.024+07:00</updated><title type='text'>Bahagia dalam keterasingan</title><content type='html'>Kalau bercerita  tentang keterasingan seorang muslim yang mengemban amanah ‘&lt;i&gt;ubudiyah&lt;/i&gt;  penghambaan diri kepada Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt;, baik yang hidup  pada masa awal muncul Islam maupun yang ditakdirkan pada masa akhir  zaman seperti pada zaman sekarang ini, merupakan kumpulan cerita orang  yang tidak lepas dirundung duka dan dilanda kesedihan. Mereka tidak  ubahnya sebagai seorang musafir yang singgah di perkampungan, tidak  ada saudara untuk tempat mengadu, tidak ada kerabat untuk diminta bantuannya,  tidak ada teman yang diajak tertawa dan bercengkrama. Akan tetapi keterasingan  tersebut tidak membawanya kepada pesimis, malahan membuat mereka optimis.  Mereka tetap bisa bekerja, beramal semaksimal mungkin untuk mendapatkan  keberuntungan sebagai bekal yang akan mereka bawa ke kampung halamannya.&lt;br /&gt;  &lt;b&gt;&lt;br /&gt;1.  Siapakah orang-orang yang dianggap asing tersebut ?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Untuk mengenal  siapakah orang-orang yang dianggap asing atau &lt;i&gt;ghuraba'&lt;/i&gt;, maka  mari kita lihat dan kita resapi &lt;u&gt;h&lt;/u&gt;adits Rasulullah &lt;i&gt;Shallallahu  'alaihi wa sallam&lt;/i&gt; dan kita rasakan seolah-olah Rasulullah  &lt;i&gt; Shallallahu 'alaihi wa sallam&lt;/i&gt; hidup ditengah-tengah kita, diantara &lt;u&gt; h&lt;/u&gt;adits tersebut adalah:&lt;br /&gt;&lt;ul type="disc"&gt;&lt;li&gt;Dari Abi Hurairah &lt;i&gt;Radhiyallahu   ‘anhu&lt;/i&gt; ia berkata: Rasulullah &lt;i&gt;Shallallahu   'alaihi wa sallam&lt;/i&gt; bersabda: &lt;i&gt;"Sesungguhya   Islam datang dalam keadaan asing, dan akan kembali asing,   maka beruntunglah orang-orang yang dianggap asing."&lt;/i&gt; &lt;b&gt;(HR.   Muslim/2/152 no. 232-(145)&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dalam riwayat Abdullah bin   Mas'ud, dia berkata: dikatakan kepadanya; siapakah mereka wahai Rasulullah   ? Beliau &lt;i&gt;Shallallahu 'alaihi wa sallam&lt;/i&gt; menjawab: "Orang-orang   yang baik, ketika manusia telah rusak". &lt;b&gt;(HR.   Abu Amr Ad-Dani di &lt;i&gt;Sunan Waridah   fil fitan&lt;/i&gt; 1/25, Al-Ajurri di Ghuraba' hal. 21, silahkan lihat   &lt;i&gt;Silsilah Sha&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;i&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;ah&lt;/i&gt; 3/267 )&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;u&gt;H&lt;/u&gt;adits-&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;adits  tentang ini sangat banyak, bahkan dalam tinjauan para para ulama lebih  20 orang sahabat yang meriwayatkan &lt;u&gt;h&lt;/u&gt;adits tentang &lt;i&gt;Ghuraba'&lt;/i&gt;  ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;2.  Para salaf berbicara tentang keterasingan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;u&gt;A.  Sunnatullah yang sedang berlaku&lt;/u&gt;&lt;br /&gt; Dalam keterangan  Nabi &lt;i&gt;Shallallahu 'alaihi wa sallam&lt;/i&gt; yang mulia, Islam akan mengalami  dua kali keterasingan; keterasingan pertama yaitu keterasingan awal  Islam dan keterasingan yang kedua adalah keterasingan akhir Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;u&gt;H&lt;/u&gt;adits  keterasingan diatas memiliki makna yang sama dengan &lt;u&gt;h&lt;/u&gt;adits Hudzaifah  Ibnul Yaman &lt;i&gt;Radhiyallahu ‘anhu&lt;/i&gt; tentang pertanyaan beliau kepada  Nabi &lt;i&gt;Shallallahu 'alaihi wa sallam&lt;/i&gt; perihal kebaikan dan keburukan;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dari Idris Al-Khaulani  bahwa dia mendengar Huzaifah bin Yaman &lt;i&gt;Radhiyallahu  ‘anhu&lt;/i&gt; berkata: "Orang-orang banyak bertanya kepada Rasulullah &lt;i&gt; Shallallahu 'alaihi wa sallam&lt;/i&gt; tentang kebaikan, sebaliknya aku  bertanya tentang keburukan karena aku takut jatuh kedalamnya, aku berkata:  Wahai Rasulullah, kami dahulunya dalam jahiliyah dan keburukan, lalu  datanglah kepada kami kebaikan ini (Islam), apakah setelah kebaikan  ini ada keburukan ? "Benar" jawab Beliau &lt;i&gt;Shallallahu  'alaihi wa sallam&lt;/i&gt;. Aku berkata; Apakah sesudah keburukan itu ada  kebaikan ? Beliau &lt;i&gt;Shallallahu 'alaihi wa sallam&lt;/i&gt; berkata: "Benar,  akan tetapi berkabut". Aku berkata : "Apa kabutnya ? Beliau &lt;i&gt;Shallallahu  'alaihi wa sallam&lt;/i&gt; menjawab: "Adanya satu kelompok mengambil  petunjuk selain dari petunjukku, engkau mengenal mereka dan engkau ingkari  perbuatannya. Aku berkata; Apakah setelah kebaikan tersebut ada keburukan  ? Beliau &lt;i&gt;Shallallahu 'alaihi wa sallam&lt;/i&gt; menjawab: "Benar,  adanya juru dakwah di pintu-pintu Jahannam, siapa yang memenuhi panggilan  mereka, akan mereka masukkan kedalamnya". &lt;b&gt;(HR. Bukhori 6/615 no.  3606, Muslim 12/236 no. 1847)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;u&gt;H&lt;/u&gt;adits  ini cukup panjang kita tidak merinci semuanya. Dan kalau kita cermati &lt;u&gt; h&lt;/u&gt;adits Huzaifah &lt;i&gt;Radhiyallahu  ‘anhu&lt;/i&gt; diatas bahwa kebaikan dan keburukan saling bergantian. Masa  jahiliyah, lalu masa kebaikan, lalu masa keburukan, lalu masa kebaikan  yang telah berdebu, lalu keburukan total.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dari &lt;u&gt;h&lt;/u&gt;adits  tersebut jelaslah bagi kita bahwa seorang muslim dalam kehidupan ini  akan diuji oleh Allah &lt;i&gt;Tabâraka wa Ta'âla &lt;/i&gt; diuji dengan kebaikan dan keburukan. Dengan adanya kebaikan dan keburukan,  maka ini sebagai konsekuensi dari penciptaan manusia sebagai khalifah  di muka bumi ini, apakah mereka dapat bersabar dan istiqomah diatas  perintah-Nya atau sebaliknya mereka kufur dan ingkar terhadap syariatnya.  Allah &lt;i&gt;Sub&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;ânahu wa Ta'âla&lt;/i&gt; berfirman: &lt;i&gt;"Dialah  yang menciptakan langit dan bumi dalam  enam masa, dan ‘Arsy-Nya diatas air untuk menguji kalian siapa yang  terbaik amalnya". &lt;/i&gt;&lt;b&gt;(QS. Hud: 7)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ujian dan cobaan  sebagai filter keimanan seseorang, Allah &lt;i&gt;Tabâraka wa Ta'âla&lt;/i&gt;  telah menerangkan harus ada ujian dan cobaan agar kekuatan iman dapat  dipastikan, Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; berfirman: &lt;i&gt;‘Apakah  manusia menyangka mereka dibiarkan saja untuk berkata  "kami telah beriman". Padahal mereka belum diuji. Kami  telah uji orang-orang sebelum mereka,  supaya Allah mengetahui siapa yang benar keimanannya dan  siapa yang dusta dalam keimanannya". &lt;/i&gt; &lt;b&gt;(QS. al-Ankabut: 2-3)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;u&gt;B.  Orang yang berpegang teguh dengan agamanya seperti menggenggam bara  api&lt;/u&gt;&lt;br /&gt; Nabi Muhammad &lt;i&gt; Shallallahu 'alaihi wa sallam&lt;/i&gt; mengibaratkan orang yang berpegang  teguh dengan kebenaran pada zaman keterasingan dengan seorang yang sedang  memegang bara, ketika bara dipegang terasa panas yang sangat, hingga  mengelupaskan kulit dan mengeluarkan air mata karena pedihnya, akan  tetapi ia harus tetap digenggam, sebab ia adalah perintah dan ia adalah  satu-satunya jalan keselamatan. Jika ia dilepas, berarti lepaslah agama.  Bara itu tidak boleh digenggam dengan tanggung-tanggung. Dapat dipastikan  akan menambah lama penderitaan dan kesengsaraan, akan tetapi ia harus  digenggam erat, agar mati panasnya bara, yang tersisa hanyalah kebahagian  menyongsong ganjaran dan pahala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Untuk memperkuat  dan menambah keyakinan kita, mari kita lihat &lt;u&gt;h&lt;/u&gt;adits Rasulullah &lt;i&gt; Shallallahu 'alaihi wa sallam&lt;/i&gt; yang berbicara tentang ini: "Dari  Anas bin Malik &lt;i&gt;Radhiyallahu ‘anhu&lt;/i&gt; bahwasanya Rasulullah &lt;i&gt; Shallallahu 'alaihi wa sallam&lt;/i&gt; bersabda: "Akan datang kepada  manusia suatu masa, orang yang sabar pada masa itu bagaikan orang yang  sedang menggenggam bara". &lt;b&gt;(HR.Tirmidzi 4/526 no. 2260 berkata  Tirmidzi bahwa &lt;u&gt;h&lt;/u&gt;adits ini dari jalan gharib.  dan disha&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;i&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;kan oleh Syaikh al-Albani dalam  Silsilah ash-Sha&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;i&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;ah  2/645 no. 957)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dan bukan berarti  jika ia bara yang panas, ia boleh dilepaskan dan ditinggalkan, karena  dengan melepaskan dan meninggalkannya berarti akan menanggalkan semua  atribut penyerahan dirinya kepada Allah &lt;i&gt;Tabâraka wa Ta'âla&lt;/i&gt;,  ia telah menanggalkan pakaian Islam dari dirinya dan memutuskan tali  kebahagiaan dan gantungan jiwanya, karena bara itu tidak lain adalah  Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Adapun sikap  seorang mukmin dalam keterasingan ini adalah selalu istiqomah dalam  melaksanakan perintah Allah  &lt;i&gt;Sub&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;ânahu wa Ta'âla&lt;/i&gt; dan  Rasul-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;3.  Kenapa Islam awal munculnya dianggap asing dan di akhir zaman juga dianggap  asing ? &lt;/b&gt;&lt;br /&gt; Hal ini dapat  kita lihat dalam sejarah, yaitu sebelum kedatangan Islam keadaan masyarakat  bumi pada masa itu dalam gelap gulita tidak ada cahaya hidayah dan lentera  kebenaran, masyarakat tidak lagi beragama sesuai dengan agama yang Allah &lt;i&gt; ‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; turunkan pada setiap Rasul yang diutus pada setiap  negeri, sedangkan masyarakat pada waktu itu dikenal dengan masyarakat  jahiliyah, karena mereka tidak lagi menjalankan nilai-nilai kebaikan  yang diturunkan oleh Allah &lt;i&gt;Tabâraka wa Ta'âla&lt;/i&gt; melalui agama  yang &lt;u&gt;h&lt;/u&gt;anif, lurus sebagaimana lurusnya awal penciptaan fitrah  pada diri manusia. Terjadinya kegelapan dan kebodohan, karena manusia  telah meninggalkan perintah Dzat Yang Maha Kuasa, melanggar perintah-Nya  dan mengerjakan larangan-Nya, ketika itulah mereka disebut masyarakat  bodoh atau jahiliyah. Rasulullah &lt;i&gt;Shallallahu  'alaihi wa sallam&lt;/i&gt; diutus, semua manusia musuhnya, tidak ada yang  beriman kecuali orang-orang tertentu dari kalangan bawah dan segelintir  dari orang yang memiliki fitrah yang bersih dan akal yang lurus.dari  segi aqidah orang-orang jahiliyah menyembah berhala, patung, syirik  dan kekufuran, akhlaq mereka yang rusak, suka berperang, balas dendam  dan sombong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Oleh karena itu,  kebenaran begitu terasing sebelum Nabi &lt;i&gt;Shallallahu  'alaihi wa sallam&lt;/i&gt; diutus, sehingga seseorang yang berakal sehat  dan mempunyai fitrah yang lurus tidak bisa menjalankan agama yang benar,  karena kentalnya maksiyat dan menyebarnya kebatilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dengan kondisi  seperti itu maka kedatangan Islam dianggap asing, karena Islam meluruskan  jalan hidup manusia yang melenceng. Kaum muslimin terasing dengan peribadatannya  kepada Allah &lt;i&gt;Sub&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;ânahu wa Ta'âla&lt;/i&gt; diantara peribadatan  orang-orang kebanyakan kepada patung dan berhala. Kaum muslimin terasing  dengan bimbingan wahyu dari Allah &lt;i&gt;Tabâraka wa Ta'âla&lt;/i&gt; terhadap  akal dan hawa nafsunya ditengah masyarakat yang memperturutkan akal  dan hawa nafsunya tanpa bimbingan wahyu dari Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;-Keterasingan Rasulullah  &lt;i&gt;Shallallahu 'alaihi wa sallam&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt; Setelah tiga  tahun berlalu umur dakwah Nabi &lt;i&gt;Shallallahu  'alaihi wa sallam&lt;/i&gt; orang-orang yang masuk Islam datang dalam keadaan  terasing. Ini yang dirasakan langsung oleh Nabi &lt;i&gt;Shallallahu  'alaihi wa sallam&lt;/i&gt; sebagai manusia pertama yang merasa asing, bagaimana  tidak !!! Seorang anak bangsawan Quraisy dikenal dengan semua sifat  baik dan budi pekertinya yang halus, ketika Beliau &lt;i&gt;Shallallahu  'alaihi wa sallam&lt;/i&gt; bangkit dengan dakwah Islam, Beliau &lt;i&gt;Shallallahu  'alaihi wa sallam&lt;/i&gt; dimusuhi. Kekaguman berubah menjadi kebencian,  kawan berubah menjadi lawan, kedekatan berubah menjadi pengusiran, kata-kata  baik selalu ditafsirkan buruk, cobaan demi cobaan Beliau &lt;i&gt;Shallallahu  'alaihi wa sallam&lt;/i&gt; hadang walaupun nyawa tantangannya. Tidak ada  yang memberikan pembelaan kecuali segelintir orang. Akan tetapi pembela,  penolong yang paling hebat, yaitu Allah selalu memperhatikannya, sampai  kemenangan dan kebahagian diraih oleh Rasulullah &lt;i&gt;Shallallahu  'alaihi wa sallam&lt;/i&gt; dan para sahabatnya &lt;i&gt;Ridhwânullahi  ‘alaihim ajma'in&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;-Keterasingan Para  Shahabat &lt;i&gt;Ridhwânullahi ‘alaihim ajma'in&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt; Keterasingan  yang dirasakan oleh shahabat, dapat kita lihat seperti Abu Bakar ash-Shiddiq &lt;i&gt; Radhiyallahu ‘anhu&lt;/i&gt;, dia diusir dari Makkah, ketika beliau sampai  di Barkul Ghamad (daerah di Yaman) bertemu dengan Ibnu Dighnah, penguasa  wilayah tersebut, ia berkata: "Kemana engkau hendak pergi, wahai Abu  Bakar ? Beliau berkata: "Kaumku telah mengusirku, maka aku hendak  berkelana beribadah kepada Robbku". Ibnu Dighnah berkata: "Orang  sepertimu tidak boleh keluar dan tidak boleh diusir, engkau orang yang  memperkerjakan orang yang mengganggur, menjalin silaturrahim, menanggung  orang-orang yang lemah, menerima tamu dan membantu orang yang mendapat  kesusahan, aku adalah tetanggamu, pulanglah dan ibadatilah Robbmu di  kampungmu", lalu orang musyrik itu, menjadi penjaminnya untuk masuk  Makkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kita lihat pula  Bilal ibnu Robah &lt;i&gt;Radhiyallahu ‘anhu&lt;/i&gt; disiksa oleh majikannya,  dijemur dibawah terik matahari di padang pasir yang berbatu, Syuhaib &lt;i&gt; Radhiyallahu ‘anhu&lt;/i&gt; dibakar kepalanya dengan besi panas. Semua  ini penyebabnya karena dianggap asing oleh masyarakat yang telah rusak  aqidahnya, akhlaknya dan mu'amalahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;-Keterasingan Pemeluk  Islam ditengah Para Pemeluk Agama Lain dari Orang-orang Kafir&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;-Keterasingan Ahlus  Sunnah Waljama'ah diantara Kalangan Umat Islam&lt;/b&gt;&lt;br /&gt; Disebabkan karena  Ahlussunah Waljama'ah merupakan golongan yang selamat dari 73 golongan  yang digambarkan oleh Rasulullah &lt;i&gt;Shallallahu  'alaihi wa sallam&lt;/i&gt; masuk neraka, satu yang selamat yaitu mereka  yang berpegang teguh kepada apa yang diamalkan oleh Rasulullah dan para  sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;-Keterasingan Para  Penegak Kebenaran dan Orang yang Melantangkan Suaranya dalam Menyeru  kepada Tauhid&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;4.  Sifat-sifat Ghuraba' (Orang-orang  Asing)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt; Orang-orang &lt;i&gt; ghuraba'&lt;/i&gt; pada masa akhir zaman, dialah muslim sejati dengan sifat-sifat  idealnya, sebagaimana mereka adalah muslim sebenarnya pada masa awal  Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dari semua kumpulan &lt;u&gt; h&lt;/u&gt;adits tentang mereka maka sifat yang paling menonjol pada mereka  adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;ul type="disc"&gt;&lt;li&gt;Mereka adalah orang-orang   yang shali&lt;u&gt;h&lt;/u&gt; dan ta'at pada perintah agama. Engkau lihat mereka   bergerak dan berjalan atau diam, dia selalu meletakkan kakinya diatas   aturan Allah &lt;i&gt;Sub&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;ânahu wa Ta'âla&lt;/i&gt;, perhatiannya tidak   lepas kepada tempat suruhan yang akan dia kerjakan dan tempat larangan   yang harus dia tinggalkan. Begitu besar perhatiannya kepada hal yang   demikian sehingga mendorongnya untuk menuntut ilmu syariat, karena tidak   akan mungkin mengetahui hal itu tanpa memiliki &lt;i&gt;bashirah&lt;/i&gt; yang   tajam dan ilmu yang mendalam tentang al-Qur'ân dan Sunnah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Keshali&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;annya menuntutnya   untuk mengenal Allah &lt;i&gt;Tabâraka wa Ta'âla&lt;/i&gt;, Ia sangat mengenal   tempat-tempat kemurkaan-Nya sebagaimana ia mengenal tempat-tempat keridhaan-Nya.   Ia tahu apa yang harus ia perbuat ketika ia tergelincir dalam melakukan   kesalahan dan maksiyat, bagaimana ia kembali dapat merebut kecintaan   Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; kepadanya, bahkan melalui kesalahan tersebut   ia mampu untuk mendekatkan diri kepada-Nya lebih dekat lagi daripada   sebelum melakukan kesalahan dan maksiyat.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  Demikianlah diantara  sifat-sifat orang yang &lt;i&gt;ghuraba'&lt;/i&gt; (asing) semoga Allah menunjuki  hati kita menuju jalan-Nya dan menjauhi kita dari jalan yang menyimpang  dan sesat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Disadur dari buku &lt;b&gt;&lt;i&gt; Temui Aku di Telaga&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; oleh &lt;b&gt;Ustadz  Armen &lt;u&gt;H&lt;/u&gt;alim Naro&lt;/b&gt;.&lt;br /&gt;http://dareliman.or.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4254596231959459245-4992423532509394532?l=kerudungkinan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4254596231959459245/posts/default/4992423532509394532'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4254596231959459245/posts/default/4992423532509394532'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kerudungkinan.blogspot.com/2008/06/bahagia-dalam-keterasingan.html' title='Bahagia dalam keterasingan'/><author><name>kerudung kinan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4254596231959459245.post-7006450510357115997</id><published>2008-06-09T14:31:00.000+07:00</published><updated>2008-06-09T14:33:34.492+07:00</updated><title type='text'>Carilah Usaha yang baik</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Bagiannya Sudah Ditetapkan&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Urgensi makanan yang halal menuntut adanya usaha yang halal, sebab salah satu cara mendapatkan makanan yang halal adalah dengan sarana usaha yang halal juga. Apalagi di zaman sekarang di mana keimanan semakin tipis dan kebodohan sangat mendominasi kaum muslimin. Bagaimana tidak! Mereka sudah tidak mengenal lagi halal dan haram, bahkan ada yang menyatakan Yang haram saja susah apalagi yang halal. Padahal setiap orang sudah ditetapkan bagian rezekinya dan telah disiapkan Allah seluruhnya. Kita hanya diperintahkan mencarinya dengan cara yang baik dan sesuai koridor syariat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span id="more-133"&gt;&lt;/span&gt;Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Wahai sekalian manusia bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah usaha mencari rezeki, karena jiwa tidak akan mati sampai sempurna rezekinya walaupun kadang agak tersendat-sendat. Maka bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah dalam mengusahakannya, ambillah yang halal dan buanglah yang haram.”&lt;/em&gt; (HR. Ibnu Majah dan dishohihkan Al Albani dalam &lt;em&gt;Shohih Ibnu Majah&lt;/em&gt; no. 1741)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jelas sekali perintah mencari usaha yang halal dalam sabda beliau di atas dan hal ini termasuk perkara besar yang sangat ditekankan dan menjadi skala prioritas utama para ulama salaf.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Fenomena yang Ada&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Banyak orang menyepelekan permasalahan ini, sampai-sampai tidak pernah peduli apakah yang diusahakannya halal atau haram dan cara mendapatkannya juga halal atau haram? Apalagi di zaman sekarang penipuan, dusta, pemalsuan dan pencurian menjadi salah satu senjata utama memperoleh uang. Kalau sudah demikian adanya, bisakah diharapkan doa kita dikabulkan dan diterima Allah? Kalau sudah tidak diterima lagi doa kita, maka kita kehilangan satu senjata pamungkas menuju kejayaan umat islam, sebab doa adalah senjata kaum mukminin. Lihat berapa banyak kemenangan kaum muslimin di masa Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;, salah satu sebab utamanya adalah doa!&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Oleh karena itu, jika sebahagian orang heran dan bertanya-tanya, Mengapa kita belum mendapat kemenangan? Mengapa kita memohon kepada Allah dan merendah diri kepada-Nya agar Ia berkenan melapangkan kesusahan yang menimpa kaum Muslimin, serta menghancurkan orang-orang zhalim, namun tidak terkabulkan? Ia heran, bagaimana dan mengapa?! Kemungkinan jawabannya adalah kelalaian kita dalam mencari makanan yang baik dan usaha kita yang baik. Sebab Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;Sesungguhnya Allah taala itu baik,tidak menerima kecuali yang baik,dan bahwa Allah memerintahkan kepada orang-orang mukmin dengan apa yang diperintahkannya kepada para Rasul dalam firman-Nya,&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.&lt;/em&gt; (QS. Al Muminun: 51)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;Dan Ia berfirman,&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;Hai orang-orang yang beriman,makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu.&lt;/em&gt; (QS. Al Baqarah: 172)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;Kemudian beliau menyebutkan seorang laki-laki yang kusut warnanya seperti debu mengulurkan kedua tangannya ke langit sambil berdoa: “Ya Rabb,Ya Rabb, sedang makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, ia kenyang dengan makanan yang haram, maka bagaimana mungkin orang tersebut dikabulkan permohonannya?!&lt;/em&gt; (Dikeluarkan oleh Muslim dalam &lt;em&gt;az-Zakaah&lt;/em&gt; no. 1015, at-Tirmidzi dalam &lt;em&gt;Tafsirul Quran&lt;/em&gt; no. 2989, Ahmad dalam &lt;em&gt;Baaqi Musnad al-Muktsriin&lt;/em&gt; no. 1838, ad-Darimi dalam &lt;em&gt;ar-Riqaaq&lt;/em&gt; no. 2717)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam hadits ini Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; menjelaskan bagaimana kondisi seseorang yang bepergian dalam kondisi kusut masai dan mengangkat kedua tangannya merendahkan diri untuk meminta kepada Allah dikabulkan doanya, namun doanya ditolak karena makanan, pakaian dan minumannya haram. Oleh karena itu seorang ulama besar bernama Yusuf bin Asbath berkata, &lt;em&gt;Telah sampai kepada kami bahwa doa seorang hamba ditahan naik ke langit lantaran buruknya makanan (makanannya tidak halal)&lt;/em&gt; (&lt;em&gt;Jaamiul Uluum wa al-Hikam&lt;/em&gt; 1/275). Demikian juga sahabat yang mulai Saad bin Abi Waqqash yang terkenal memiliki doa mustajab, ketika ditanya mengenai sebab doanya diterima; beliau berkata, &lt;em&gt;“Aku tidak mengangkat sesuap makanan ke mulutku kecuali aku mengetahui dari mana datangnya dan dari mana ia keluar.”&lt;/em&gt; (&lt;em&gt;Jaamiul Uluum wa al-Hikam&lt;/em&gt; 1/275).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Wajib Punya Ilmu&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jelas sudah dari uraian diatas, pentingnya makanan dan usaha yang halal, tentu saja hal ini menuntut setiap orang untuk sadar dan mengetahui dengan baik setiap muamalat yang dilakukannya dan mengetahui dengan jelas dan gamblang mana yang haram dan mana yang halal serta yang syubhat (tidak jelas).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Wajib bagi seorang yang akan berusaha dan mencari rizki untuk belajar halal dan haram apa yang akan menjadi usahanya. Oleh karena itu Khalifah Umar bin Khaththab berkata, &lt;em&gt;Janganlah berdagang di pasar kami kecuali orang faqih, [mengerti tentang jual beli], jika tidak maka dia makan riba.&lt;/em&gt; (Dinukildari buku &lt;em&gt;Minal Muamalaat fii al-Fiqhil Islami&lt;/em&gt; 19). Demikian juga Kholifah Ali bin Abi Tholib pernah berkata, &lt;em&gt;Siapa yang berdagang sebelum mengerti fiqih, maka ia akan tercebur ke dalam riba, kemudian tercebur lagi dan kemudian akan tercebur lagi.&lt;/em&gt; artinya terjerumus ke dalamnya dan kebingungan (Dinukil dari buku &lt;em&gt;Minal Muamalaat fii al-Fiqhil Islami&lt;/em&gt; 19). Itu pernyataan di zaman mereka yang dipenuhi ilmu, petunjuk dan takwa. Lalu bagaimana dengan zaman kita sekarang ini yang dipenuhi kebodohan, kesesatan dan kemaksiatan?!&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Bagaimana Langkah Kita&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tidak ada pilihan lain bagi kita, kecuali kembali mempelajari aturan dan ajaran Islam tentang usaha-usaha yang diperbolehkan dan dilarang dan jenis makanan yang halal dan haram. Tentunya dengan merujuk kepada Al Quran dan Sunnah dan pemahaman para sahabat dan ulama yang mengikuti jalan mereka dengan baik. Selamat belajar!!!!&lt;/p&gt; &lt;p&gt;***&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Penulis: Ust. Kholid Syamhudi, Lc.&lt;br /&gt;Sumber: Kumpulan tulisan ust. Kholid Syamhudi, Lc.&lt;br /&gt;Dipublikasikan kembali oleh www.muslim.or.id&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4254596231959459245-7006450510357115997?l=kerudungkinan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4254596231959459245/posts/default/7006450510357115997'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4254596231959459245/posts/default/7006450510357115997'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kerudungkinan.blogspot.com/2008/06/carilah-usaha-yang-baik.html' title='Carilah Usaha yang baik'/><author><name>kerudung kinan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4254596231959459245.post-177419776334853349</id><published>2008-06-03T07:34:00.000+07:00</published><updated>2008-06-03T07:35:30.685+07:00</updated><title type='text'>Sucikan diri dengan meraih Ridho Illahi</title><content type='html'>Mungkin diantara kita ada yang pernah mengalami kejadian berikut ini saat seseorang mengeluh ketika diajak untuk shalat berjama'ah di masjid, ia berkata: "Wah saya malu, saya ini kotor, terlalu banyak dosa. Hidup saya penuh lumpur dosa." Satu sisi ada baiknya, ketika kita masih punya rasa malu dan menyadari punya dosa. Karena memang setiap orang pasti punya dosa. Adalah menjadi sesuatu yang tidak pantas ketika hal itu dijadikan sebagai alasan untuk menolak melakukan kebaikan, seperti ikut pengajian dan shalat berjam'ah ke masjid.&lt;br /&gt;Padahal dengan shalat, dosa dan kesalahan seseorang akan terkikis. Bukankah ajaran Islam merupakan pentazkiyah (penyuci), baik noda hati maupun dosa. Perlu kita ingat kembali bahwa petunjuk Islam yang mengantarkan pada pembersihan dosa. Sebagai pendosa mestinya tidak layak untuk malu melakukan kebaikan yang akan membersihkan dirinya, sementara tidak malu untuk melakukan berbagai kemaksiatan. Berikut ini langkah-langkah pengikis dosa:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;b&gt;1.      &lt;/b&gt;&lt;b&gt;TAUBAT&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Barangsiapa yang bertaubat sebelum matahari terbit dari barat, niscaya Allah akan mengampuninya".&lt;/i&gt; &lt;b&gt;(&lt;u&gt;H&lt;/u&gt;R. Muslim, no. 2703)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat lain:&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla menerima taubat seorang hamba selama ruh belum sampai ditenggorokan".&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;2.      &lt;/b&gt;&lt;b&gt;MENUNTUT ILMU&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, niscaya Allah memudahkan baginya dengan ilmu itu jalan menuju ke surga".&lt;/i&gt; &lt;b&gt;(&lt;u&gt;H&lt;/u&gt;R. Muslim, no. 2699)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;3.      &lt;/b&gt;&lt;b&gt;SENANTIASA MENGINGAT ALLAH &lt;i&gt;SUB&lt;u&gt;H&lt;/u&gt;ÂNAHU WA TA'ÂLA&lt;/i&gt; &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Inginkah kalian aku tunjukkan kepada amalan-amalan yang terbaik, tersuci di sisi Allah, tertinggi dalam tingkatan derajat, lebih utama daripada mendermakan emas dan perak, dan lebih baik daripada menghadapi musuh lalu kalian tebas batang lehernya, dan merekapun menebas batang leher kalian. Mereka berkata; ‘Tentu', lalu beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda; ‘Dzikir kepada Allah'.&lt;/i&gt; &lt;b&gt;(&lt;u&gt;H&lt;/u&gt;R. at-Tirmidzi, no. 3347)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;4.      &lt;/b&gt;&lt;b&gt;MEMPELAJARI AL-QURÂN DAN MENGAJARKANNYA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al-Qurân dan mengajarkannya".&lt;/i&gt; &lt;b&gt;(&lt;u&gt;H&lt;/u&gt;R. Bukhori, Juz 9/no. 66)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;5.      &lt;/b&gt;&lt;b&gt;MENYEBARKAN SALAM&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Kalian tidak akan masuk surga sehingga beriman, dan tidaklah sempurna iman kalian sehingga kalian berkasih sayang. Maukah aku tunjukkan suatu amalan yang jika kalian lakukan akan menumbuhkan rasa kasih sayang diantara kalian ? (yaitu) Sebarkanlah salam". &lt;/i&gt;&lt;b&gt;(&lt;u&gt;H&lt;/u&gt;R. Muslim, no. 54)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;6.      &lt;/b&gt;&lt;b&gt;MENCINTAI KARENA ALLAH &lt;i&gt;SUB&lt;u&gt;H&lt;/u&gt;ÂNAHU WA TA'ÂLA&lt;/i&gt; &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Sesungguhnya Allah berfirman pada hari Kiamat: Dimanakah orang-orang yang mencintai karena keagungan-Ku ? Hari ini Aku akan menaunginya dalam naungan-Ku, pada hari dimana tidak ada naungan selain naungan-Ku". &lt;/i&gt;&lt;b&gt;(&lt;u&gt;H&lt;/u&gt;R. Muslim, no. 2566)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;7.      &lt;/b&gt;&lt;b&gt;MEMBESUK ORANG YANG SAKIT&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Tidaklah seorang muslimpun membesuk orang muslim yang sedang sakit pada pagi hari kecuali ada 70.000 malaikat bershalawat kepadanya hingga sore harinya, dan apabila ia menjenguk pada sore harinya mereka (para malaikat) akan bershalawat kepadanya hingga pagi hari, dan akan diberikan kepadanya sebuah taman di surga".&lt;/i&gt; &lt;b&gt;(&lt;u&gt;H&lt;/u&gt;R. at-Tirmidzi, no. 969)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;8.      &lt;/b&gt;&lt;b&gt;MEMBANTU MELUNASI HUTANG&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Barangsiapa meringankan beban orang yang berada dalam kesulitan, maka Allah akan meringankan bebannya di dunia dan di akhirat".&lt;/i&gt; &lt;b&gt;(&lt;u&gt;H&lt;/u&gt;R. Muslim, no. 2699)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;9.      &lt;/b&gt;&lt;b&gt;MENUTUP AIB ORANG LAIN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Tidaklah seorang hamba menutup aib hamba yang lain di dunia kecuali Allah akan menutup aibnya di hari Kiamat".&lt;/i&gt; &lt;b&gt;(&lt;u&gt;H&lt;/u&gt;R. Muslim, no. 2590)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;10. &lt;/b&gt;&lt;b&gt;MENYAMBUNG TALI SILATURAHIM&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Silaturahim itu tergantung di ‘Arsy (Singgasana Allah ‘Azza wa Jalla) seraya berkata: "Barangsiapa yang menyambungku maka Allah akan menyambung hubungan dengannya, dan barangsiapa yang memutuskanku maka Allah akan memutus hubungan dengannya".&lt;/i&gt; &lt;b&gt;(&lt;u&gt;H&lt;/u&gt;R. Bukhori, Juz 10/no. 423 dan Muslim, no. 2555)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;11. &lt;/b&gt;&lt;b&gt;MENAHAN MARAH&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Barangsiapa menahan marah padahal ia mampu menampakkannya maka kelak pada hari Kiamat Allah akan memanggilnya di hadapan para makhluk dan menyuruhnya untuk memilih bidadari yang ia sukai".&lt;/i&gt; &lt;b&gt;(&lt;u&gt;H&lt;/u&gt;R. at-Tirmidzi, no 2022)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;12. &lt;/b&gt;&lt;b&gt;MENANGGUNG BEBAN HIDUP ANAK YATIM&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Saya dan penanggung beban hidup anak yatim itu di surga seperti ini, seraya beliau menunjukkan kedua jarinya: jari telunjuk dan jari tengah".&lt;/i&gt; &lt;b&gt;(&lt;u&gt;H&lt;/u&gt;R. Bukhori, Juz 10/no. 365)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;13. &lt;/b&gt;&lt;b&gt;BERSYAHADAT SETELAH BERWUDHU'&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Barangsiapa berwudhu' lalu memperbagus/menyempurnakan wudhu'nya kemudian ia mengucapkan, {Saya bersaksi bahwa tiada Ilah yang haq selain Allah tiada sekutu bagi-Nya, dan saya bersaksi bahwa Mu&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;ammad hamba dan utusan-Nya, Ya Allah jadikanlah aku termasuk orang yang bertaubat dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bersuci'}, maka dibukakan baginya pintu-pintu surga dan ia dapat memasukinya dari pintu mana saja yang ia kehendaki".&lt;/i&gt; &lt;b&gt;(&lt;u&gt;H&lt;/u&gt;R. Muslim, no. 234)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;14. &lt;/b&gt;&lt;b&gt;MENGUCAPKAN DO'A SETELAH AZAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Barangsiapa mengucapkan do'a ketika mendengar seruan azan: {Ya Allah pemilik panggilan yang sempurna dan shalat yang ditegakkan, berilah Mu&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;ammad wasilah (derajat paling tinggi di surga) dan kelebihan, dan bangkitkanlah ia dalam kedudukan terpuji yang telah Engkau janjikan kepadanya}, maka ia berhak mendapatkan syafa'atku pada hari Kiamat".&lt;/i&gt; &lt;b&gt;(&lt;u&gt;H&lt;/u&gt;R. Bukhori, Juz 2/no. 77)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;15. &lt;/b&gt;&lt;b&gt;MEMBANGUN MASJID&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Barangsiapa membangun mesjid karena mengharapkan keridhaan Allah maka dibangunkan baginya  yang serupa di surga".&lt;/i&gt; &lt;b&gt;(&lt;u&gt;H&lt;/u&gt;R. Bukhori, no. 450)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;16. &lt;/b&gt;&lt;b&gt;BERSIWAK&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Kalaulah tidak akan mempersulit umatku niscaya saya perintahkan mereka untuk bersiwak pada setiap shalat".&lt;/i&gt; &lt;b&gt;(&lt;u&gt;H&lt;/u&gt;R.  Bukhori, Juz 2/no. 331 dan Muslim, no.252)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;17. &lt;/b&gt;&lt;b&gt;SAAT DIKABULKANNYA PERMOHONAN PADA HARI JUM'AT&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Pada hari ini terdapat suatu saat bilamana seorang hamba muslim bertepatan dengannya sedangkan ia berdiri shalat seraya bermohon kepada Allah sesuatu, tiada lain ia akan dikabulkan permohonannya". &lt;/i&gt;&lt;b&gt;(&lt;u&gt;H&lt;/u&gt;R. Bukhori, Juz 2/no. 344 dan Muslim, no. 852)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;18. &lt;/b&gt;&lt;b&gt;MENGIRINGI SHALAT FARDHU DENGAN SHALAT SUNNAH RAWATIB&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Tidaklah seorang muslim shalat karena Allah setiap hari 12 raka'at sebagai shalat sunnat selain shalat fardhu, kecuali Allah membangunkan baginya rumah di surga". &lt;/i&gt;&lt;b&gt;(&lt;u&gt;H&lt;/u&gt;R. Muslim, no. 728)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;19. &lt;/b&gt;&lt;b&gt;SHALAT MALAM&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Shalat paling afdhal setelah shalat fardhu adalah shalat malam". &lt;/i&gt;&lt;b&gt;(&lt;u&gt;H&lt;/u&gt;R. Muslim, no. 1163)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;20. &lt;/b&gt;&lt;b&gt;SHALAT DHU&lt;u&gt;H&lt;/u&gt;A&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Setiap persendian dari salah seorang diantara kalian pada setiap paginya memiliki kewajiban sedekah, sedangkan setiap tasbi&lt;u&gt;h&lt;/u&gt; itu adalah sedekah, setiap ta&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;mid adalah sedekah, setiap takbir itu sedekah, memerintahkan kepada yang ma'ruf itu adalah sedekah dan mencegah dari yang mungkar adalah sedekah, tetapi semuanya itu dapat terpenuhi dengan melakukan shalat 2 rak'at dhu&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;a".&lt;/i&gt; &lt;b&gt;(&lt;u&gt;H&lt;/u&gt;R. Muslim, no. 720)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;21. &lt;/b&gt;&lt;b&gt;SHALAWAT KEPADA RASULULLAH &lt;i&gt;SHALLALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM&lt;/i&gt; &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Barangsiapa bershalawat kepadaku satu kali maka Allah membalas shalawatnya itu sebanyak 10 kali".&lt;/i&gt; &lt;b&gt;(&lt;u&gt;H&lt;/u&gt;R. Muslim, no. 384)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;22. &lt;/b&gt;&lt;b&gt;PUASA 6 HARI PADA BULAN SYAWAL&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Barangsiapa melakukan puasa Ramadhan, lalu ia mengiringinya dengan puasa 6 hari pada bulan syawal maka hal itu seperti puasa sepanjang masa". &lt;/i&gt;&lt;b&gt;(&lt;u&gt;H&lt;/u&gt;R. Muslim, no. 1164)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;23. &lt;/b&gt;&lt;b&gt;PUASA ARAFAH&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Puasa pada hari ‘Arafah (9 Dzulhijjah) dapat melebur (dosa-dosa) tahun yang lalu dan yang akan datang". &lt;/i&gt;&lt;b&gt;(&lt;u&gt;H&lt;/u&gt;R. Muslim, no. 1162)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;24. &lt;/b&gt;&lt;b&gt;PUASA ‘ASYURA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Dan dengasn puasa hari ‘Asyura (10 Mu&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;arram) saya berharap kepada Allah dapat melebur dosa-dosa setahun sebelumnya". &lt;/i&gt;&lt;b&gt;(&lt;u&gt;H&lt;/u&gt;R. Muslim, no. 1162)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;25. &lt;/b&gt;&lt;b&gt;SEDEKAH&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Sedekah itu menghapuskan kesalahan sebagaimana air memadamkan api". &lt;/i&gt;&lt;b&gt;(&lt;u&gt;H&lt;/u&gt;R.  at-Tirmidzi, no. 2616)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;26. &lt;/b&gt;&lt;b&gt;BERAMAL SHALIH PADA 10 HARI DI BULAN DZULHIJJAH&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Tiada hari-hari beramal shalih pada saat itu yang lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yaitu 10 hari pada bulan Dzulhijjah. Para shahabat bertanya, dan tidak pula jihad di jalan Allah ? Beliau bersabda, tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang keluar dengan jiwa dan hartanya kemudian ia tidak kembali lagi dengan dengan membawa sesuatu apapun". &lt;/i&gt;&lt;b&gt;(&lt;u&gt;H&lt;/u&gt;R. Bukhori, Juz 2/no. 381)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;27. &lt;/b&gt;&lt;b&gt;MENYALATI MAYIT DAN MENGIRINGI JENAZAH&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Barangsiapa ikut menyaksikan jenazah sampai dishalatkan maka ia memperoleh pahala satu qirat, dan barangsiapa yang menyaksikannya sampai dikubur maka baginya pahala dua qirat. Lalu dikatakan: Apakah dua qirat itu ? Beliau menjawab; Seperti dua gunung besar".&lt;/i&gt; &lt;b&gt;(&lt;u&gt;H&lt;/u&gt;R. Bukhori, Juz 3/no. 158)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;28. &lt;/b&gt;&lt;b&gt;MENYINGKIRKAN GANGGUAN DARI JALAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Saya telah melihat seseorang bergelimang di dalam kenikmatan surga dikarenakan ia memotong pohon dari tengah-tengah jalan yang mengganggu orang-orang". &lt;/i&gt;&lt;b&gt;(&lt;u&gt;H&lt;/u&gt;R. Muslim)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;29. &lt;/b&gt;&lt;b&gt;BERBUAT BAIK KEPADA HEWAN &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Ada seseorang melihat seekor anjing yang menjilat-jilat debu karena kehausan maka orang tersebut mengambil sepatunya dan memenuhinya dengan air kemudian meminumkannya pada anjing tersebut, maka Allah berterima kasih kepadanya dan memasukkannya ke dalam surga".&lt;/i&gt; &lt;b&gt;(&lt;u&gt;H&lt;/u&gt;R. Bukhori)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sumber: &lt;/b&gt;&lt;i&gt;60 Baaban min abwaabi al-Ajri wa Kaffaraati al-Akhathaaya, Daarul Wathan, Diterjemahkan oleh Abdurrauf Amak, Lc&lt;/i&gt;&lt;b&gt; (Dikutip dari Majalah Nikah Vol. 3 No. 9 Desember 2004)&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4254596231959459245-177419776334853349?l=kerudungkinan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4254596231959459245/posts/default/177419776334853349'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4254596231959459245/posts/default/177419776334853349'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kerudungkinan.blogspot.com/2008/06/sucikan-diri-dengan-meraih-ridho-illahi.html' title='Sucikan diri dengan meraih Ridho Illahi'/><author><name>kerudung kinan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4254596231959459245.post-2217148656254243388</id><published>2008-05-21T06:36:00.000+07:00</published><updated>2008-05-21T06:37:44.944+07:00</updated><title type='text'>SUNNAH-SUNNAH DALAM BERPAKAIAN</title><content type='html'>Oleh&lt;br /&gt;Syaikh Khalid al Husainan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu permasalahan yang kerap kali dialami oleh kebanyakan manusia dalam kesehariannya adalah melepas dan memakai pakaian baik untuk tujuan pencucian pakaian, tidur, atau yang selainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunnah-sunnah yang berkaitan dengan melepas dan memakai pakaian adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1]. Mengucapkan Bismillah [Dengan Nama Allah]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu diucapkan baik ketika melepas maupun memakai pakaian. Imam An-Nawawy berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Mengucapkan bismillah adalah sangat dianjurkan dalam seluruh perbuatan"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2]. Berdo'a Ketika Memakai Pakaian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihin wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam apabila memakai pakaian atau baju lengan panjang atau jubah atau kopiah beliau selalu berdoa: "Ya Allah, aku mohon kepada-Mu untuk memperoleh kebaikannya dan kebaikan dari tujuan pakaian ini dibuat. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan dan keburukan tujuan pakaian ini dibuat". [HR. Abu Dawud , At-Tirmidzi. Ahmad dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban] [1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hakim berkata, "Sesuai dengan syarat Muslim dan disetujui oleh Dzahabi"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3]. Memulai Dengan Yang Sebelah Kanan Ketika Akan Memakai Pakaian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Apabila kalian memakai pakaian maka mulailah dengan yang sebelah kanan" [HR. At-Tirmidzi, Abu Dawud dan Ibnu Majjah. Dan hadits ini shahih] [2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4]. Melepaskan Pakaian Atau Sarung Dengan Mendahulukan Yang Sebelah Kiri Kemudian Sebelah Kanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari kitab Aktsaru Min Alfi Sunnatin Fil Yaum Wal Lailah, edisi Indonesia Lebih Dari 1000 Amalan Sunnah Dalam Sehari Semalam, Penulis Khalid Al-Husainan, Penerjemah Zaki Rachmawan]&lt;br /&gt;_________&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4254596231959459245-2217148656254243388?l=kerudungkinan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.almanhaj.or.id/content/1310/slash/0' title='SUNNAH-SUNNAH DALAM BERPAKAIAN'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4254596231959459245/posts/default/2217148656254243388'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4254596231959459245/posts/default/2217148656254243388'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kerudungkinan.blogspot.com/2008/05/sunnah-sunnah-dalam-berpakaian.html' title='SUNNAH-SUNNAH DALAM BERPAKAIAN'/><author><name>kerudung kinan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4254596231959459245.post-7760351490789997328</id><published>2008-05-16T07:07:00.003+07:00</published><updated>2008-05-16T07:22:06.087+07:00</updated><title type='text'>Bersegeralah Menuju Ampunan Allah</title><content type='html'>Seorang muslim yang baik bukanlah seorang muslim yang tidak pernah melakukan kesalahan dan dosa. Karena setiap anak adam siapapun orangnya, apapun profesinya, dan seluas apapun kapasitas keilmuannya tidak akan pernah luput dari kesalahan. Namun seorang muslim yang baik adalah yang apabila melakukan kesalahan dia langsung menyesal dan bertaubat dari kesalahan yang telah diperbuatnya. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda yang artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Setiap anak adam pasti bersalah dan sebaik-baik orang bersalah adalah orang yang mau bertaubat." (HR.Tirmidzi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap manusia yang melakukan kesalahan dalam kehidupannya besar ataupun kecil baik disadarinya maupun tidak maka sudah sepatasnya kita selalu memohon ampun kepada Allah Yang Maha Pemurah dan Maha Pengampun Luasnya Rahmat Allah Subhanahu wa Ta'ala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara rahmat Allah Ta'ala, Dia mengabarkan kepada para hambanya bahwa dia akan mengampuni semua dosa-dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman yang artinya:&lt;br /&gt;Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".(QS. Az-Zumar: 53)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk menyampaikan hal itu kepada para hamba-Nya.Dengan firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa Sesungguhnya Aku-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-hijr: 49)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara rahmat Allah Ta'ala, Dia akan menerima taubat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman yang artinya:&lt;br /&gt;"Tidaklah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan menerima zakat dan bahwasanya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang?" (QS. At-Taubah: 104)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena Allah Ta'ala berfirman yang artinya:&lt;br /&gt;"Yang mengampuni dosa dan menerima taubat lagi keras hukuman-Nya. yang mempunyai karunia. Tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Hanya kepada-Nyalah kembali (semua makhluk)." (QS. Al-Mukmin: 3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta'ala juga berfirman yang artinya:&lt;br /&gt;"Dan Allah hendak menerima taubatmu, sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran)." (QS. An-Nisaa': 27)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara rahmat Allah Subhanahu wa Ta'ala, Dia mencintai hamba yang kembali dan bertaubat kepada-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman yang artinya:&lt;br /&gt;"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri." (QS. Al-Baqarah: 222)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara bentuk rahmat dan kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta'ala, Dia sangat gembira akan taubat hamba-Nya yang menyadari bahwa ia mempunyai Robb Yang Maha Penerima Taubat Lagi Maha Penyayang yang akan mengampuni dosa-dosanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara bentuk rahmat dan kasih sayang Allah Ta'ala, Dia membuka pintu taubat siang dan malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda yang artinya:&lt;br /&gt;"Sesungguhnya Allah Ta'ala membuka tangan-Nya pada malam hari agar orang yang berbuat kejelekan di siang hari bertaubat kepada-Nya dan membuka tangan-Nya di siang hari agar orang yang berbuat kejelekan di malam hari bertaubat kepada-Nya, sampai matahari terbit dari sebelah barat." (HR.Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara rahmat dan kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta'ala, Dia akan menerima taubat walaupun dosa-dosa dan taubat tadi dilakukan berkali-kali, karena Allah Subhanahu wa Ta'ala Maha Penerima Taubat, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dengan syarat orang tersebut benar-benar menyesal atas dosa yang dilakukannya dan melakukan taubat sesuai dengan syarat-syarat taubat dan apabila orang tersebut terjatuh lagi pada dosa yang sama maka Allah Subhanahu wa Ta'ala masih membuka pintu taubat untuknya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman yang artinya:&lt;br /&gt;"Dan kami tidak mengutus seseorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya Jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang". (QS. An-Nisaa': 64)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keutamaan-Keutamaan Taubat Nashuha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taubat nashuha menghapus dosa yang sebelumnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah wahai hamba yang bertaubat, bahwa barang siapa yang bertaubat dengan taubat nashuha (taubat yang sebenarnya), maka ia disamakan dengan orang yang tidak melakukan dosa karena baju yang telah dicuci seperti baju yang tidak pernah dikotori.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasululllah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda yang artinya:&lt;br /&gt;"Orang yang bertaubat  dari dosa seperti orang tidak mempunyai dosa"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Jauzi rahimahullah pernah ditanya, "'Apakah aku bertasbih atau beristigfar?' Lalu beliau manjawab, 'Pakaian yang kotor lebih membutuhkan sabun dari pada bukhur(sejenis parfum atau wewangian).'"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taubat nashuha mengganti kejelekan menjadi kebaikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan, dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Furqan: 70)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taubat nashuha sebab menuju kesuksesan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman kepada orang-orang yang beriman dan makhluk terbaiknya agar mereka bertaubatnya kepada-Nya, kemudian Allah Ta'ala memberi keterkaitan dan kesuksesan dan bertaubat seperti eratnya keterkaitan musabbab dan sebabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman yang artinya:&lt;br /&gt;"Adapun orang yang bertaubat dan beriman, serta mengerjakan amal yang saleh, semoga dia termasuk orang-orang yang beruntung." (QS. Al-Qashash: 67)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman yang artinya:&lt;br /&gt;"Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung." (QS. An-Nuur: 31)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taubat nashuha adalah jalanmu menuju surga dan penghalang bagimu dari neraka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Yang Maha  Pengampun lagi Maha  Mencintai berfirman yang artinya:&lt;br /&gt;"Kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh, Maka mereka itu akan masuk syurga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun." (QS. Maryam: 60)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taubat nashuha adalah pembersih hati, penghapus dosa dan mengundang keridhaan Allah Subhanahu wa Ta'ala:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta'ala berfirman yang artinya:&lt;br /&gt;"Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, Maka Sesungguhnya hati kamu berdua Telah condong (untuk menerima kebaikan)." (QS. At-Tahriim: 4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat-syarat taubat Nashuha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat taubat yang tulus kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  1. Meninggalkan pebuatan dosa tersebut.&lt;br /&gt;  2. Menyesali perbuatan dosa yang telah dilakukan.&lt;br /&gt;  3. Bertekad untuk tidak akan mengulangi selama-lamanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila menyangkut hak orang lain maka ditambah satu syarat lagi yaitu  : Hendaklah mengembalikan hak orang yang dizholimi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu marilah kita bersegera untuk meraih ampunan Allah Subhanahu wa Ta'ala sebelum terlambat sebelum nyawa berada di tenggorokan sebagaimana firman Allah Ta'ala yang artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan tidaklah Taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan : "Sesungguhnya saya bertaubat sekarang". dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. bagi orang-orang itu Telah kami sediakan siksa yang pedih".(QS. An-Nisa': 18).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau apabila matahari telah berganti arah (kiamat) sebagaimana firman Allah Ta'ala yang artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yang mereka nanti-nanti tidak lain hanyalah kedatangan malaikat kepada mereka (untuk mencabut nyawa mereka) atau kedatangan (siksa) Tuhanmu atau kedatangan beberapa ayat Tuhanmu pada hari datangnya ayat dari Tuhanmu, tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang kepada dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. Katakanlah: "Tunggulah olehmu Sesungguhnya kamipun menunggu (pula)". (QS. Al-An'am: 158).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat seseorang telah menyadari kesalahan-kesalahan yang dia lakukan itu merupakan langkah awal untuk menuju keberuntungan yang besar dan ampunan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Maka setelah kita menyadari perbuatan yang dilakukan merupakan sebuah kesalahan  baik dosa maksiat, bid'ah (perkara yang tidak dicontohkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam) atau  syirik maka hendaklah seseorang bersegera meninggalkan perbuatan tersebut dan bertaubat serta mengganti amalannya dengan yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istigfar Dan Taubat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istighfar adalah salah satu metode untuk bertaubat, oleh karena itu sudah sepantasnya dilakukan oleh kaum muslimin. Dalam hal ini Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda yang artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Barang siapa yang membaca: 'Astaghfirullaah al-'Azhiim, alladzii laa Ilaaha Illa huwa al-Hayyu al-Qoyyumu wa atuubu ilaihi' (Aku minta ampun kepada Allah, tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia, Yang Hidup dan terus-menerus mengurus makhluk-Nya) Maka Allah mengampuninya. Sekalipun dia pernah lari dari perang." (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda yang artinya:&lt;br /&gt;"Demi Allah! Sesungguhnya aku minta ampun kepada Allah dan bertaubat kepadaNya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali." (HR. Abu Daud)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda yang artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wahai manusia! Bertaubatlah kepada Allah, sesungguhnya aku bertaubat kepada-Nya seratus kali dalam sehari." (HR. At-Tirmizi dan Nasa'i)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkara Yang Menghalangi Untuk Taubat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.   Melakukan bid'ah (perkara yang tidak dicontohkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ) di dalam agama. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda yang artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya Allah akan menghalangi taubat dari semua pelaku bid'ah." (lihat silsilah al-Ahadiits ash-Shahiihah (no. 1620) dari hadits Anas Radhiyallahu 'anhu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.   Kecanduan Khamr ( Minuman yang memabukkan ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda yang artinya:&lt;br /&gt;"Barangsiapa yang meminum khamr, maka tidak diterima shalat baginya selama 40 hari, jika ia bertaubat maka Allah akan menerimanya, jika mengulangi lagi maka tidak diterima shalat baginya selama 40 hari, jika ia bertaubat maka Allah akan menerimanya, jika mengulangi lagi maka tidak diterima shalat baginya selama 40 hari, jika ia bertaubat maka Allah akan menerimanya, jika ia mengulangi lagi yang ke empat kalinya maka tidak diterima shalat baginya selama 40 hari, jika ia bertaubat lagi  maka Allah tidak akan menerima taubatnya dan Allah akan memberinya minum dari sungai Khabl (sungai yang berisi keringat dan nanah dari penghuni neraka)." (HR. Ahmad dan di shahihkan oleh al-Albani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga kita menjadi orang-orang yang diberi hidayah oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk bertaubat dan memperbaiki diri dan semoga taubat kita diterima oleh Allah Ta'ala Yang Maha Penerima Taubat. Amin..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maraji' :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   * Luasnya Ampunan Allah "Keutamaan, Sebab dan Cara Mendapatkannya". Syaikh     Salim bin ‘Ied al-Hilali. Penterjemah Ruslan Nurhadi, Lc.&lt;br /&gt;   * Buku Pintar Aqidah Ahlussunnah. Syaikh Al-Allamah Hafizh bin Ahmad Al-Hikami. Penterjemah Abu Umar Basyiir Al-Maidani.&lt;br /&gt;   * Doa Dan Wirid Hisnul Muslim. Dr Sa'id bin ‘Ali Wahf Al-Qahthani. Penterjemah Abu Umar Basyiir Al-Maidani&lt;a href="http://dareliman.or.id/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=24&amp;Itemid=54"&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4254596231959459245-7760351490789997328?l=kerudungkinan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4254596231959459245/posts/default/7760351490789997328'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4254596231959459245/posts/default/7760351490789997328'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kerudungkinan.blogspot.com/2008/05/bersegeralah-menuju-ampunan-allah.html' title='Bersegeralah Menuju Ampunan Allah'/><author><name>kerudung kinan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4254596231959459245.post-8662756758403998555</id><published>2008-05-13T07:25:00.000+07:00</published><updated>2008-05-13T07:26:41.343+07:00</updated><title type='text'>HUKUM MENYETUBUHI ISTERI YANG SEDANG HAIDH</title><content type='html'>Oleh&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Asy-Syaikh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Asy-Syaikh ditanya : Tntang hukum persetubuhan yang dilakukan seorang pria terhadap isterinya yang sedang dalam keadaan haidh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban&lt;br /&gt;Persetubuhan yang dilakukan seorang pria terhadap isterinya yang sedang haidh adalah haram berdasarkan Kitabullah dan Sunnah RasulNya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah berfirman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah, ‘Haidh itu adalah suatu kotoran’. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh” [Al-Baqarah : 222]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksud ayat ini adalah larangan untuk menyetubuhi wanita yang sedang haidh. Al-Mahidl artinya adalah tempat keluarnya darah haidh yaitu faraj (kemaluan), dan jika seorang pria berani menyetubuhi isterinya yang sedang haidh itu maka hendaknya pria itu bertaubat dan tidak mengulangi perbuatan itu lagi, kemudian pria itu dikenakan kaffarah (denda) sebanyak satu dinar atau setengah dinar berdasarkan hadits marfu Ibnu Abbas tentang pria yang menyetubuhi isterinya yang sedang mendapatkan haidh, ia berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hendaknya ia bersedekah dengan satu dinar atau setengah dinar”,.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi dan An-Nasa’i. Yang dimaksud dengan satu dianr adalah satu mitsqol emas ( satu dinar atau satu mistqol emas adalah 4 ¼ gram), dan jika ia tidak mendapatkannya maka sebagai penggantinya adalah seukuran harga perak. Wallahu A’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Fatawa wa Rasa’il Syaikh Muhamad bin Ibrahim 2/98]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEORANG PRIA MENYETUBUHI ISTERINYA SETELAH HAIDH DAN NIFAS SEBELUM BERSUCI (MANDI WAJIB)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh&lt;br /&gt;Al-Lajnah Ad-Da’imah Lil Ifta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan&lt;br /&gt;Al-Lajnah Ad-Da’imah Lil Ifta ditanya : Seorang pria menyetubuhi isterinya yang telah habis masa haidhnya atau masa nifasnya sebelum isterinya itu mandi wajib, hal itu ia lakukan karena tidak mengetahuinya, apakah pria itu dikenakan kaffarah (denda)? Dan berapa banyak dendanya itu? Lalu jika wanita itu hamil karena persetubuhan itu, apakah anak hasil persersetubuhan itu disebut dengan anak haram?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban&lt;br /&gt;Menyetubuhi wanita haidh pada kemaluannya adalah haram berdasarkan firman Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah, ‘Haidh itu adalah suatu kotoran’. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh, dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci” [Al-Baqarah : 222]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangsiapa yang melakukan hal itu maka hendaklah ia memohon ampunan kepada Allah serta bertaubat kepadaNya, kemudian hendaknya ia bersedekah setengah dinar sebagai denda atas apa yang telah ia lakukan, sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Ahmad dan para penyusun kitab-kitab Sunan dengan sanad yang baik dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada pria yang menyetubuhi isterinya yang sedang haid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : bersedekahlah engkau dengan satu dinar atau setengah dinar”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berapapun yang anda keluarkan sebagai denda di antara dua pilihan itu dibolehkan, ukuran satu dinar adalah empat pertujuh kebutuhan per kapita Saudi. Jika kebutuhan per kapita Saudi adalah tujuh puluh real, maka kaffarah itu sebanyak dua puluh real atau empat puluh real yang anda sedekahkan kepada fakir miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tidak boleh bagi seorang pria menyetubuhi isterinya setelah habis masa haidh sebelum sang isteri bersuci (mandi wajib) berdasarkan firman Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu” [Al-Baqarah : 222]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat ini menerangkan bahwa Allah tidak mengizinkan seorang pria menyetubuhi isterinya yang sedang haidh sebelum berhenti haidhnya dan sebelum bersuci (mandi haidh), dan bagi pria yang menyetubuhi isterinya sebelum mandi maka pria itu telah berbuat dosa serta dikenakan denda, kemudian jika persetubuhan itu menyebabkan kehamilan maka anak yang dilahirkan bukanlah anak haram melainkana anakyang sah secara syar’i.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah Lil Ifta 5/398]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari kitab Al-Fatawa Al-Jami’ah lil Mar’atil Muslimah, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, Penyusun Amin bin Yahya Al-Wazan, Penerjemah Zaenal Abidin Syamsudin Lc, Penerbit Darul Haq]&lt;span class=”fullpost”&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;sumber : al-manhaj.or.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4254596231959459245-8662756758403998555?l=kerudungkinan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4254596231959459245/posts/default/8662756758403998555'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4254596231959459245/posts/default/8662756758403998555'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kerudungkinan.blogspot.com/2008/05/hukum-menyetubuhi-isteri-yang-sedang.html' title='HUKUM MENYETUBUHI ISTERI YANG SEDANG HAIDH'/><author><name>kerudung kinan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4254596231959459245.post-390790990241128501</id><published>2008-05-08T10:37:00.000+07:00</published><updated>2008-05-08T10:39:24.832+07:00</updated><title type='text'>Faedah seputar Basmalah</title><content type='html'>Tafsir Basmalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin berkata: “Tafsirnya adalah: Sesungguhnya seorang insan meminta tolong dengan perantara semua Nama Allah. Kami katakan: yang dimaksud adalah setiap nama yang Allah punya. Kami menyimpulkan hal itu dari ungkapan isim (nama) yang berbentuk mufrad (tunggal) dan mudhaf (disandarkan) maka bermakna umum. Seorang yang membaca basmalah bertawassul kepada Allah ta’ala dengan menyebutkan sifat rahmah. Karena sifat rahmah akan membantu insan untuk melakukan amalnya. Dan orang yang membaca basmalah ingin meminta tolong dengan perantara nama-nama Allah untuk memudahkan amal-amalnya.” (Shifatush Shalah, hal. 64).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kitabullah Diawali Basmalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulisan Al-Qur’an diawali dengan basmalah. Hal itu telah ditegaskan tidak hanya oleh seorang ulama, di antara mereka adalah Al Qurthuby yarhamuhullah di dalam tafsirnya. Beliau menyebutkan bahwa para sahabat radhiyallahu ‘anhum telah sepakat menjadikan basmalah tertulis sebagai ayat permulaan dalam Al-Qur’an, inilah kesepakatan mereka yang menjadi permanen -semoga Allah meridhai mereka- dan Al Hafizh Ibnu Hajar yarhamuhullah pun menyebutkan pernyataan serupa di dalam Fathul Baari (Ad Dalaa’il Wal Isyaaraat ‘ala Kasyfi Syubuhaat, hal. 9).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teladan Nabi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila menulis surat memulai dengan bismillaahirrahmaanirrahiim (lihat Shahih Bukhari 4/402 Kitabul Jihad Bab Du’a Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ilal Islam wa Nubuwah wa ‘an laa Yattakhidza Ba’dhuhum Ba’dhan Arbaaban min duunillaah wa Qauluhu ta’ala Maa kaana libasyarin ‘an yu’tiyahullaahu ‘ilman ila akhiril ayah, Fathul Bari 6/109 lihatlah perincian tentang hal ini di dalam Zaadul Ma’aad fii Hadyi Khairil ‘Ibaad karya Ibnul Qayyim 3/688-696, beliau menceritakan surat menyurat Nabi kepada para raja dan lain sebagainya (Syarh Kitab Kasyfu Syubuhaat Syaikh Shalih Al-Fauzan, hal. 17). Di dalam Kitab Bad’ul Wahyi Imam Bukhari menyebutkan hadits: “Bismillahirrahmaanirrahiim min Muhammadin ‘Abdillah wa Rasuulihi ila Hiraqla ‘Azhiimir Ruum…” (Shahih Bukhari no. 7, Shahih Muslim no. 1773 dari hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma, lihat Hushuulul Ma’muul, hal. 9, lihat juga Ad Dalaa’il Wal Isyaaraat ‘ala Kasyfi Syubuhaat, hal. 9).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits Tentang Keutamaan Basmalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abdullah bin Shalih Al Fauzan berkata: “Adapun hadits-hadits qauliyah tentang masalah basmalah, seperti hadits, ‘Kullu amrin dzii baalin laa yubda’u fiihi bibismillaahi fahuwa abtar.’ hadits-hadits tersebut adalah hadits yang dilemahkan oleh para ulama.” Hadits ini dikeluarkan oleh Al Khathib dalam Al Jami’ (2/69,70), As Subki dalam Thabaqaat Syafi’iyah Al Kubra, muqaddimah hal. 12 dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, tetapi hadits itu adalah hadits dha’ifun jiddan (sangat lemah) karena ia merupakan salah satu riwayat Ahmad bin Muhammad bin Imran yang dikenal dengan panggilan Ibnul Jundi. Al Khathib berkata di dalam Tarikh-nya (5/77): ‘Orang ini dilemahkan riwayat-riwayatnya dan ada celaan pada madzhabnya.’ Maksudnya: karena ia cenderung pada ajaran Syi’ah. Ibnu ‘Iraq berkata di dalam Tanziihusy Syari’ah Al Marfuu’ah (1/33): ‘Dia adalah pengikut Syi’ah. Ibnul Jauzi menuduhnya telah memalsukan hadits.’ Hadits ini pun telah dinyatakan lemah oleh Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah sebagaimana dinukil dalam Futuhaat Rabbaniyah (3/290) silakan periksa Hushuulul Ma’muul, hal. 9). Adapun hadits: ‘Kullu amrin laa yubda’u fiihi bibismillaahiirahmaanirrahiim fahuwa ajdzam’ adalah hadits dha’if, didha’ifkan Syaikh Al Albani dalam Dha’iful Jaami’ 4217 (lihat catatan kaki Tafsir Al-Qur’an Al ‘Azhim tahqiq Hani Al Hajj, 1/24).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hikmah Memulai dengan Basmalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hikmah yang tersimpan dalam mengawali perbuatan dengan bismillahirrahmaanirraahiim adalah demi mencari barakah dengan membacanya. Karena ucapan ini adalah kalimat yang berbarakah, sehingga apabila disebutkan di permulaan kitab atau di awal risalah maka hal itu akan membuahkan barakah baginya. Selain itu di dalamnya juga terdapat permohonan pertolongan kepada Allah ta’ala (lihat Syarh Kitab Kasyfu Syubuhaat Syaikh Shalih Al-Fauzan, hal. 17). Selain itu basmalah termasuk pujian dan dzikir yang paling mulia (lihat Taudhihaat Al Kasdalamyifaat, hal. 48).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Basmalah Termasuk Al Fatihah ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Al ‘Utsaimin berkata: “Dalam masalah ini terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama. Ada di antara mereka yang berpendapat ia adalah termasuk ayat dari Al Fatihah dan dibaca dengan keras dalam shalat jahriyah (dibaca keras oleh imam) dan mereka berpandangan tidak sah orang yang shalat tanpa membaca basmalah karena ia termasuk surat Al Fatihah. Dan ada pula di antara mereka yang berpendapat bahwa ia bukan bagian dari Al Fatihah namun sebuah ayat tersendiri di dalam Kitabullah. Pendapat inilah yang benar. Dalilnya adalah nash serta konteks isi surat tersebut.” Kemudian beliau merinci alasan beliau (lihat Tafsir Juz ‘Amma, hal. 9 cet Darul Kutub ‘Ilmiyah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahkah Shalat Tanpa Membaca Basmalah ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Anas radhiyallahu ‘anhu: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar dan Umar mengawali shalat dengan membaca Alhamdulillaahi Rabbil ‘aalamiin (Muttafaqun ‘alaihi). Muslim menambahkan: Mereka semua tidak membaca bismillaahirrahmaanirrahiim di awal bacaan maupun di akhirnya. Sedangkan dalam riwayat Ahmad, Nasa’i dan Ibnu Khuzaimah Anas berkata: Mereka semua tidak mengeraskan bacaan bismillaahirrahmaanirrahiim. Di dalam riwayat lainnya dalam Shahih Ibnu Khuzaimah dengan kata-kata: Mereka semua membacanya dengan sirr (pelan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara faidah yang bisa dipetik dari hadits di atas adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Tata cara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para khulafa’ur rasyidin membuka bacaan shalat dengan alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin.&lt;br /&gt;   2. Hadits ini menunjukkan bahwa basmalah bukan termasuk bagian awal dari surat Al Fatihah. Oleh sebab itu tidak wajib membacanya beriringan dengan surat ini. Akan tetapi hukum membacanya hanyalah sunnah sebagai pemisah antara surat-surat, meskipun dalam hal ini memang ada perselisihan pendapat ulama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para imam yang empat berbeda pendapat tentang hukum membaca basmalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Imam Abu Hanifah, Syafi’i dan Ahmad berpendapat bacaan itu disyari’atkan di dalam shalat.&lt;br /&gt;   2. Imam Malik berpendapat bacaan itu tidak disyari’atkan untuk dibaca dalam shalat wajib, baik dengan pelan maupun keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Imam yang tiga (Abu Hanifah, Syafi’i dan Ahmad) berselisih tentang hukum membacanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Imam Abu Hanifah dan Ahmad berpendapat membacanya adalah sunnah bukan wajib karena basmalah bukan bagian dari Al Fatihah.&lt;br /&gt;   2. Imam Syafi’i berpendapat membacanya adalah wajib.&lt;br /&gt;      (lihat Taudhihul Ahkaam, 1/413-414 cet. Dar Ibnul Haitsam)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjahrkan Basmalah dalam Shalat Jahriyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Ibnu ‘Utsaimin ditanya: Apakah hukum menjahrkan (mengeraskan bacaan) basmalah? Beliau menjawab: “Pendapat yang lebih kuat adalah mengeraskan bacaan basmalah itu tidak semestinya dilakukan dan yang sunnah adalah melirihkannya karena ia bukan bagian dari surat Al Fatihah. Akan tetapi jika ada orang yang terkadang membacanya dengan keras maka tidak mengapa. Bahkan sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa hendaknya memang dikeraskan kadang-kadang sebab adanya riwayat yang menceritakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengeraskannya (HR. Nasa’i di dalam Al Iftitah Bab Qiro’atu bismillahirrahmaanirrahiim (904), Ibnu Hibban 1788, Ibnu Khuzaimah 499, Daruquthni 1/305, Baihaqi 2/46,58) Akan tetapi hadits yang jelas terbukti keabsahannya menerangkan bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa tidak mengeraskannya (berdasarkan hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu: Aku pernah shalat menjadi makmum di belakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, di belakang Abu Bakar, di belakang Umar dan tidak ada seorang pun di antara mereka yang memperdengarkan bacaan bismillahirrahmanirrahiim (HR. Muslim dalam kitab Shalat Bab Hujjatu man Qoola la yajharu bil basmalah (399)) Akan tetapi apabila seandainya ada seseorang yang menjahrkannya dalam rangka melunakkan hati suatu kaum yang berpendapat jahr saya berharap hal itu tidak mengapa.” (Fatawa Arkanil Islam, hal. 316-317)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Bassaam mengatakan: “Syaikhul Islam mengatakan: Terus menerus mengeraskan bacaan (basmalah) adalah bid’ah dan bertentangan dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan hadits-hadits yang menegaskan cara keras dalam membacanya semuanya adalah palsu.” (Taudhihul Ahkaam, 1/414) Imam Ibnu Katsir mengatakan : “…para ulama sepakat menyatakan sah orang yang mengeraskan bacaan basmalah maupun yang melirihkannya…” (Tafsir Al-Qur’an Al ‘Azhim, 1/22).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi&lt;br /&gt;Artikel www.muslim.or.id&lt;span class=”fullpost”&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4254596231959459245-390790990241128501?l=kerudungkinan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4254596231959459245/posts/default/390790990241128501'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4254596231959459245/posts/default/390790990241128501'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kerudungkinan.blogspot.com/2008/05/faedah-seputar-basmalah.html' title='Faedah seputar Basmalah'/><author><name>kerudung kinan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4254596231959459245.post-2589516839425848734</id><published>2008-05-06T06:58:00.001+07:00</published><updated>2008-05-06T06:58:52.660+07:00</updated><title type='text'>JANGAN MARAH</title><content type='html'>Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ada seorang lelaki berkata kepada Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, “Berilah saya nasihat.” Beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan marah.” Lelaki itu terus mengulang-ulang permintaannya dan beliau tetap menjawab, “Jangan marah.” (HR. Bukhari). Imam Nawawi rohimahulloh mengatakan, “Makna jangan marah yaitu janganlah kamu tumpahkan kemarahanmu. Larangan ini bukan tertuju kepada rasa marah itu sendiri. Karena pada hakikatnya marah adalah tabi’at manusia, yang tidak mungkin bisa dihilangkan dari perasaan manusia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam juga pernah menasihatkan, “Apabila salah seorang dari kalian marah dalam kondisi berdiri maka hendaknya dia duduk. Kalau marahnya belum juga hilang maka hendaknya dia berbaring.” (HR. Ahmad, Shohih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahulu ada juga seorang lelaki yang datang menemui Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dan mengatakan, “Wahai Rosululloh, ajarkanlah kepada saya sebuah ilmu yang bisa mendekatkan saya ke surga dan menjauhkan dari neraka.” Maka beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan tumpahkan kemarahanmu. Niscaya surga akan kau dapatkan.” (HR. Thobrani, Shohih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rohimahulloh juga mengatakan, “Bukanlah maksud beliau adalah melarang memiliki rasa marah. Karena rasa marah itu bagian dari tabi’at manusia yang pasti ada. Akan tetapi maksudnya ialah kuasailah dirimu ketika muncul rasa marah. Supaya kemarahanmu itu tidak menimbulkan dampak yang tidak baik. Sesungguhnya kemarahan adalah bara api yang dilemparkan oleh syaithan ke dalam lubuk hati bani Adam. Oleh sebab itulah anda bisa melihat kalau orang sedang marah maka kedua matanya pun menjadi merah dan urat lehernya menonjol dan menegang. Bahkan terkadang rambutnya ikut rontok dan berjatuhan akibat luapan marah. Dan berbagai hal lain yang tidak terpuji timbul di belakangnya. Sehingga terkadang pelakunya merasa sangat menyesal atas perbuatan yang telah dia lakukan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tips Menanggulangi Kemarahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Wahiid Baali hafizhohulloh menyebutkan beberapa tips untuk menanggulangi marah. Diantaranya ialah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Membaca ta’awudz yaitu, “A’udzubillahi minasy syaithanir rajiim”.&lt;br /&gt;   2. Mengingat besarnya pahala orang yang bisa menahan luapan marahnya.&lt;br /&gt;   3. Mengambil sikap diam, tidak berbicara.&lt;br /&gt;   4. Duduk atau berbaring.&lt;br /&gt;   5. Memikirkan betapa jelek penampilannya apabila sedang dalam keadaan marah.&lt;br /&gt;   6. Mengingat agungnya balasan bagi orang yang mau memaafkan kesalahan orang yang bodoh.&lt;br /&gt;   7. Meninggalkan berbagai bentuk celaan, makian, tuduhan, laknat dan cercaan karena itu semua termasuk perangai orang-orang bodoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh As Sa’di rohimahulloh mengatakan, “Sebaik-baik orang ialah yang keinginannya tunduk mengikuti ajaran Rasul shollallohu ‘alaihi wa sallam, yang menjadikan murka dan pembelaannya dilakukan demi mempertahankan kebenaran dari rongrongan kebatilan. Sedangkan sejelek-jelek orang ialah yang suka melampiaskan hawa nafsu dan kemarahannya. Laa haula wa laa quwwata illa billaah” (lihat Durrah Salafiyah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Buletin At-Tauhid&lt;br /&gt;Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi&lt;br /&gt;Artikel www.muslim.or.id&lt;span class=”fullpost”&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4254596231959459245-2589516839425848734?l=kerudungkinan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4254596231959459245/posts/default/2589516839425848734'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4254596231959459245/posts/default/2589516839425848734'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kerudungkinan.blogspot.com/2008/05/jangan-marah.html' title='JANGAN MARAH'/><author><name>kerudung kinan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4254596231959459245.post-3650332758920855588</id><published>2008-04-28T07:06:00.001+07:00</published><updated>2008-04-28T07:09:23.282+07:00</updated><title type='text'>Definisi Qadha' Dan Qadar Serta Kaitan Di Antara Keduanya</title><content type='html'>Oleh&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERTAMA : QADAR&lt;br /&gt;Qadar, menurut bahasa yaitu: Masdar (asal kata) dari qadara-yaqdaru-qadaran, dan adakalanya huruf daal-nya disukunkan (qa-dran). [1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Faris berkata, “Qadara: qaaf, daal dan raa’ adalah ash-sha-hiih yang menunjukkan akhir/puncak segala sesuatu. Maka qadar adalah: akhir/puncak segala sesuatu. Dinyatakan: Qadruhu kadza, yaitu akhirnya. Demikian pula al-qadar, dan qadartusy syai' aqdi-ruhu, dan aqduruhu dari at-taqdiir.” [2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Qadar (yang diberi harakat pada huruf daal-nya) ialah: Qadha' (kepastian) dan hukum, yaitu apa-apa yang telah ditentukan Allah Azza wa Jalla dari qadha' (kepastian) dan hukum-hukum dalam berbagai perkara&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;Takdir adalah: Merenungkan dan memikirkan untuk menyamakan sesuatu. Qadar itu sama dengan Qadr, semuanya bentuk jama’nya ialah Aqdaar. [3]&lt;br /&gt;&lt;span class=”fullpost”&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Qadar, menurut istilah ialah: Ketentuan Allah yang berlaku bagi semua makhluk, sesuai dengan ilmu Allah yang telah terdahulu dan dikehendaki oleh hikmah-Nya. [4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau: Sesuatu yang telah diketahui sebelumnya dan telah tertuliskan, dari apa-apa yang terjadi hingga akhir masa. Dan bahwa Allah Azza wa Jalla telah menentukan ketentuan para makhluk dan hal-hal yang akan terjadi, sebelum diciptakan sejak zaman azali. Allah Subhanahu wa Ta’ala pun mengetahui, bahwa semua itu akan terjadi pada waktu-waktu tertentu sesuai dengan pengetahuan-Nya dan dengan sifat-sifat ter-tentu pula, maka hal itu pun terjadi sesuai dengan apa yang telah ditentukan-Nya. [5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau: Ilmu Allah, catatan (takdir)-Nya terhadap segala sesuatu, kehendak-Nya dan penciptaan-Nya terhadap segala sesuatu tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEDUA : QADHA'&lt;br /&gt;Qadha', menurut bahasa ialah: Hukum, ciptaan, kepastian dan penjelasan.&lt;br /&gt;Asal (makna)nya adalah: Memutuskan, memisahkan, menen-tukan sesuatu, mengukuhkannya, menjalankannya dan menyele-saikannya. Maknanya adalah mencipta. [6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaitan Antara Qadha' dan Qadar&lt;br /&gt;1. Dikatakan, bahwa yang dimaksud dengan qadar ialah takdir, dan yang dimaksud dengan qadha’ ialah penciptaan, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maka Dia menjadikannya tujuh langit… ." [Fushshilat: 12]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, menciptakan semua itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Qadha' dan qadar adalah dua perkara yang beriringan, salah satunya tidak terpisah dari yang lainnya, karena salah satunya berkedudukan sebagai pondasi, yaitu qadar, dan yang lainnya berkedudukan sebagai bangunannya, yaitu qadha'. Barangsiapa bermaksud untuk memisahkan di antara keduanya, maka dia bermaksud menghancurkan dan merobohkan bangunan tersebut. [7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Dikatakan pula sebaliknya, bahwa qadha' ialah ilmu Allah yang terdahulu, yang dengannya Allah menetapkan sejak azali. Sedangkan qadar ialah terjadinya penciptaan sesuai timbangan perkara yang telah ditentukan sebelumnya. [8]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Hajar al-Asqalani berkata, “Mereka, yakni para ulama mengatakan, ‘Qadha' adalah ketentuan yang bersifat umum dan global sejak zaman azali, sedangkan qadar adalah bagian-bagian dan perincian-perincian dari ketentuan tersebut.’” [9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Dikatakan, jika keduanya berhimpun, maka keduanya berbeda, di mana masing-masing dari keduanya mempunyai pengertian sebagaimana yang telah diutarakan dalam dua pendapat sebelumnya. Jika keduanya terpisah, maka keduanya berhimpun, di mana jika salah satu dari kedunya disebutkan sendirian, maka yang lainnya masuk di dalam (pengertian)nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari kitab Al-Iimaan bil Qadhaa wal Qadar, Edisi Indoensia Kupas Tuntas Masalah Takdir, Penulis Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd, Penerjemah Ahmad Syaikhu, Sag. Penerbit Pustaka Ibntu Katsir]&lt;br /&gt;__________&lt;br /&gt;Foote Note&lt;br /&gt;[1]. An-Nihaayah fii Ghariibil Hadiits, Ibnu Atsir, (IV/22).&lt;br /&gt;[2]. Mu’jam Maqaayiisil Lughah, (V/62) dan lihat an-Nihaayah, (IV/23).&lt;br /&gt;[3]. Lihat, Lisaanul ‘Arab, (V/72) dan al-Qaamuus al-Muhiith, hal. 591, bab qaaf - daal - raa'.&lt;br /&gt;[4]. Rasaa-il fil ‘Aqiidah, Syaikh Muhammad Ibnu ‘Utsaimin, hal. 37.&lt;br /&gt;[5]. Lawaami’ul Anwaar al-Bahiyyah, as-Safarani, (I/348).&lt;br /&gt;[6]. Lihat, Ta-wiil Musykilil Qur-aan, Ibnu Qutaibah, hal. 441-442. Lihat pula, Lisaanul ‘Arab, (XV/186), al-Qaamuus, hal. 1708 bab qadhaa', dan lihat, Maqaa-yiisil Lughah, (V/99).&lt;br /&gt;[7]. Lisaanul ‘Arab, (XV/186) dan an-Nihaayah, (IV/78).&lt;br /&gt;[8]. Al-Qadhaa' wal Qadar, Syaikh Dr. ‘Umar al-Asyqar, hal. 27.&lt;br /&gt;[9]. Fat-hul Baari, (XI/486).&lt;br /&gt;[10]. Lihat, ad-Durarus Sunniyyah, (I/512-513).&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4254596231959459245-3650332758920855588?l=kerudungkinan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4254596231959459245/posts/default/3650332758920855588'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4254596231959459245/posts/default/3650332758920855588'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kerudungkinan.blogspot.com/2008/04/definisi-qadha-dan-qadar-serta-kaitan.html' title='Definisi Qadha&apos; Dan Qadar Serta Kaitan Di Antara Keduanya'/><author><name>kerudung kinan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4254596231959459245.post-4872938422143779855</id><published>2008-04-24T07:15:00.000+07:00</published><updated>2008-04-24T07:16:15.287+07:00</updated><title type='text'>Rendah Hati</title><content type='html'>Rasulullah –Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda: “Tiadalah seseorang tawadhu’ karena Allah melainkan Allah mengangkatnya.” (Sahih Ibn Hibban).&lt;br /&gt;Tawadhu’ adalah rendah hati, lawan dari sombong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hatim Muhammad Ibn Hibban Al-Busti –Rahimahullah Berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tawadhu’ ada dua macam; salah satunya terpuji dan yang lain tercela. Tawadhu’ terpuji adalah tidak meremehkan dan merendahkan hamba-hamba Allah. Sedang tawadhu’ tercela adalah tawadhu’ seseorang kepada ahli dunia karena menginginkan dunianya.”&lt;span class=”fullpost”&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hatim Muhammad Ibn Hibban Al-Busti –Rahimahullah Berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana tidak tawadhu’ orang yang dicipatakan dari air mani dan pada akhirnya menjadi bangkai, sedang diantara keduanya dia membawa kotoran? (dalam tubuhnya penuh kotoran).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Raudhatul ‘Uqalaa’ Wa Nuzhatul Fudhalaa’&lt;br /&gt;karya Abu Hatim Muhammad Ibn Hibban Al-Busti (Wafat 354 H)&lt;br /&gt;hlm 46, 47, 48)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4254596231959459245-4872938422143779855?l=kerudungkinan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4254596231959459245/posts/default/4872938422143779855'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4254596231959459245/posts/default/4872938422143779855'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kerudungkinan.blogspot.com/2008/04/rendah-hati.html' title='Rendah Hati'/><author><name>kerudung kinan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4254596231959459245.post-7422162288482437351</id><published>2008-04-21T06:59:00.001+07:00</published><updated>2008-04-21T07:03:16.092+07:00</updated><title type='text'>HUKUM MEMBACA AL-QUR’AN BAGI ORANG JUNUB, WANITA HAID DAN NIFAS</title><content type='html'>Oleh&lt;br /&gt;Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Dari Ibnu Umar, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda, “Janganlah perempuan yang haid dan orang yang junub membaca sedikit pun juga dari (ayat) Al-Qur’an.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat yang lain, “Janganlah orang yang junub dan perempuan yang haid membaca sedikit pun juga dari (ayat) Al-Qur’an”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DLA’IF Dikeluarkan oleh Tirmidzi (no. 121). Ibnu Majah (no. 595 dan 596). Ad-Daruquthni (1/117) dan Baihaqiy (1/89), dari jalan Ismail bin Ayyaasy dari Musa bin Uqbah dari Naafi, dari Ibnu Umar (ia berkata seperti di atas)&lt;span class=”fullpost”&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Imam Bukhari, “Ismail (bin Ayyaasy) munkarul hadits (apabila dia meriwayatkan hadits) dari penduduk Hijaz dan penduduk Iraq” [1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berkata : Hadits di atas telah diriawayatkan oleh Ismail bin Ayyaasy dari Musa bin Uqbah seorang penduduk Iraq. Dengan demikian riwayat Ismail bin Ayyaasy dla’if.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Az-Zaila’i di kitabnya Nashbur Raayah (I/195) menukil keterangan Imam Ibnu Adiy di kitabnya Al-Kaamil bahwa Ahmad dan Bukhari dan lain-lain telah melemahkan hadits ini dan Abu Hatim menyatakan bahwa yang benar hadits ini mauquf kepada Ibnu Umar (yakni yang benar bukan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan tetapi hanya perkataan Ibnu Umar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Al-Hafidzh Ibnu Hajar di kitabnya Talkhisul Habir (1/138) : Di dalam sanadnya ada Ismail bin Ayyaasy, sedangkan riwayatnya dari penduduk Hijaz dla’if dan di antaranya (hadits) ini. Berkata Ibnu Abi Hatim dari bapaknya (Abu Hatim), “Hadits Ismail bin Ayyaasy ini keliru, dan (yang benar) dia hanya perkataan Ibnu Umar”. Dan telah berkata Abdullah bin Ahmad dari bapaknya (yaitu Imam Ahmad ia berkata), “(Hadits) ini batil, “Beliau mengingkari (riwayat) Ismail. Sekian dari Al-Hafidz Ibnu Hajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits yang lain dari jalan Ibnu Umar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Dari jalan Abdul Malik bin Maslamah (ia berkata) Telah menceritakan kepadaku Mughirah bin Abdurrahman, dari Musa bin Uqbah dan Naafi, dari Ibnu Umar, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidak boleh bagi orang junub membaca sedikitpun juga dari (ayat) Al-Qur’an”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DLA’IF. Diriwayatkan oleh Ad-Daruquthni (1/117)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hafidz Ibnu Hajar telah melemahkan riwayat di atas disebabkan Abdul Malik bin Maslamah seorang rawi yang dla’if (Talkhisul Habir 1/138)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits yang lain dari jalan Ibnu Umar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Dari seorang laki-laki, dari Abu Ma’syar, dari Musa bin Uqbah, dari Naafi, dari Ibnu Umar, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda, “Perempuan yang haid dan orang yang junub, keduanya tidak boleh membaca sedikitpun juga dari (ayat) Al-Qur’an”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DLA’IF. Diriwayatkan oleh Ad-Daruquthni (1/117)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berkata : Riwayat ini dla’if karena : Pertama : Ada seorang rawi yang mubham (tidak disebut namanya yaitu dari seorang laki-laki). Kedua : Abu Ma’syar seorang rawi yang dla’if.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits yang lain dari jalan Jabir bin Abdullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Dari jalan Muhammad bin Fadl, dari bapaknya, dari Thawus, dari Jabir, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidak boleh bagi perempuan yang haid dan nifas (dalam riwayat yang lain : Orang yang junub) membaca (ayat) Al-Qur’an sedikitpun juga (dalam riwayat) yang lain : Sedikitpun juga dari (ayat) Al-Qur’an)”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MAUDLU, Diriwayatkan oleh Ad-Daruquthni (2/87) dan Abu Nua’im di kitabnya Al-Hilyah (4/22).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berkata : Sanad hadits ini maudhu (palsu) karena Muhammad bin Fadl bin Athiyah bin Umar telah dikatakan oleh para Imam ahli hadits sebagai pendusta sebagaimana keterangan Al-Hafidz Ibnu Hajar di Taqrib-nya (2/200). Dan di kitabnya Talkhisul Habir (1/138) beliau mengatakan bahwa orang ini matruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika hadits-hadits diatas dari semua jalannya dla’if bahkan hadits terakhir maudlu, maka tidak bisa dijadikan sebagai dalil larangan bagi perempuan haid dan nifas dan orang yang junub membaca Al-Qur’an. Bahkan telah datang sejumlah dalil yang membolehkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama : Apabila tidak ada satu pun dalil yang sah (shahih dan hasan) yang melarang perempuan haid, nifas dan orang yang junub membaca ayat-ayat Al-Qur’an, maka hukumnya dikembalikan kepada hukum asal tentang perintah dan keutamaan membaca Al-Qur’an secara mutlak termasuk perempuan haid, nifas dan orang yang junub.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua : Hadits Aisyah ketika dia haid sewaktu menunaikan ibadah haji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Dari Aisyah, ia berkata : Kami keluar (menunaikan haji) bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam (dan) kami tidak menyebut kecuali haji. Maka ketika kami sampai di (satu tempat bernama) Sarif aku haid. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk menemuiku dan aku sedang menangis, lalu beliau bertanya, “Apa yang menyebabkanmu menangis?” Jawabku, “Aku ingin demi Allah kalau sekiranya aku tidak haji pada tahun ini?” Jawabku, “Ya” Beliau bersabda, “Sesungguhnya (haid) ini adalah sesuatu yang telah Allah tentukan untuk anak-anak perempuan Adam, oleh karena itu kerjakanlah apa-apa yang dikerjakan oleh orang yang sedang haji selain engkau tidak boleh thawaf di Ka’bah sampai engkau suci (dari haid)”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shahih riwayat Bukhari (no. 305) dan Muslim (4/30)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits yang mulia ini dijadikan dalil oleh para Ulama di antaranya amirul mu’minin fil hadits Al-Imam Al-Bukhari di kitab Shahih-nya bagian Kitabul Haid bab 7 dan Imam Ibnu Baththaal, Imam Ath-Thabari, Imam Ibnul Mundzir dan lain-lain bahwa perempuan haid, nifas dan orang yang junub boleh membaca Al-Qur’an dan tidak terlarang. Berdasarkan perintah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Aisyah untuk mengerjakan apa-apa yang dikerjakan oleh orang yang sedang menunaikan ibadah haji selain thawaf dan tentunya juga terlarang shalat. Sedangkan yang selainnya boleh termasuk membaca Al-Qur’an. Karena kalau membaca Al-Qur’an terlarang bagi perempuan haid tentu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskannya kepada Aisyah. Sedangkan Aisyah saat itu sangat membutuhkan penjelasan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam apa yang boleh dan terlarang baginya. Menurut ushul “mengakhirkan keterangan dari waktu yang dibutuhkan tidak boleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga : Hadits Aisyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Dari Aisyah, ia berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berdzikir atas segala keadaannya” [Hadits shahih riwayat Muslim (1/194 dan lain-lain]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits yang mulia ini juga dijadikan hujjah oleh Al-Imam Al-Bukhari dan lain-lain imam tentang bolehnya orang yang junub dan perempuan haid atau nifas membaca Al-Qur’an. Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdzikir kepada Allah atas segala keadaannya dan yang termasuk berdzikir ialah membaca Al-Qur’an. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz-Dzikra [2] (Al-Qur’an) ini, dan sesungguhnya Kami jugalah yang akan (tetap) menjaganya” [Al-Hijr : 9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan Kami turunkan kepadamu Adz-Dzikra (Al-Qur’an) supaya engkau jelaskan kepada manusia apa yang diturunkan kepada mereka dan agar supaya mereka berfikir” [An-Nahl : 44]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat : Surat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Heracleus yang di dalamnya berisi ayat Al-Qur’an sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dan lain-lain. Hadits yang mulia inipun dijadikan dalil tentang bolehnya orang yang junub membaca Al-Qur’an. Karena sudah barang tentu orang-orang kafir tidak selamat dari janabah, meskipun demikian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menulis surat kepada mereka yang didalamnya terdapat firman Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima : Ibnu Abbas mengatakan tidak mengapa bagi orang yang junub membaca Al-Qur’an (Shahih Bukhari Kitabul Haidh bab 7).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika engkau berkata : Bukankah telah datang hadits bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membaca Al-Qur’an ketika janabah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jawab : Hadits yang dimaksud tidak sah dari hadits Ali bin Abi Thalib dengan lafadz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dari tempat buang air (wc), lalu beliau makan daging bersama kami, dan tidak ada yang menghalangi beliau sesuatupun juga dari (membaca) Al-Qur’an selain janabah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DLA’IF. Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 229), Tirmidzi (no 164), Nasa’i (1/144), Ibnu Majah (no. 594), Ahmad (1/83, 84, 107 dan 124), Ath-Thayaalis di Musnad-nya (no. 94), Ibnu Khuzaimah di Shahih-nya (no. 208), Daruquthni (1/119), Hakim (1/152 dan 4/107) dan Baihaqiy (1/88-89) semuanya dari jalan Amr bin Murrah dari Abdullah bin Salimah dari Ali, marfu (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam berbeda seperti diatas)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini telah dishahihkan oleh Tirmidzi, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Hakim, Adz-Dzahabi, Ibnu Sakan, Abdul Haq, Al-Baghawiy dan Syaikhul Imam Ahmad Muhammad Syakir di takhrij Tirmidzi dan takhrij musnad Ahmad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan hadits ini telah didlaifkan oleh jama’ah ahli hadits –dan inilah yang benar- Insya Allah di antaranya oleh Syu’bah, Syafi’iy, Ahmad, Bukhari, Baihaqiy, Al-Mundziriy, An-Nawawi, Al-Khathaabiy dan Syaikhul Imam Al-Albani dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Asy-Syafi’iy, “Ahli hadits tidak mentsabitkan (menguatkan)nya”. Yakni, ahli hadits tidak menguatkan riwayat Abdullah bin Salimah. Karena Amr bin Murrah yang meriwayatkan hadits ini Abdullah bin Salimah sesudah Abdullah bin Salimah tua dan berubah hafalannya. Demikian telah diterangkan oleh para Imam di atas. Oleh karena itu hadits ini kalau kita mengikuti kaidah-kaidah ilmu hadits, maka tidak ragu lagi tentang dla’ifnya dengan sebab di atas yaitu Abdullah bin Salimah ketika meriwayatkan hadits ini telah tua dan berubah hafalannya. Maka bagaimana mungkin hadits ini sah (shahih atau hasan)!. Selain itu hadits ini juga tidak bisa dijadikan dalil larangan bagi orang yang junub dan perempuan yang haid atau nifas membaca Al-Qur’an, karena semata-mata Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membacanya dalam junub tidak berarti beliau melarangnya sampai datang larangan yang tegas dari beliau. Ini kalau kita takdirkan hadits di atas sah, apalagi hadits di atas dla’if tentunya lebih tidak mungkin lagi dijadikan sebagai hujjah atau dalil!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun demikian menyebut nama Allah atau membaca Al-Qur’am dalam keadaan suci (berwudlu) lebih utama yakni hukumnya sunat berdasarkan hadits shahih di bawah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Dari Muhaajir bin Qunfudz, sesungguhnya dia pernah datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau sedang buang air kecil (kencing), lalu ia memberi salam kepada beliau akan tetapi beliau tidak menjawab (salam)nya sampai beliau berwudlu. Kemudian beliau beralasan dan bersabda : ”Sesungguhnya aku tidak suka menyebut nama Allah (berdzikir) kecuali dalam keadaan suci (berwudlu)” [Hadits shahih riwayat Abu Dawud dan lain-lain]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari buku Tiga Hukum Bagi Perempuan Haid Dan Junub (Menyentuh/Memegang Al-Qur; Membacanya Dan Tinggal Atau Diam Di Masjid, Penulis Abdul Hakim bin Amir Abdat, Penerbit Darul Qolam]&lt;br /&gt;_________&lt;br /&gt;Footnotes&lt;br /&gt;[1]. Saya nukil dari Baihaqiy dengan ringkas yang menukil dari Bukhari&lt;br /&gt;[2]. Adz-Dzikra adalah salah satu nama dari nama-nama Al-Qur’an&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4254596231959459245-7422162288482437351?l=kerudungkinan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4254596231959459245/posts/default/7422162288482437351'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4254596231959459245/posts/default/7422162288482437351'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kerudungkinan.blogspot.com/2008/04/hukum-membaca-al-quran-bagi-orang-junub.html' title='HUKUM MEMBACA AL-QUR’AN BAGI ORANG JUNUB, WANITA HAID DAN NIFAS'/><author><name>kerudung kinan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4254596231959459245.post-35172391499177966</id><published>2008-03-18T08:25:00.001+07:00</published><updated>2008-03-18T14:45:21.971+07:00</updated><title type='text'>TERNYATA</title><content type='html'>Memasuki hari ke 18 sejak pertama kali buka toko Kerudung Kinan, Alhamdulillah atas izin Allah  SWT cukup mendapat  respon. ditandai dari penjualan yg insyaallah bertambah. ada rasa syukur yang luar biasa semoga usaha ini bisa jadi pintu rezeki yang halal dan menjadi ladang amal bagi saya dan keluarga. Bagi hamba Allah yang sudah berbelanja saya ucapkan terima kasih, semoga anda tetap istiqamah tetap menutup aurat..amien&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4254596231959459245-35172391499177966?l=kerudungkinan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4254596231959459245/posts/default/35172391499177966'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4254596231959459245/posts/default/35172391499177966'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kerudungkinan.blogspot.com/2008/03/peluang.html' title='TERNYATA'/><author><name>kerudung kinan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4254596231959459245.post-8989781386145418703</id><published>2008-03-18T07:31:00.000+07:00</published><updated>2008-03-18T07:38:27.938+07:00</updated><title type='text'>Assalamu'alaikum Wr.Wb</title><content type='html'>Alhamdulillah atas izin Allah SWT, sudah dibuka toko KERUDUNG KINAN di ITC Depok lantai 1 Blok B No 121. dekat Pintu masuk Parkir  P1. mudah2an Allah memberikan Rezeki yang Halal dan Thoyib dari  Pintu  usaha tersebut. sedangkan di sebelahnya ( no 120 ) sudah lebih dahulu  dibuka BAJU KINAN.. insyaallah disediakan baju-baju muslim yang mutunya bagus dengan harga yang  insyaallah lebih murah.&lt;br /&gt;    Di KERUDUNG KINAN disediakan kerudung instan merek Rabbani, El-Zoya, Kinan, dengan model-model terbaru.&lt;br /&gt;    Semoga Allah memberi Berkah untuk Qta semua, amien&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4254596231959459245-8989781386145418703?l=kerudungkinan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4254596231959459245/posts/default/8989781386145418703'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4254596231959459245/posts/default/8989781386145418703'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kerudungkinan.blogspot.com/2008/03/assalamualaikum-wrwb.html' title='Assalamu&apos;alaikum Wr.Wb'/><author><name>kerudung kinan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4254596231959459245.post-4036196873891911206</id><published>2007-05-23T14:06:00.001+07:00</published><updated>2008-10-13T14:37:23.281+07:00</updated><title type='text'>KOLEKSI KERUDUNG</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_G2O7roN4gVs/SDZt91SWcGI/AAAAAAAAAJM/oqwG0V4wVCs/s1600-h/K-1.jpg"&gt;Mohon Maaf Untuk Koleksi Kerudung dapat melihat :&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://rabbani.co.id"&gt;rabbani&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kerudunglamara.com"&gt;zoya&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4254596231959459245-4036196873891911206?l=kerudungkinan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4254596231959459245/posts/default/4036196873891911206'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4254596231959459245/posts/default/4036196873891911206'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kerudungkinan.blogspot.com/2008/05/koleksi-kerudung.html' title='KOLEKSI KERUDUNG'/><author><name>kerudung kinan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4254596231959459245.post-6634841645003989561</id><published>2007-04-18T10:45:00.000+07:00</published><updated>2008-04-18T14:39:41.011+07:00</updated><title type='text'>Adab Berpakaian Bagi Muslimah</title><content type='html'>Penulis: Ustadz Aris Munandar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haruskah Hitam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait dengan warna pakaian terutama pakaian perempuan, terdapat beragam sikap orang yang dapat kita jumpai. Ada yang beranggapan bahwa warna pakaian seorang perempuan muslimah itu harus hitam atau minimal warna yang cenderung gelap. Di sisi lain ada yang memiliki pandangan bahwa perempuan bebas memilih warna dan motif apa saja yang dia sukai. Sesungguhnya Allah itu maha indah dan mencintai keindahan, kata mereka beralasan. Manakah yang benar dari pendapat-pendapat ini jika ditimbang dengan aturan al-Qur’an dan sunnah shahihah yang merupakan suluh kita untuk menentukan pilihan dari berbagai pendapat yang kita jumpai? &lt;span class="”fullpost”"&gt;&lt;br /&gt;Salah satu persyaratan pakaian muslimah yang syar’i adalah pakaian tersebut bukanlah perhiasan. Dalam syarat ini adalah firman Allah yang artinya, “Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (QS. an Nur:31). Dengan redaksinya yang umum ayat ini mencakup larangan menggunakan pakaian luar jika pakaian tersebut berstatus “perhiasan” yang menarik pandangan laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن فَضَالَةُ بْنُ عُبَيْدٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ ثَلَاثَةٌ لَا تَسْأَلْ عَنْهُمْ رَجُلٌ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ وَعَصَى إِمَامَهُ وَمَاتَ عَاصِيًا وَأَمَةٌ أَوْ عَبْدٌ أَبَقَ فَمَاتَ وَامْرَأَةٌ غَابَ عَنْهَا زَوْجُهَا قَدْ كَفَاهَا مُؤْنَةَ الدُّنْيَا فَتَبَرَّجَتْ بَعْدَهُ فَلَا تَسْأَلْ عَنْهُمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Fadhalah bin Ubaid, dari Nabi beliau bersabda, “Tiga jenis orang yang tidak perlu kau tanyakan (karena mereka adalah orang-orang yang binasa). Yang pertama adalah orang yang meninggalkan jamaah kaum muslimin yang dipimpin oleh seorang muslim yang memiliki kekuasaan yang sah dan memilih untuk mendurhakai penguasa tersebut sehingga meninggal dalam kondisi durhaka kepada penguasanya. Yang kedua adalah budak laki-laki atau perempuan yang kabur dari tuannya dan meninggal dalam keadaan demikian. Yang ketiga adalah seorang perempuan yang ditinggal pergi oleh suaminya padahal suaminya telah memenuhi segala kebutuhan duniawinya lalu ia bertabarruj setelah kepergian sang suami. Jangan pernah bertanya tentang mereka.” (HR Ahmad no 22817 dll, shahih. Lihat Fiqh Sunnah lin Nisa’, hal 387) &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4254596231959459245-6634841645003989561?l=kerudungkinan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4254596231959459245/posts/default/6634841645003989561'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4254596231959459245/posts/default/6634841645003989561'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kerudungkinan.blogspot.com/2008/04/adad-berpakaian-bagi-muslimah.html' title='Adab Berpakaian Bagi Muslimah'/><author><name>kerudung kinan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4254596231959459245.post-7525864377797766330</id><published>2007-04-18T06:50:00.014+07:00</published><updated>2008-10-14T08:13:40.067+07:00</updated><title type='text'>KERJASAMA</title><content type='html'>Assalamualikum Wr.Wb&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baju kinan adalah "brand" baju muslim yang diproduksi dengan konsep "everlasting styles".&lt;br /&gt;Diproduksi dengan model dan kualitas baik, serta jumlah produksi setiap model terbatas, dengan harga jual insyaallah lebih murah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membutuhkan Kerjasama untuk Toko Kinan dan Re-Seller Seluruh Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilustrasi Umum Kerjasama Toko Kinan:&lt;br /&gt;- Mitra disarankan memiliki Toko dengan interior menarik.&lt;br /&gt;- Kerjasama minimal untuk 1 tahun.&lt;br /&gt;- Setiap model terbaru akan dikirimkan segera.&lt;br /&gt;- Diskon 30 % selama kerjasama.&lt;br /&gt;- Pembelian Pertama Minimal Rp 15 juta setelah diskon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilustrasi Re Seller Kinan.&lt;br /&gt;- menjual sesuai harga label&lt;br /&gt;- Diskon 25% minimal belanja Rp. 1.000.000,- setelah diskon&lt;br /&gt;&lt;span class="”fullpost”"&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan belanja :&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;- Barang dapat ditukar /retur max 1 bulan.&lt;br /&gt;- barang retur tdk diperhitungkan sebagai belanja&lt;br /&gt;- Disediakan paper bag.&lt;br /&gt;- Ongkos kirim sesuai lokasi.&lt;br /&gt;- Tidak tersedia katalog&lt;br /&gt;- Model dan harga dapat melihat &lt;a href="http://s280.photobucket.com/albums/kk195/kerudungkinan/BAJU%20KINAN/"&gt;koleksi baju Kinan&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;span class="”fullpost”"&gt;- Pembayaran melalui bank BCA, Mandiri, Muamalat,BNI Syariah,BRI&lt;br /&gt;- untuk informasi telp/sms 08197877634 atau YM!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wa'alaikumsalam Wr.Wb&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KINAN&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4254596231959459245-7525864377797766330?l=kerudungkinan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4254596231959459245/posts/default/7525864377797766330'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4254596231959459245/posts/default/7525864377797766330'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kerudungkinan.blogspot.com/2008/04/re-seller-kina.html' title='KERJASAMA'/><author><name>kerudung kinan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4254596231959459245.post-65561675247256184</id><published>2005-04-17T13:50:00.000+07:00</published><updated>2008-04-17T14:02:22.956+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>TENTANG KAMI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ITC Depok Lantai 1 Blok B No.120-121 telp 021-68409513&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerudung Kinan menjual berbagai kerudung dengan kualitas baik dan harga isnyaallah lebih murah.&lt;br /&gt;Menjual kerudung instan merek rabbani,zoya dan Kinan, tersedia juga kerudung segiempat dengan model yang bagus&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4254596231959459245-65561675247256184?l=kerudungkinan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4254596231959459245/posts/default/65561675247256184'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4254596231959459245/posts/default/65561675247256184'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kerudungkinan.blogspot.com/2008/04/itc-depok-lantai-1-blok-b-no.html' title=''/><author><name>kerudung kinan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry></feed>
